Toleransi mungkin terdengar lazim pada masa kini. Namun pada abad ke-13, sikap menghormati keyakinan yang berbeda sangat jarang dijumpai, terlebih pada diri seorang penakluk. Di sinilah Kubilai Khan menjadi sosok yang menarik untuk ditelaah.
Cucu dari Genghis Khan ini hidup pada rentang 1215 hingga 1294. Dalam bahasa Mandarin namanya ditulis 忽必烈 (Hūbìliè), sementara dalam tradisi Mongol ia dikenang dengan gelar kehormatan Setsen Khan yang berarti Khan yang Bijaksana.
Artikel ini menelusuri kebijakan toleransinya, perannya sebagai pendiri Dinasti Yuan, hingga satu peristiwa yang justru sangat berkaitan dengan sejarah Indonesia.
Toleran terhadap Keberagaman Agama
Lahir dan besar dalam tradisi Mongol yang militeristik, Kubilai memperoleh pendidikan yang membentuknya menjadi pemimpin militer tangguh. Pada masanya, penaklukan dan pemaksaan kehendak atas kelompok lain merupakan hal yang lumrah.
Namun setelah menerima tampuk kepemimpinan sebagai Khan pada 1260, ia menempuh pendekatan yang berbeda dalam menjalankan pemerintahan. Berbagai kepercayaan seperti Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, Islam, dan Kristen dibiarkan berkembang, dan pemeluknya bebas menjalankan ibadah masing-masing.
Ia bahkan membina hubungan dengan para pemuka agama dari berbagai latar dan memberikan sejumlah keistimewaan bagi lembaga keagamaan. Setidaknya ada tiga hal yang membentuk sikap tersebut.
Latar keyakinan pribadinya. Kubilai merupakan penganut Buddhisme dengan guru spiritual bernama Drogön Chögyal Phagpa, seorang tokoh Buddhis dari Tibet. Sang guru bukan hanya membimbingnya secara spiritual, tetapi juga menciptakan aksara Phags-pa yang sempat digunakan sebagai aksara resmi kekaisaran.
Pertimbangan politik. Kubilai memahami bahwa memerintah wilayah dengan penduduk yang begitu beragam menuntut pendekatan yang tidak memicu perlawanan. Membiarkan setiap kelompok menjalankan keyakinannya terbukti lebih efektif menjaga stabilitas dibanding memaksakan satu kepercayaan.
Pengaruh permaisurinya. Chabi, permaisuri dari suku Khongirad, dikenal cerdas dan berpandangan terbuka. Ia bukan sekadar pendamping, melainkan juga penasihat yang pandangannya kerap didengar dalam urusan negara dan keagamaan.
Pendiri Dinasti Yuan
Sebelum masa Kubilai, Kekaisaran Mongol telah menjadi kekuatan besar, namun daratan Tiongkok belum sepenuhnya berada di bawah kendali mereka. Dinasti Song masih berkuasa di wilayah selatan.
Pada 1271, Kubilai memproklamasikan berdirinya Dinasti Yuan (元朝) dengan ibu kota di Khanbaliq atau Dadu, yang kini menjadi Beijing. Langkah ini penting karena menandai perubahan mendasar, yaitu penguasa Mongol yang memposisikan diri sebagai kaisar Tiongkok, lengkap dengan nama dinasti bergaya Tionghoa.
Penaklukan Dinasti Song dituntaskan melalui rangkaian pertempuran panjang, berpuncak pada jatuhnya ibu kota Lin’an yang kini bernama Hangzhou pada 1276, dan berakhir sepenuhnya pada 1279.
Dengan demikian Kubilai menjadi penguasa tunggal Tiongkok, sekaligus Khan bagi bangsa Mongol. Ia memerintah hingga wafat pada 1294. Adapun Dinasti Yuan sendiri bertahan sekitar 97 tahun hingga 1368, ketika Zhu Yuanzhang mendirikan Dinasti Ming.
Ekspedisi ke Jawa dan Lahirnya Majapahit
Inilah bagian yang paling berkaitan langsung dengan sejarah Indonesia, namun jarang dibahas dalam artikel mengenai Kubilai Khan.
Kubilai mengirim utusan ke berbagai kerajaan untuk menuntut pengakuan dan upeti, termasuk ke Kerajaan Singhasari yang saat itu dipimpin Kertanegara. Tuntutan tersebut ditolak, dan menurut catatan sejarah utusan Mongol bahkan diperlakukan secara menghina.
Menanggapi hal itu, Kubilai mengirim armada besar ke Jawa yang tiba sekitar 1293. Namun ketika pasukan tersebut sampai, keadaan di Jawa telah berubah. Kertanegara sudah tewas akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kediri.
Di sinilah Raden Wijaya, menantu Kertanegara, memainkan siasat yang kemudian dikenang dalam sejarah. Ia bersekutu dengan pasukan Mongol untuk menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang berhasil dikalahkan, Raden Wijaya justru berbalik menyerang sekutunya sendiri.
Pasukan Mongol yang tidak menduga serangan itu terpaksa mundur ke kapal dan meninggalkan Jawa, mengingat musim angin untuk pelayaran pulang segera berakhir. Dari peristiwa inilah Kerajaan Majapahit berdiri, dengan Raden Wijaya sebagai penguasa pertamanya.
Menariknya, Majapahit yang lahir dari peristiwa tersebut justru bertahan jauh lebih lama dibanding Dinasti Yuan yang mengirim ekspedisinya. Kubilai sempat merencanakan ekspedisi balasan, namun ia wafat tidak lama kemudian sehingga rencana tersebut tidak pernah terwujud.
Ekspedisi ke Jawa bukan satu-satunya kegagalan militer pada masanya. Dua upaya penyerangan ke Jepang pada 1274 dan 1281 juga berakhir gagal, sebagian besar karena badai yang menghancurkan armadanya. Dalam tradisi Jepang, badai tersebut dikenang sebagai angin dewa atau kamikaze.
Marco Polo dan Ketenarannya di Barat
Salah satu alasan nama Kubilai Khan dikenal luas di dunia Barat adalah catatan perjalanan Marco Polo, pedagang asal Venesia yang menurut catatannya menghabiskan bertahun-tahun di istana Kubilai.
Melalui catatan tersebut, masyarakat Eropa memperoleh gambaran mengenai kemegahan Khanbaliq, sistem pos kekaisaran, hingga penggunaan uang kertas yang saat itu belum dikenal di Eropa.
Perlu dicatat, sebagian sejarawan mempertanyakan seberapa akurat catatan tersebut dan sejauh mana Marco Polo benar-benar terlibat dalam pemerintahan Kubilai. Meski demikian, pengaruh catatannya terhadap pandangan Eropa mengenai Asia tidak terbantahkan.
Mengapa Namanya Kalah Populer dari Sang Kakek
Meski dikenal karena kebijaksanaan dan keberhasilannya membangun pemerintahan, nama Kubilai Khan tetap kalah tersohor dibanding kakeknya, Genghis Khan.
Ada beberapa penjelasannya. Genghis Khan merupakan pendiri kekaisaran yang berhasil mempersatukan suku-suku Mongol dan melancarkan penaklukan hingga Asia Tengah dan Eropa Timur. Perluasan wilayah pada masanya berlangsung sangat cepat dan mengubah peta dunia.
Kekuatan militer Mongol pada era Genghis juga dikenal nyaris tak tertandingi, dengan kavaleri ringan dan busur komposit sebagai andalannya. Sementara pada masa Kubilai, tantangan yang dihadapi sudah berbeda, yaitu bagaimana memerintah wilayah yang telah ditaklukkan.
Perlu dipahami pula, pada masa Kubilai kekaisaran Mongol sudah terbagi menjadi beberapa kekhanan yang berjalan cukup mandiri. Kubilai memerintah langsung wilayah Yuan, sementara kedudukannya sebagai Khan Agung atas kekhanan lain lebih bersifat pengakuan.
Meski demikian, pencapaian Kubilai memiliki bobotnya sendiri. Menaklukkan wilayah adalah satu hal, sementara membangun sistem pemerintahan yang mampu menaungi penduduk dengan latar budaya dan kepercayaan yang sangat beragam adalah tantangan yang berbeda.
Pertanyaan Seputar Kubilai Khan
Siapa Kubilai Khan?
Kubilai Khan adalah cucu Genghis Khan yang hidup pada 1215 sampai 1294. Ia menjadi Khan pada 1260 dan mendirikan Dinasti Yuan pada 1271, menjadikannya penguasa Mongol pertama yang memerintah seluruh Tiongkok sebagai kaisar. Dalam tradisi Mongol ia dikenang dengan gelar Setsen Khan yang berarti Khan yang Bijaksana.
Apa hubungan Kubilai Khan dengan Majapahit?
Kubilai Khan mengirim ekspedisi militer ke Jawa sekitar 1293 sebagai tanggapan atas penolakan Kertanegara terhadap tuntutan upeti. Namun Raden Wijaya memanfaatkan kehadiran pasukan tersebut untuk mengalahkan Jayakatwang, lalu berbalik menyerang mereka. Dari peristiwa inilah Kerajaan Majapahit berdiri.
Mengapa Kubilai Khan dikenal toleran?
Ia membiarkan berbagai kepercayaan berkembang di wilayahnya dan membina hubungan dengan pemuka agama dari beragam latar. Sikap ini didorong oleh latar keyakinan pribadinya, pertimbangan politik untuk menjaga stabilitas wilayah yang penduduknya sangat beragam, serta pengaruh permaisurinya, Chabi.
Berapa lama Dinasti Yuan berkuasa?
Dinasti Yuan berdiri pada 1271 dan berakhir pada 1368, sehingga berlangsung sekitar 97 tahun dengan sebelas kaisar. Kubilai sendiri memerintah hingga wafat pada 1294. Dinasti ini kemudian digantikan Dinasti Ming yang didirikan Zhu Yuanzhang.
Menelusuri Sejarah Lewat Bahasanya
Kisah Kubilai Khan memperlihatkan bagaimana sejarah Tiongkok bersinggungan langsung dengan sejarah nusantara. Banyak catatan mengenai periode ini tersimpan dalam sumber berbahasa Mandarin, termasuk kronik resmi Dinasti Yuan yang turut merekam ekspedisi ke Jawa.
Memahami bahasa Mandarin membuka akses terhadap sumber semacam itu, sekaligus memperkaya pemahaman terhadap sejarah kawasan. Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia menyediakan kursus bahasa Mandarin yang memadukan pembelajaran bahasa dengan pengenalan budaya dan sejarah di baliknya.
Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 3 September 2026. Artikel ini membahas Kubilai Khan sebagai pendiri Dinasti Yuan, mencakup kebijakan toleransi beragama beserta faktor yang membentuknya, proses penaklukan Dinasti Song, ekspedisi ke Jawa yang berkaitan dengan berdirinya Majapahit, catatan perjalanan Marco Polo, serta perbandingan ketokohannya dengan Genghis Khan. Sebagian detail sejarah masa lampau memiliki versi yang berbeda antarsumber.