Imlek atau Sincia dikenal luas sebagai Tahun Baru Tiongkok, salah satu perayaan terpenting dalam budaya Tionghoa. Perayaan ini menandai pergantian tahun berdasarkan kalender lunar dan tergolong salah satu tradisi tertua yang masih dijalankan hingga kini.

Di balik kemeriahannya, Imlek menyimpan lapisan makna yang dalam, mulai dari dimensi spiritual, nilai kekeluargaan, hingga harapan akan tahun yang lebih baik. Artikel ini membahas sejarahnya, legenda di baliknya, tradisi utamanya, serta makna istilah-istilah yang sering kita ucapkan namun jarang benar-benar dipahami artinya.

Mengapa Disebut Imlek dan Sincia?

Menariknya, kedua istilah yang kita gunakan di Indonesia tidak berasal dari bahasa Mandarin standar, melainkan dari dialek Hokkien.

Imlek berasal dari 阴历 (im-le̍k), yang berarti kalender lunar atau penanggalan bulan. Jadi secara harfiah, kata Imlek sebenarnya merujuk pada sistem penanggalannya, bukan pada perayaannya.

Sincia berasal dari 新正 (sin-chiaⁿ), yang bermakna permulaan bulan pertama yang baru, merujuk langsung pada awal tahun.

Sementara dalam bahasa Mandarin standar, perayaan ini disebut 春节 (Chūnjié) atau Festival Musim Semi. Penamaan ini menegaskan kaitannya dengan pergantian musim dan dimulainya siklus tanam baru. Perlu diketahui, sebutan Chunjie sendiri baru dibakukan pada awal abad ke-20, setelah Tiongkok mengadopsi kalender Masehi untuk urusan administratif sehingga diperlukan pembeda antara tahun baru penanggalan internasional dan tahun baru tradisional.

Sejarah dan Asal Usul Imlek

Akar perayaan ini dapat ditelusuri hingga lebih dari tiga ribu tahun lalu, tepatnya pada masa Dinasti Shang. Pada masa itu, perayaan berkaitan erat dengan upacara penghormatan kepada dewa dan leluhur, sekaligus permohonan agar panen berikutnya melimpah.

Pada masa Dinasti Zhou yang berlangsung sekitar 1046 hingga 256 sebelum Masehi, perayaan ini berkembang menjadi tradisi tahunan yang lebih terstruktur, mencakup jamuan, doa, dan berbagai ritual. Meski demikian, kaitannya masih sangat erat dengan siklus pertanian dan pergantian musim.

Barulah pada masa Dinasti Han, sekitar 206 sebelum Masehi hingga 220 Masehi, perayaan ini memperoleh bentuknya sebagai perayaan tahun baru sebagaimana kita kenal sekarang. Hal ini seiring dengan digunakannya kalender lunar secara luas, yang menetapkan awal tahun berdasarkan siklus bulan. Karena itulah tanggal Imlek berpindah setiap tahunnya, umumnya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.

Legenda Nian, Kisah di Balik Warna Merah

Ada satu legenda yang menjelaskan mengapa Imlek identik dengan warna merah dan suara petasan, yaitu kisah tentang Nian (年).

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, Nian adalah makhluk buas yang setiap pergantian tahun turun dari pegunungan untuk mengganggu perkampungan. Penduduk hidup dalam ketakutan hingga akhirnya mereka menemukan tiga hal yang ditakuti makhluk tersebut, yaitu warna merah, suara keras, dan cahaya terang.

Sejak itu, penduduk menempelkan kertas merah di pintu, membunyikan petasan, dan menyalakan lampion untuk mengusirnya. Kebiasaan inilah yang diyakini menjadi asal mula tradisi Imlek yang kita kenal sekarang.

Menariknya, karakter 年 (nián) dalam bahasa Mandarin modern berarti tahun. Ucapan 过年 (guònián) yang berarti merayakan tahun baru secara harfiah dapat dimaknai sebagai melewati Nian, yaitu berhasil melalui makhluk tersebut. Jejak legenda ini masih tersimpan dalam bahasa sehari-hari hingga kini.

Imlek di Masa Modern

Perayaan Imlek sempat mengalami masa surut di Tiongkok. Selama Revolusi Kebudayaan yang berlangsung dari 1966 hingga 1976, sejumlah tradisi lama dibatasi pelaksanaannya. Namun sejak dekade 1980-an, pemerintah Tiongkok kembali menghidupkan tradisi ini, dan kini Imlek menjadi periode libur terpanjang sekaligus momen perpindahan penduduk terbesar di dunia, ketika jutaan orang pulang ke kampung halaman.

Di Indonesia, perjalanannya juga berliku. Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik dibatasi melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Ketentuan tersebut kemudian dicabut melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, sehingga perayaan Imlek dapat kembali digelar secara terbuka.

Selanjutnya, melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional yang mulai berlaku sejak tahun 2003. Sejak saat itu, perayaan Imlek menjadi bagian dari kalender nasional dan turut memperkaya keberagaman budaya Indonesia. Perpaduan budaya ini dibahas lebih jauh dalam artikel tentang budaya Chindo, perpaduan Chinese dan Indonesia.

Tradisi Utama Perayaan Imlek

Pemberian angpau berwarna merah dalam tradisi perayaan Imlek

Imlek bukan perayaan satu hari. Rangkaiannya berlangsung selama lima belas hari, dimulai dari malam sebelum tahun baru hingga ditutup oleh Festival Lampion. Berikut tradisi utamanya.

Bersih-Bersih Rumah

Menjelang Imlek, rumah dibersihkan secara menyeluruh sebagai simbol membuang nasib buruk dan energi negatif dari tahun sebelumnya, sekaligus menyiapkan tempat bagi keberuntungan yang baru.

Namun perhatikan waktunya. Pada hari Imlek sendiri, menyapu justru dihindari karena dianggap dapat menyapu keluar rezeki yang baru datang. Karena itu, seluruh kegiatan bersih-bersih sebaiknya dituntaskan sebelum hari perayaan tiba.

Dekorasi Serba Merah

Warna merah mendominasi seluruh perayaan karena dipercaya melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, sekaligus perlindungan dari hal buruk, sebagaimana dijelaskan dalam legenda Nian.

Dekorasi yang umum dijumpai meliputi lampion merah, seni potong kertas, serta 春联 (chūnlián), yaitu sepasang bait kaligrafi berisi harapan baik yang ditempelkan di kedua sisi pintu. Banyak rumah juga menempelkan karakter 福 (fú) yang berarti keberuntungan, sering kali sengaja dipasang terbalik. Alasannya cukup cerdik, karena kata terbalik dalam bahasa Mandarin berbunyi mirip dengan kata tiba, sehingga pemasangan terbalik dimaknai sebagai keberuntungan telah tiba.

Angpau

Tradisi yang paling dinanti, terutama oleh anak-anak, adalah pemberian angpau (红包, hóngbāo), yaitu amplop merah berisi uang. Umumnya angpau diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada anak-anak dan kerabat yang belum menikah.

Saat memberi dan menerima angpau, ucapan yang lazim disampaikan adalah 恭喜发财 (Gōngxǐ fācái). Perlu diluruskan, ucapan ini sering diterjemahkan secara longgar sebagai semoga bahagia. Arti sebenarnya lebih spesifik, yaitu selamat dan semoga memperoleh kemakmuran, karena bagian 发财 secara khusus merujuk pada rezeki dan kekayaan.

Ucapan lain yang juga umum digunakan adalah 新年快乐 (Xīnnián kuàilè) yang berarti selamat tahun baru, serta 万事如意 (Wànshì rúyì) yang bermakna semoga segala sesuatu berjalan sesuai harapan.

Makan Malam Bersama Keluarga

Puncak perayaan sesungguhnya terletak pada makan malam bersama di malam sebelum tahun baru. Momen ini menjadi alasan utama jutaan orang menempuh perjalanan jauh untuk pulang ke rumah.

Hidangan yang disajikan pun bukan pilihan acak, melainkan sarat makna yang umumnya berasal dari permainan bunyi kata dalam bahasa Mandarin.

  • Ikan (鱼, yú) berbunyi mirip dengan kata yang berarti berlebih, sehingga melambangkan harapan akan kelimpahan yang tersisa hingga tahun berikutnya. Karena itu ikan biasanya sengaja tidak dihabiskan.
  • Pangsit (饺子, jiǎozi) berbentuk menyerupai batangan emas kuno, sehingga dimaknai sebagai lambang kekayaan.
  • Kue keranjang (年糕, niángāo) mengandung karakter yang berbunyi sama dengan kata tinggi, sehingga melambangkan harapan agar kehidupan terus meningkat dari tahun ke tahun.
  • Mi panjang umur (长寿面) disajikan utuh tanpa dipotong sebagai simbol usia panjang.

Penjelasan lebih lengkap mengenai ragam kuliner Tiongkok dapat Anda simak pada artikel tentang jenis makanan di China yang populer.

Festival Lampion sebagai Penutup

Rangkaian Imlek berakhir pada hari kelima belas, yang ditandai dengan Festival Lampion. Pada malam tersebut, lampion dinyalakan, teka-teki digantungkan, dan tangyuan atau bola ketan disajikan sebagai lambang keutuhan keluarga. Rangkaian acaranya dibahas dalam artikel tentang rangkaian acara dalam Festival Lampion.

“Imlek selalu menjadi momen menarik untuk mengajar. Banyak siswa sudah hafal ucapan Gong Xi Fa Cai sejak kecil, tapi baru menyadari artinya setelah belajar karakternya satu per satu. Reaksi mereka biasanya sama, yaitu terkejut sekaligus senang. Dari situ mereka mulai paham bahwa banyak tradisi Tionghoa sebenarnya berakar pada permainan bunyi kata dalam bahasanya.”

Veby Millian, CEO and Co-founder BRCC Indonesia

Makna yang Terkandung dalam Perayaan

Lebih dari sekadar penanda pergantian tahun, Imlek menjadi momen refleksi, melepaskan hal-hal buruk dari tahun sebelumnya, dan menyiapkan diri menyambut harapan baru.

Perayaan ini juga mencerminkan konsep keseimbangan yin dan yang, tergambar dalam pergantian dari gelap ke terang serta dari masa lalu menuju masa depan. Namun di atas segalanya, makna terkuat Imlek terletak pada hubungan kekeluargaan. Semua rangkaian tradisinya, dari bersih-bersih hingga makan malam bersama, bermuara pada satu hal yang sama, yaitu berkumpulnya keluarga.

Pertanyaan Seputar Imlek

Apa arti sebenarnya Gong Xi Fa Cai?

Ucapan ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian pertama yang berarti selamat, dan bagian kedua yang berarti memperoleh kemakmuran atau kekayaan. Jadi maknanya kurang lebih adalah selamat dan semoga memperoleh banyak rezeki. Ucapan ini bukan berarti selamat tahun baru, yang dalam bahasa Mandarin diucapkan sebagai Xinnian kuaile.

Mengapa tanggal Imlek berubah setiap tahun?

Karena Imlek mengikuti kalender lunar yang berpatokan pada siklus bulan, bukan kalender Masehi yang berpatokan pada peredaran bumi mengelilingi matahari. Selisih panjang tahun di antara keduanya membuat tanggal Imlek bergeser setiap tahunnya, umumnya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.

Mengapa tidak boleh menyapu saat hari Imlek?

Dalam kepercayaan tradisional, menyapu pada hari Imlek dianggap dapat menyapu keluar rezeki dan keberuntungan yang baru datang. Karena itu kegiatan bersih-bersih dituntaskan sebelum hari perayaan. Beberapa pantangan lain yang juga dikenal antara lain menghindari memecahkan barang serta tidak menggunakan benda tajam pada hari tersebut.

Berapa lama perayaan Imlek berlangsung?

Rangkaiannya berlangsung selama lima belas hari, dimulai dari malam sebelum tahun baru dan ditutup dengan Festival Lampion pada hari kelima belas. Di Tiongkok, periode ini menjadi masa libur panjang, meski di Indonesia umumnya hanya hari pertamanya yang ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sejak kapan Imlek menjadi hari libur nasional di Indonesia?

Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 dan mulai berlaku sejak tahun 2003. Sebelumnya, pembatasan terhadap ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik telah dicabut melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.

Belajar Budaya Lewat Bahasanya

Banyak tradisi Imlek yang sesungguhnya berakar pada permainan bunyi dalam bahasa Mandarin, mulai dari ikan yang melambangkan kelimpahan hingga karakter keberuntungan yang sengaja dipasang terbalik. Tanpa memahami bahasanya, makna-makna ini mudah terlewat begitu saja.

Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia menyediakan kursus bahasa Mandarin yang memadukan pembelajaran bahasa dengan pengenalan budaya di baliknya. Untuk mengenal perayaan tradisional Tiongkok lainnya, tersedia pula artikel tentang lima festival Tiongkok sekaligus belajar bahasanya.


Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 23 Agustus 2026. Artikel ini membahas Imlek atau Tahun Baru Tiongkok, mencakup asal usul istilah Imlek dan Sincia dari dialek Hokkien, sejarahnya sejak Dinasti Shang hingga Dinasti Han, legenda Nian, perjalanan perayaan ini di Indonesia hingga ditetapkan sebagai hari libur nasional, serta tradisi utamanya beserta makna simbolik hidangan dan ucapan yang menyertainya.