Siapa orang Indonesia yang belum pernah makan bakpao? Roti kukus yang satu ini sudah lama menjadi jajanan favorit banyak orang di sini. Asalnya memang dari Tiongkok, namun kini kehadirannya terasa begitu lokal, dari gerobak penjual keliling hingga etalase toko roti modern.

Di balik bentuknya yang sederhana, bakpao menyimpan sejarah panjang, legenda yang cukup dramatis, serta jejak bahasa yang menarik untuk ditelusuri. Artikel ini membahas semuanya, mulai dari asal usul namanya, perbedaannya dengan jenis roti kukus lain, hingga bagaimana ia beradaptasi di Indonesia.

Asal Usul Nama Bakpao

Dalam bahasa Mandarin, makanan ini disebut 包子 (bāozi). Lalu dari mana penyebutan bakpao yang kita kenal berasal?

Jawabannya, seperti banyak istilah kuliner Tionghoa di Indonesia, terletak pada dialek Hokkien. Kata bakpao berasal dari 肉包 (bah-pau), di mana 肉 berarti daging dan 包 berarti bungkus atau membungkus. Jadi secara harfiah, bakpao berarti bungkusan berisi daging.

Suku kata “bak” inilah yang juga muncul pada bakso, bakmi, dan bakcang. Semuanya membawa karakter yang sama, yaitu daging. Dalam bahasa Mandarin standar karakter tersebut dibaca ròu, bunyi yang terdengar cukup jauh dari “bak”. Perbedaan ini terjadi karena istilah kuliner Tionghoa di Indonesia sebagian besar diserap melalui Hokkien, bukan melalui Mandarin standar.

Ada satu hal yang menarik di sini. Secara harfiah bakpao berarti bungkusan daging, tetapi di Indonesia kata ini dipakai untuk semua jenis isian, termasuk kacang hijau, cokelat, bahkan keju. Nama yang awalnya sangat spesifik akhirnya menjadi sebutan umum. Pergeseran semacam ini lumrah terjadi pada kata serapan.

Pola penyerapan serupa dapat Anda temukan pula pada artikel tentang bacang dan asal usul namanya.

Bakpao, Baozi, dan Mantou, Apa Bedanya?

Bagi yang mulai belajar bahasa Mandarin, ketiga istilah ini kerap membingungkan. Padahal perbedaannya cukup mendasar, dan memahaminya membantu Anda tidak salah memesan saat berada di Tiongkok.

Istilah Aksara dan Pinyin Keterangan
Baozi 包子 (bāozi) Roti kukus berisi, baik isian gurih maupun manis
Mantou 馒头 (mántou) Roti kukus polos tanpa isian
Bakpao 肉包 (bah-pau) Serapan Hokkien, di Indonesia dipakai untuk semua isian

Jadi bila Anda memesan mantou di Tiongkok dengan harapan mendapat roti berisi daging, kemungkinan besar yang datang adalah roti kukus polos. Mantou biasanya disantap sebagai pendamping lauk, mirip fungsi nasi, bukan dimakan sendiri sebagai camilan.

Perlu dicatat, ada pengecualian menarik di kawasan sekitar Shanghai. Di sana kata mantou kadang masih dipakai untuk roti kukus berisi, mengikuti penggunaan yang lebih lama. Karena itu jangan heran bila menemukan xiaolongbao disebut xiaolong mantou di sebagian tempat.

Legenda Zhuge Liang dan Asal Muasalnya

Inilah bagian yang paling sering diceritakan, dan memang layak diceritakan karena kisahnya cukup dramatis. Namun ada satu hal yang perlu diluruskan agar tidak keliru dipahami.

Legenda ini berasal dari masa Tiga Kerajaan dan melibatkan Zhuge Liang, ahli strategi terkenal dari Kerajaan Shu. Kisahnya dicatat dalam sumber tertulis sejak masa Dinasti Song.

Ceritanya, dalam perjalanan pulang dari kampanye militer di wilayah selatan, pasukan Zhuge Liang terhalang sungai yang arusnya deras dan sulit diseberangi. Menurut kepercayaan setempat, sungai tersebut hanya dapat dilalui setelah diberi persembahan berupa kepala manusia untuk menenangkan roh penunggunya.

Zhuge Liang menolak mengorbankan pasukannya. Sebagai gantinya, ia memerintahkan agar hewan ternak yang dibawa rombongan disembelih, lalu dagingnya dibungkus adonan tepung dan dibentuk menyerupai kepala manusia, yaitu bulat dengan alas datar. Roti-roti itulah yang kemudian dilemparkan ke sungai sebagai persembahan.

Setelah berhasil menyeberang, roti tersebut dinamai 蛮头 (mántóu) yang berarti kepala orang barbar. Seiring waktu penulisannya berubah menjadi 馒头 dengan bunyi yang sama namun tanpa muatan makna yang mengerikan.

Di sinilah letak koreksinya. Legenda tersebut sesungguhnya merupakan kisah asal usul mantou, bukan baozi. Istilah baozi sendiri baru muncul pada masa Dinasti Song, berabad-abad setelah peristiwa dalam legenda itu.

Meski begitu, legenda ini tetap relevan bagi bakpao. Alasannya sederhana, roti dalam kisah tersebut digambarkan berisi daging. Pada masa itu, kata mantou memang mencakup roti kukus berisi maupun tanpa isi. Pemisahan makna baru terjadi kemudian, ketika istilah baozi diperkenalkan khusus untuk yang berisi.

Dengan kata lain, mantou dan baozi berasal dari akar yang sama. Kalau ditelusuri jauh ke belakang, bakpao yang Anda makan hari ini dan mantou polos di meja makan orang Tiongkok sebenarnya bersaudara.

Sosok Zhuge Liang sendiri dibahas lebih lengkap pada artikel tentang Samkok dan kisah Tiga Kerajaan, termasuk bagian mana dari kisahnya yang tercatat sejarah dan mana yang berkembang sebagai cerita rakyat.

Perjalanan Panjang Sebuah Roti Kukus

Terlepas dari legendanya, makanan berbahan tepung yang dikukus sudah dikenal di Tiongkok utara sejak masa yang sangat awal. Gandum memang menjadi bahan pokok di wilayah utara, berbeda dari selatan yang lebih bertumpu pada beras.

Bentuk dan sebutannya terus berubah selama berabad-abad. Baru pada masa Dinasti Qing istilahnya mengendap seperti yang kita kenal sekarang, yaitu baozi untuk yang berisi dan mantou untuk yang polos.

Ada satu hal yang jarang diketahui. Kata mantou ternyata berkerabat dengan manti dan mantı, sejenis pangsit berisi yang dikenal dalam masakan Turki dan Asia Tengah. Sebagian ahli menduga istilah ini menyebar melalui jalur perdagangan darat, meski arah penyebarannya masih diperdebatkan.

Penyebaran ke berbagai penjuru Asia juga terjadi pada masa Dinasti Yuan, ketika kekuasaan Mongol membentang luas dan mobilitas antarwilayah meningkat. Periode tersebut dibahas pada artikel tentang Kubilai Khan dan Dinasti Yuan.

Filosofi di Balik Bentuk dan Isian

Bakpao dengan bentuk bulat yang melambangkan kesatuan dan keberuntungan

Bentuk bulat bakpao bukan sekadar soal kepraktisan. Dalam budaya Tiongkok, lingkaran melambangkan kesatuan, keutuhan, dan keberuntungan yang tidak terputus. Bentuk tanpa ujung ini dimaknai sebagai harapan agar hubungan dan rezeki terus berlanjut.

Karena itu bakpao kerap hadir pada momen penting seperti perayaan Imlek maupun pernikahan. Tradisi Imlek beserta makna hidangan yang menyertainya dibahas pada artikel tentang tradisi dan makna Imlek.

Isiannya pun membawa maknanya sendiri.

Isian daging melambangkan kelimpahan dan kemakmuran. Dalam banyak masyarakat tradisional, daging merupakan bahan yang tidak dikonsumsi setiap hari, sehingga kehadirannya menandakan kecukupan.

Kacang merah memiliki kedudukan khusus. Dalam tradisi sastra Tiongkok, kacang merah atau 红豆 (hóngdòu) dikaitkan dengan kerinduan dan cinta, berkat sebuah puisi klasik yang sangat terkenal. Karena itu bakpao berisi kacang merah kerap disajikan dalam perayaan pernikahan di sejumlah daerah.

Pasta teratai melambangkan kemurnian. Perlu diluruskan, pasta ini dibuat dari biji teratai yang direbus lalu dihaluskan, bukan dari bunganya. Teratai sendiri dimaknai sebagai lambang kesucian karena tumbuh dari lumpur namun bunganya tetap bersih.

Bakpao dalam Keseharian di Tiongkok

Di Tiongkok, bakpao bukan makanan istimewa yang hanya muncul pada perayaan. Justru sebaliknya, ia termasuk makanan paling sehari-hari yang bisa Anda temui.

Pagi hari adalah waktu utamanya. Di berbagai kota, penjual bakpao mulai membuka lapak sejak subuh, dan uap yang mengepul dari tumpukan kukusan bambu menjadi pemandangan yang khas. Banyak pekerja membelinya sebagai sarapan cepat dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Tempat menjualnya pun beragam. Ada kios kecil di gang perumahan, gerai di stasiun kereta, jaringan toko sarapan, hingga restoran dimsum yang menyajikannya dalam porsi lebih kecil dan rapi. Bakpao kukus memang termasuk salah satu sajian yang lazim hadir dalam rangkaian dimsum, seperti diulas pada artikel tentang dimsum, makanan khas Tiongkok yang terkenal di Indonesia.

Salah satu varian yang paling dikenal adalah char siu bao, yaitu bakpao berisi daging panggang berbumbu manis, yang menjadi sajian wajib di banyak rumah makan dimsum.

Dari sisi kepraktisan, bakpao memang unggul. Teksturnya lembut, mengenyangkan, dan mudah dibawa. Namun karena kadar airnya cukup tinggi, daya simpannya lebih pendek dibanding roti panggang kering. Bila tidak langsung disantap, sebaiknya disimpan dalam pendingin.

Bakpao di Indonesia

Perjalanan bakpao di Indonesia memperlihatkan bagaimana sebuah makanan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Penyesuaian paling mendasar terjadi pada isiannya. Versi aslinya banyak menggunakan daging babi, sementara di Indonesia yang paling umum dijumpai adalah isian ayam. Penyesuaian ini membuat bakpao dapat dinikmati jauh lebih luas oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Isian kacang hijau juga sangat populer dan bagi sebagian orang justru lebih identik dengan bakpao dibanding isian daging. Cara pengolahannya sederhana, yaitu direbus hingga lunak, dihaluskan, lalu dicampur gula. Pilihan ini cocok bagi yang menghindari protein hewani.

Selain keduanya, berkembang pula varian lain yang menyesuaikan selera lokal.

  • Kacang merah, dengan pengolahan mirip kacang hijau namun rasanya lebih pekat
  • Cokelat, yang paling disukai anak-anak
  • Keju, perpaduan gurih dan manis yang khas selera Indonesia
  • Kelapa dan gula merah, mengikuti cita rasa jajanan tradisional setempat

Menariknya, sebagian penjual di Indonesia memberi tanda warna pada permukaan bakpao untuk membedakan isiannya, sesuatu yang tidak lazim dijumpai di Tiongkok. Ini contoh kecil bagaimana sebuah tradisi kuliner berkembang mengikuti kebutuhan setempat.

Bakpao kini dapat ditemui hampir di mana saja, dari gerobak keliling sore hari, pasar tradisional, warung kopi, hingga toko roti modern. Perjalanan serupa juga dialami hidangan Tionghoa lain, seperti yang dibahas pada artikel tentang siomay dan adaptasinya di Indonesia.

Tips Menyimpan dan Menghangatkan

Karena kadar airnya tinggi, bakpao memang lebih cepat basi dibanding roti panggang. Berikut beberapa hal yang membantu.

Simpan dalam keadaan dingin. Biarkan bakpao mencapai suhu ruang sebelum dimasukkan ke pendingin. Menyimpannya selagi panas justru menghasilkan embun yang membuat permukaannya lembap dan cepat rusak.

Hangatkan kembali dengan dikukus. Inilah cara terbaik mengembalikan teksturnya. Menghangatkan dengan oven atau wajan cenderung membuat permukaannya kering dan keras.

Bila menggunakan microwave, tutupi dengan kain lembap agar uapnya terjaga. Memanaskannya langsung tanpa penutup akan membuat teksturnya menjadi alot.

Untuk penyimpanan lebih lama, bakpao dapat dibekukan. Saat hendak disantap, kukus langsung dalam keadaan beku tanpa perlu dicairkan lebih dulu, dengan waktu pengukusan sedikit lebih lama.

Kosakata Mandarin Seputar Bakpao

Bagi Anda yang sedang belajar bahasa Mandarin, berikut sejumlah istilah yang berguna saat memesan.

  • 包子 (bāozi) roti kukus berisi
  • 馒头 (mántou) roti kukus polos
  • 肉包 (ròubāo) bakpao isi daging
  • 豆沙包 (dòushābāo) bakpao isi pasta kacang
  • 蒸 (zhēng) kukus
  • 一个 (yí ge) satu buah

Menguasai sedikit istilah semacam ini membuat pengalaman bersantap terasa berbeda, sekaligus menjadi cara yang menyenangkan untuk menambah kosakata. Ragam kuliner Tiongkok lainnya dapat Anda simak pada artikel tentang jenis makanan di China yang populer.

Pertanyaan Seputar Bakpao

Apa arti kata bakpao?

Bakpao berasal dari dialek Hokkien, dari kata yang berarti bungkusan berisi daging. Suku kata “bak” merujuk pada daging, karakter yang sama dengan yang muncul pada bakso, bakmi, dan bakcang. Dalam bahasa Mandarin standar, makanan ini disebut baozi.

Apa bedanya bakpao dan mantou?

Bakpao atau baozi adalah roti kukus yang berisi, sementara mantou adalah roti kukus polos tanpa isian. Mantou umumnya disantap sebagai pendamping lauk, mirip fungsi nasi, bukan sebagai camilan tersendiri. Keduanya sebenarnya berasal dari akar yang sama, dan pemisahan maknanya baru terjadi sekitar masa Dinasti Song.

Benarkah bakpao diciptakan Zhuge Liang?

Legenda tersebut memang dikenal luas, namun yang diceritakan sebenarnya adalah asal usul mantou, bukan baozi. Meski begitu legendanya tetap berkaitan, karena roti dalam kisah itu digambarkan berisi daging, dan pada masa tersebut istilah mantou memang mencakup roti kukus berisi maupun polos.

Apakah bakpao selalu berisi daging babi?

Tidak. Meski namanya secara harfiah berarti bungkusan daging, isiannya sangat beragam. Di Indonesia, isian yang paling umum justru daging ayam dan kacang hijau, disusul kacang merah, cokelat, dan keju. Bila Anda membeli dari penjual tertentu, sebaiknya pastikan terlebih dahulu jenis isian yang digunakan.

Bagaimana cara menghangatkan bakpao yang sudah dingin?

Cara terbaik adalah dikukus kembali, karena metode ini mengembalikan kelembutan teksturnya. Bila menggunakan microwave, tutupi dengan kain lembap agar tidak menjadi alot. Hindari menghangatkannya dengan oven kering karena permukaannya akan mengeras.

Mengapa bakpao cepat basi?

Karena kadar airnya cukup tinggi akibat proses pengukusan, berbeda dari roti panggang yang lebih kering. Untuk memperpanjang daya simpan, dinginkan hingga suhu ruang lalu simpan dalam pendingin, atau bekukan bila hendak disimpan lebih lama.

Menelusuri Budaya Lewat Bahasanya

Bakpao menjadi contoh kecil namun jelas tentang bagaimana bahasa, sejarah, dan makanan saling terkait. Dari satu nama saja, kita menemukan jejak dialek Hokkien, karakter Mandarin, legenda berusia hampir dua ribu tahun, hingga kerabat jauhnya di Asia Tengah.

Bagi pembelajar bahasa Mandarin, konteks semacam ini membuat kosakata jauh lebih mudah diingat, karena kata tidak lagi berdiri sendiri melainkan melekat pada cerita.

Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia menyediakan kursus bahasa Mandarin yang memadukan pembelajaran bahasa dengan pengenalan budaya di baliknya, sehingga proses belajar terasa lebih hidup dan bermakna.


Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 28 September 2026. Artikel ini membahas bakpao, mencakup asal usul namanya dari dialek Hokkien, perbedaannya dengan baozi dan mantou, legenda Zhuge Liang beserta kaitannya dengan asal usul mantou, filosofi bentuk dan isian, kedudukannya dalam keseharian masyarakat Tiongkok, ragam variannya di Indonesia, serta cara menyimpan dan menghangatkannya. Sebagian catatan sejarah kuliner memiliki versi yang berbeda antarsumber.