Setiap daerah memiliki kekhasannya sendiri, dan tidak jarang justru dari kekhasan itulah sebuah tempat dikenal luas. Begitu pula dengan Tiongkok, yang di antaranya dikenal lewat keragaman kulinernya. Salah satu hidangan yang paling sarat makna adalah bacang atau bakcang.

Bacang bukan sekadar makanan. Di baliknya terdapat kisah sejarah berusia lebih dari dua ribu tahun, tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun, serta jejak bahasa yang menarik dan ternyata sangat dekat dengan keseharian kita di Indonesia.

Mengapa Disebut Bacang? Ini Asal Usul Namanya

Dalam bahasa Mandarin, hidangan ini disebut zòngzi (粽子). Namun di Indonesia kita mengenalnya sebagai bacang atau bakcang. Dari mana asal perbedaan penyebutan ini?

Jawabannya terletak pada dialek Hokkien, yang menjadi jalur masuk banyak istilah Tionghoa ke dalam bahasa Indonesia. Dalam Hokkien, hidangan berisi daging ini disebut bah-chàng (肉粽), yang secara harfiah berarti zongzi daging. Dari pelafalan inilah lahir kata bakcang, yang kemudian sering disingkat menjadi bacang.

Yang menarik, suku kata “bak” pada bakcang adalah karakter yang berarti daging. Karakter yang sama inilah yang muncul pada berbagai nama makanan yang sudah sangat akrab bagi kita, seperti bakso, bakmi, dan bakpao. Semuanya menandakan kehadiran daging di dalamnya.

Perlu dicatat, dalam bahasa Mandarin standar karakter tersebut dibaca ròu, sehingga bunyinya cukup jauh berbeda dari “bak”. Perbedaan ini terjadi karena istilah kuliner Tionghoa di Indonesia sebagian besar diserap melalui dialek Hokkien, bukan melalui bahasa Mandarin standar.

Sejarah Bacang dan Kisah Qu Yuan

Perlombaan perahu naga dalam Festival Duanwu yang berkaitan erat dengan tradisi bacang

Bacang berkaitan erat dengan Festival Duanwu (端午节, Duānwǔ Jié) atau yang lebih dikenal sebagai Festival Perahu Naga. Perayaan ini jatuh pada hari kelima bulan kelima dalam kalender lunar Tiongkok, yang umumnya bertepatan dengan bulan Juni pada kalender Masehi.

Kisah yang paling dikenal di balik festival ini adalah tentang Qu Yuan, seorang penyair sekaligus pejabat dari Negara Chu pada Periode Negara-Negara Berperang. Ia dikenal karena kesetiaannya pada negara serta penentangannya terhadap para pejabat yang korup.

Sikap tersebut membuatnya difitnah dan akhirnya diasingkan dari istana. Ketika ibu kota Chu jatuh ke tangan Negara Qin pada tahun 278 sebelum Masehi, Qu Yuan yang dirundung kesedihan mendalam mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, penduduk setempat yang sangat menghormatinya bergegas mendayung perahu untuk mencari jasadnya. Tradisi inilah yang diyakini menjadi cikal bakal lomba perahu naga.

Mereka juga melemparkan nasi yang dibungkus daun ke sungai, dengan harapan ikan-ikan memakan bungkusan tersebut dan tidak mengganggu jasad Qu Yuan. Dari kebiasaan inilah bacang lahir sebagai bentuk penghormatan.

Perlu diketahui, penelitian sejarah menunjukkan bahwa tradisi Duanwu sesungguhnya sudah ada sebelum masa Qu Yuan, berakar pada ritual menolak bala di bulan kelima yang secara tradisional dianggap sebagai bulan penuh wabah. Kisah Qu Yuan kemudian menyatu dan menjadi narasi yang paling melekat hingga kini. Pada tahun 2009, UNESCO menetapkan Festival Perahu Naga sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Selain menyantap bacang dan menggelar lomba perahu, tradisi Duanwu juga mencakup penggantungan daun mugwort dan calamus di pintu rumah serta pemakaian benang lima warna pada anak-anak, keduanya sebagai simbol penolak bala. Bagi Anda yang ingin menyaksikan langsung perayaannya, simak ulasan tentang rekomendasi tempat menonton Festival Dragon Boat.

Bahan dan Bentuk Bacang

Bacang dibuat dari beras ketan yang dibungkus daun, lalu dikukus atau direbus dalam waktu cukup lama hingga aroma daun meresap ke dalam ketannya. Aroma inilah yang menjadi ciri khas dan sulit digantikan bahan pembungkus lain.

Daun pembungkusnya bervariasi menurut daerah. Daun bambu paling umum digunakan, terutama di wilayah selatan, sementara di wilayah utara sebagian menggunakan daun buluh. Isiannya pun beragam, mulai dari daging, jamur, kacang merah, kurma, hingga biji teratai.

Bentuk bacang yang paling dikenal adalah limas segitiga, meski di beberapa daerah dijumpai pula bentuk kerucut maupun memanjang menyerupai bantal. Sebagian masyarakat memaknai bentuk bersudut ini sebagai lambang gunung yang membawa harapan keberuntungan, meski tafsir semacam ini lebih bersifat kepercayaan populer daripada aturan baku.

Variasi Bacang di Berbagai Wilayah

Meski bahan dasarnya sama, cita rasa bacang berbeda cukup jauh antardaerah. Berikut gambaran perbedaannya.

Wilayah Cita Rasa Isian Umum
Tiongkok Utara Cenderung manis Kacang merah, kurma merah, kadang tanpa isian
Tiongkok Selatan Cenderung gurih Daging, kuning telur asin, jamur, kacang
Indonesia Gurih manis, sebagian pedas Ayam atau sapi cincang, telur, jamur, bumbu kecap

Di wilayah utara Tiongkok, bacang umumnya bercita rasa manis dengan isian kacang merah atau kurma merah. Sebagian bahkan disajikan polos tanpa isian, lalu dinikmati dengan cocolan gula.

Sebaliknya, di wilayah selatan bacang cenderung gurih dengan isian yang lebih kaya, seperti daging berbumbu, kuning telur asin, jamur, dan kacang. Perbedaan ini kerap menjadi bahan perdebatan ringan yang menyenangkan di antara masyarakat Tiongkok sendiri, mirip dengan perdebatan soal makanan khas daerah di Indonesia.

Di Indonesia, bacang berkembang menyesuaikan selera setempat. Penambahan kecap manis memberi warna lebih gelap dan rasa yang lebih manis gurih, sementara sebagian penjual menyisipkan cabai untuk sentuhan pedas. Isian daging ayam dan sapi cincang juga banyak dijumpai, sehingga hidangan ini dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat Indonesia. Variasi serupa juga berkembang di Malaysia dan Singapura, mengikuti selera masing-masing.

Mengapa Disebut Kue Bacang?

Anda mungkin pernah bertanya-tanya mengapa banyak orang menyebutnya kue bacang, padahal bahan dasarnya bukan adonan tepung seperti kue pada umumnya.

Penyebutan ini kemungkinan besar merupakan bentuk penyesuaian bahasa. Dalam bahasa Indonesia, istilah kue kerap dipakai secara longgar untuk berbagai penganan berukuran kecil yang dinikmati di luar waktu makan utama, termasuk yang berbahan dasar beras ketan. Bentuk bacang yang dibungkus daun juga mengingatkan pada lemper dan arem-arem, yang sudah lazim disebut kue.

Secara kuliner, bacang lebih tepat dikategorikan sebagai hidangan berbahan dasar ketan. Namun penyebutan kue bacang telah begitu melekat dalam keseharian masyarakat Indonesia, dan ini justru menunjukkan bagaimana sebuah hidangan asing berhasil menyatu ke dalam budaya lokal.

Makna Kebersamaan di Balik Bacang

Selain nilai sejarahnya, bacang menyimpan makna sosial yang kuat. Proses membuatnya tergolong rumit dan memakan waktu, mulai dari merendam ketan, menyiapkan isian, melipat daun, mengikat, hingga merebusnya berjam-jam.

Justru karena rumit inilah, membuat bacang umumnya dikerjakan bersama-sama. Beberapa generasi dalam satu keluarga berkumpul, saling membantu, sambil bercerita. Anak-anak belajar melipat daun dari orang tua atau neneknya, dan dari situlah keterampilan sekaligus cerita di baliknya berpindah ke generasi berikutnya.

Banyak keluarga Tionghoa memiliki takaran bumbu yang khas dan diwariskan turun-temurun. Di sejumlah daerah, bacang juga disajikan sebagai persembahan untuk menghormati leluhur, menjadikannya penghubung antara generasi sekarang dengan masa lalu keluarga.

Kuliner sebagai Pintu Masuk Belajar Bahasa

Bacang menjadi contoh menarik bagaimana bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Dari satu nama makanan saja, kita menemukan jejak dialek Hokkien, karakter Mandarin, hingga kisah sejarah berusia lebih dari dua milenium.

Bagi pembelajar bahasa Mandarin, memahami latar belakang semacam ini membuat kosakata jauh lebih mudah diingat, karena kata tidak lagi berdiri sendiri melainkan melekat pada cerita. Jika Anda tertarik menjelajahi kuliner Tiongkok lainnya, simak ulasan tentang jenis makanan di China yang populer serta dimsum, makanan khas Tiongkok yang terkenal di Indonesia.

Untuk mengenal berbagai perayaan tradisional beserta kosakatanya, tersedia pula artikel tentang lima festival Tiongkok sekaligus belajar bahasanya.

Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia menyediakan kursus bahasa Mandarin yang memadukan pembelajaran bahasa dengan pengenalan budaya di baliknya, sehingga proses belajar terasa lebih hidup dan bermakna.

Pertanyaan Seputar Bacang

Apa perbedaan bacang dan bakcang?

Keduanya merujuk pada hidangan yang sama. Bakcang berasal dari istilah Hokkien bah-chàng yang berarti zongzi berisi daging, dan dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia sering disingkat menjadi bacang. Dalam bahasa Mandarin standar, hidangan ini disebut zongzi.

Kapan bacang biasanya disantap?

Bacang paling identik dengan Festival Duanwu atau Festival Perahu Naga, yang jatuh pada hari kelima bulan kelima kalender lunar dan umumnya bertepatan dengan bulan Juni. Namun di Indonesia, bacang tersedia sepanjang tahun dan banyak dijual sebagai penganan sehari-hari.

Apakah bacang selalu berisi daging babi?

Tidak selalu. Di Tiongkok bagian utara, banyak bacang justru bercita rasa manis dengan isian kacang merah atau kurma tanpa daging sama sekali. Di Indonesia, isian ayam dan sapi cincang sangat umum dijumpai, sehingga hidangan ini dapat dinikmati lebih luas. Jika Anda membeli dari penjual tertentu, sebaiknya pastikan terlebih dahulu jenis isian yang digunakan.

Mengapa bacang dibungkus daun?

Selain berfungsi sebagai pembungkus alami yang menjaga bentuk selama proses perebusan panjang, daun juga memberikan aroma khas yang meresap ke dalam ketan. Aroma inilah yang menjadi ciri utama bacang dan sulit digantikan oleh bahan pembungkus modern seperti plastik atau aluminium foil.


Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 23 Agustus 2026. Artikel ini membahas bacang atau zongzi sebagai hidangan tradisional Tiongkok, mencakup asal usul penamaannya dari dialek Hokkien, kisah Qu Yuan dan Festival Duanwu, bahan serta bentuknya, variasi cita rasa di wilayah utara dan selatan Tiongkok hingga Indonesia, serta makna kebersamaan dalam tradisi pembuatannya.