Saat ini, banyak orang mengenal dimsum. Salah satu hidangan khas Tiongkok ini sudah mendunia dan sangat populer di Indonesia. Dimsum telah menjadi salah satu jenis camilan berukuran kecil yang biasanya disajikan dalam berbagai acara dan keperluan. Kelezatannya yang khas serta ukurannya yang praktis membuat dimsum mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.
Meskipun berasal dari Tiongkok, dimsum kini telah berbaur dengan budaya dan cita rasa lokal Indonesia. Di balik kelezatannya, dimsum ternyata menyimpan sejarah panjang dan nilai budaya yang mendalam. Artikel ini akan membahas asal-usul, jenis-jenis, filosofi, hingga etika penyajian dimsum yang jarang diketahui.
Contents
Sejarah dan Asal-usul Dimsum
Sejarah dimsum berakar dari budaya Tiongkok. Kata “dimsum” berasal dari bahasa Kanton yang secara harfiah bermakna “menyentuh hati”. Dalam bahasa Mandarin, dimsum dikenal sebagai 点心 (diǎn xīn). Pada awal kehadirannya, dimsum menjadi makanan ringan bagi para pedagang yang berhenti di rumah teh di sepanjang Jalur Sutra.
Kemudian, dimsum melewati sejarah panjang dengan berbagai ritual penyajian yang khas. Dimsum pun mencerminkan banyak aspek budaya Tiongkok, mulai dari cara bersosialisasi hingga nilai-nilai kebersamaan. Salah satu aspek yang paling menonjol dari dimsum adalah makna kata dimsum itu sendiri, yaitu “menyentuh hati”, yang menggambarkan bagaimana makanan ini menghangatkan suasana dan mempererat hubungan antarmanusia.
Budaya Yum Cha yang Melekat pada Dimsum
Budaya yang sangat lekat dengan dimsum adalah budaya Yum Cha (饮茶, yǐn chá) atau minum teh. Hal ini terkait dengan keberadaan dimsum yang sering hadir sebagai sajian dalam tradisi minum teh. Dalam budaya Tiongkok, tradisi minum teh memiliki makna mendalam sebagai wujud penghormatan, kehangatan, dan kebersamaan.
Kombinasi minum teh dan makan dimsum berkembang menjadi satu tradisi yang sangat dijunjung di Tiongkok. Momen ini sering kali menjadi waktu yang tepat untuk berkumpulnya keluarga dan teman. Untuk memahami lebih dalam makna tradisi ini, baca artikel tentang tradisi minum teh dalam budaya Tiongkok.
Jenis-jenis Dimsum yang Populer
Dimsum memiliki banyak varian yang dikenal luas, baik di Tiongkok maupun di Indonesia. Berikut ringkasan beberapa jenis dimsum yang paling populer.
| Jenis Dimsum | Ciri Khas |
|---|---|
| Siomay (Shaomai) | Dibungkus kulit tipis terbuka di atas, isian daging dan udang |
| Hakau (Har Gow) | Kulit transparan kenyal dengan isian udang |
| Bakpao (Baozi) | Roti kukus lembut berisi daging atau kacang |
| Lumpia (Spring Roll) | Gulungan renyah dengan isian sayur atau daging |
| Ceker Ayam | Dimasak dengan bumbu khas hingga empuk |
Siomay
Siomay adalah salah satu jenis dimsum yang paling populer dan menjadi favorit banyak orang di Indonesia. Makanan yang dikukus ini termasuk dalam kategori camilan sehat karena mayoritas isiannya berupa daging sebagai sumber protein. Di Indonesia, siomay telah mengalami penyesuaian bahan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama penggunaan daging ayam sebagai pengganti daging babi. Untuk mengenal lebih dalam camilan ini, baca artikel tentang siomay, camilan sehat khas Tiongkok yang mendunia.
Hakau
Hakau merupakan salah satu jenis dimsum yang memiliki kulit tipis transparan dengan tekstur kenyal. Isiannya biasanya berupa udang yang memberikan cita rasa gurih dan segar. Keindahan hakau terletak pada kulitnya yang tembus pandang, sehingga isian udang di dalamnya terlihat menggugah selera.
Bakpao
Selain siomay dan hakau, ada juga pao atau yang lebih dikenal dengan nama bakpao. Inilah makanan khas Tiongkok berupa roti yang berisi isian daging atau kacang merah. Bakpao juga dimasak dengan cara dikukus sehingga tergolong sebagai makanan yang lebih sehat. Di Indonesia, ada banyak varian bakpao yang sudah disesuaikan dengan lidah masyarakat lokal, seperti isian daging ayam, kacang hijau, cokelat, dan keju. Untuk mengetahui sejarah dan filosofinya, baca artikel tentang sejarah dan filosofi bakpao dari Tiongkok hingga Indonesia.
Filosofi di Balik Penyajian Dimsum
Penyajian dimsum menyimpan makna tersendiri. Pada umumnya, penyajian makanan ini menggunakan wadah kukusan kecil yang terbuat dari bambu. Lalu, mengapa dimsum menggunakan wadah bambu?
Menjaga Tekstur dan Kualitas Makanan
Wadah bambu dapat menyerap kelembapan berlebih selama proses pengukusan. Hal ini mencegah tetesan air jatuh ke dimsum, sehingga teksturnya tetap terjaga dan tidak menjadi lembek. Dengan begitu, dimsum dapat dinikmati dengan kualitas terbaiknya.
Sentuhan Tradisional dan Ramah Lingkungan
Wadah bambu memberikan sentuhan tradisional yang khas, mencerminkan budaya Tiongkok yang menghormati estetika dalam penyajian makanan. Selain itu, bambu adalah bahan alami dan mudah terurai (biodegradable), sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan wadah logam atau plastik.
Simbol Penghormatan kepada Tamu
Dalam budaya Tiongkok, sentuhan estetika dalam penyajian makanan mencerminkan rasa hormat kepada tamu. Penyajian dimsum yang dijaga agar tetap hangat sehingga cita rasanya terjaga juga mencerminkan hal ini, yaitu menghormati para tamu agar mereka dapat merasakan kelezatan masakan dalam kondisi terbaik.
Etika dan Simbolisme dalam Menyantap Dimsum
Cara makan dimsum ternyata mengandung etika yang tinggi. Misalnya, saat mengambil dimsum, sebaiknya ambilkan terlebih dahulu untuk orang yang lebih tua atau senior sebagai bentuk tanda hormat. Kebiasaan ini mencerminkan nilai penghormatan kepada yang lebih tua yang sangat dijunjung dalam budaya Tiongkok.
Bentuk dari dimsum itu sendiri juga bisa mencerminkan nilai budaya Tiongkok. Misalnya, bentuk dimsum yang bulat melambangkan kesatuan dan kesejahteraan. Filosofi bentuk ini menggambarkan harapan akan keharmonisan dan keberuntungan yang tak terputus dalam kehidupan.
“Dimsum adalah contoh sempurna bagaimana makanan bisa menjadi sarana bersosialisasi. Kami sering mengajak mahasiswa memahami bahwa di balik satu wadah bambu dimsum, ada nilai penghormatan kepada yang lebih tua dan semangat kebersamaan. Memahami etika seperti ini sangat membantu mahasiswa kami saat berbaur dengan masyarakat maupun menjamu relasi di Tiongkok.”
— Veby Millian, CEO and Co-founder BRCC Indonesia
Dimsum yang Telah Berbaur dengan Cita Rasa Lokal
Meskipun berasal dari Tiongkok, saat ini dimsum telah berbaur dengan budaya dan cita rasa lokal Indonesia. Cita rasanya yang lezat serta citranya sebagai camilan yang sehat membuat makanan ini mudah diterima oleh masyarakat lokal. Tak hanya itu, momen berkumpul sambil menyantap dimsum juga mampu mempererat hubungan keluarga dan pertemanan.
Berbagai restoran dan gerai dimsum di Indonesia menyajikan makanan ini dengan penyesuaian cita rasa lokal, misalnya dengan menambahkan rasa pedas atau menggunakan bahan-bahan lokal. Penyesuaian ini membuat dimsum semakin sesuai dengan selera orang Indonesia dan menarik bagi berbagai kalangan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana kuliner Tiongkok mampu beradaptasi dan menyatu dengan budaya setempat. Untuk mengenal ragam kuliner Tiongkok lainnya yang mendunia, baca artikel tentang jenis makanan di China yang populer dan mendunia.
Pertanyaan Umum tentang Dimsum
Apa arti kata “dimsum” sebenarnya?
Kata “dimsum” berasal dari bahasa Kanton yang secara harfiah bermakna “menyentuh hati”. Dalam bahasa Mandarin, dimsum ditulis sebagai 点心 (diǎn xīn). Makna ini menggambarkan bagaimana dimsum bukan sekadar makanan pengisi perut, melainkan hidangan kecil yang menghangatkan suasana dan mempererat hubungan antarmanusia, terutama saat disantap bersama keluarga atau teman dalam tradisi minum teh.
Apakah semua dimsum dikukus?
Tidak semua. Meskipun mayoritas dimsum populer seperti siomay, hakau, dan bakpao dimasak dengan cara dikukus, ada juga jenis dimsum yang digoreng atau dipanggang. Contohnya adalah lumpia goreng (spring roll) yang renyah, atau beberapa jenis pastri panggang. Namun, metode kukus memang menjadi ciri khas yang membuat banyak dimsum tergolong sebagai camilan yang relatif lebih sehat karena tidak menggunakan banyak minyak.
Apakah ada dimsum halal di Indonesia?
Ya, banyak restoran dimsum di Indonesia kini menyediakan pilihan halal. Dimsum yang secara tradisional menggunakan daging babi telah disesuaikan dengan mengganti isian menggunakan daging ayam, udang, atau ikan agar dapat dinikmati oleh masyarakat Muslim. Untuk memastikan kehalalannya, sebaiknya periksa sertifikasi halal resmi atau tanyakan langsung kepada pihak restoran mengenai bahan yang digunakan.
Ditinjau oleh Tim Konten BRCC Indonesia, 3 Juli 2026. Artikel ini membahas dimsum sebagai hidangan khas Tiongkok, mulai dari sejarah, budaya yum cha, jenis-jenis populer, filosofi penyajian, hingga etika menyantapnya serta perkembangannya di Indonesia.