Bahwa Sun Yat-sen adalah anak seorang petani mungkin belum banyak diketahui orang. Namun perannya sebagai tokoh pembaruan sekaligus penggerak revolusi di Tiongkok justru dikenal luas. Di sanalah letak keunikan sosok ini. Seorang dokter yang meninggalkan praktiknya, lalu memilih jalan revolusi untuk mengubah sistem monarki absolut yang telah berlangsung lebih dari dua ribu tahun.
Artikel ini menelusuri perjalanan hidup Sun Yat-sen, gagasan-gagasan yang ia wariskan, serta mengapa namanya tetap dihormati hingga kini di berbagai belahan dunia berbahasa Mandarin.
Siapa Sun Yat-sen?
Sun Yat-sen dikenal sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sejarah Tiongkok modern. Ia kerap disebut sebagai Bapak Republik Tiongkok karena perannya dalam proses berakhirnya kekuasaan Dinasti Qing dan lahirnya sistem republik.
Dalam bahasa Mandarin, ia lebih dikenal dengan nama Sun Zhongshan (孙中山), sementara nama Sun Yat-sen sendiri berasal dari pelafalan Kanton atas nama Sun Yixian (孙逸仙). Perbedaan penyebutan ini sering membingungkan pembelajar bahasa Mandarin, padahal keduanya merujuk pada orang yang sama. Nama Zhongshan inilah yang kemudian diabadikan menjadi nama jalan, taman, dan bahkan kota di berbagai wilayah Tiongkok.
Ia lahir pada 12 November 1866 di Provinsi Guangdong, tepatnya di sebuah desa di wilayah yang kini bernama Zhongshan. Ayahnya, Sun Dacheng, adalah seorang petani sederhana. Titik balik hidupnya terjadi ketika kakaknya, Sun Mei, yang telah merantau dan berdagang di Hawaii, membawanya ke sana untuk bersekolah.
Dari Hawaii, Sun Yat-sen melanjutkan pendidikan ke Hong Kong dan mendalami ilmu kedokteran hingga lulus sebagai dokter pada tahun 1892. Selama masa studinya inilah ia banyak bersentuhan dengan gagasan demokrasi dan pemikiran liberal Barat. Perjumpaan dengan ide-ide tersebut membentuk cara pandangnya yang jauh berbeda dari kebanyakan mahasiswa kedokteran pada zamannya.
Jalan Panjang Seorang Tokoh Perjuangan
Nama Sun Yat-sen mulai dikenal sebagai tokoh pergerakan pada tahun 1894, ketika ia mendirikan organisasi revolusioner pertamanya, Xingzhonghui (兴中会) atau Perhimpunan Kebangkitan Tiongkok, di Honolulu. Sebelas tahun kemudian, pada 1905 di Tokyo, ia mendirikan Tongmenghui (同盟会) atau Liga Persatuan, yang menyatukan berbagai kelompok revolusioner. Organisasi inilah yang kelak menjadi cikal bakal Kuomintang atau Partai Nasionalis Tiongkok.
Perjalanannya sama sekali tidak mulus. Berbagai upaya perlawanan terhadap Dinasti Qing berulang kali gagal, di antaranya Pemberontakan Guangzhou pada 1895 dan Pemberontakan Huizhou pada 1900. Kegagalan tersebut memaksanya hidup dalam pengasingan selama bertahun-tahun, berpindah dari Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa, sambil menggalang dukungan dan dana dari komunitas Tionghoa perantauan.
Menariknya, ketika Revolusi Xinhai meletus melalui Pemberontakan Wuchang pada Oktober 1911, Sun Yat-sen justru sedang berada di luar negeri. Ia mengetahui kabar tersebut dari pemberitaan surat kabar dan baru kembali ke Tiongkok pada akhir Desember 1911. Meski begitu, gagasan dan jaringan yang ia bangun selama bertahun-tahun menjadi fondasi yang memungkinkan revolusi itu terjadi.
| Tahun | Peristiwa Penting |
|---|---|
| 1866 | Lahir di Provinsi Guangdong |
| 1892 | Lulus sebagai dokter di Hong Kong |
| 1894 | Mendirikan Xingzhonghui di Honolulu |
| 1905 | Mendirikan Tongmenghui di Tokyo |
| 1911 | Revolusi Xinhai meletus melalui Pemberontakan Wuchang |
| 1912 | Republik Tiongkok berdiri, ia dilantik sebagai Presiden Sementara |
| 1925 | Wafat di Beijing pada 12 Maret |
Republik Tiongkok resmi berdiri pada 1 Januari 1912, menandai berakhirnya sistem kekaisaran yang telah bertahan lebih dari dua ribu tahun. Sun Yat-sen dilantik sebagai Presiden Sementara. Namun jabatan itu hanya ia pegang sekitar enam minggu. Demi menghindari perang saudara berkepanjangan dan memastikan Kaisar Qing benar-benar turun takhta, ia menyerahkan kursi kepresidenan kepada Yuan Shikai pada Februari 1912. Keputusan ini memperlihatkan bahwa bagi Sun Yat-sen, tujuan perjuangan lebih penting daripada kekuasaan pribadi.
Tiga Prinsip Rakyat, Inti Pemikiran Sun Yat-sen
Warisan pemikiran Sun Yat-sen yang paling dikenal adalah Tiga Prinsip Rakyat atau Sanmin Zhuyi (三民主义). Konsep ini menjadi kerangka dasar yang ia rancang untuk membangun Tiongkok modern, dan terdiri dari tiga pilar berikut.
Minzu (民族) atau Nasionalisme. Prinsip ini menekankan pembebasan Tiongkok dari dominasi asing sekaligus persatuan di antara berbagai kelompok etnis di dalam negeri. Bagi Sun Yat-sen, sebuah bangsa harus lebih dahulu berdaulat sebelum dapat membangun dirinya.
Minquan (民权) atau Kedaulatan Rakyat. Prinsip ini menyangkut hak rakyat untuk menentukan arah pemerintahan melalui sistem demokratis. Ia merancang gagasan pemisahan kekuasaan yang menggabungkan konsep Barat dengan tradisi administrasi Tiongkok, termasuk lembaga pengawasan dan lembaga ujian pegawai negeri.
Minsheng (民生) atau Kesejahteraan Rakyat. Prinsip ini berkaitan dengan pemerataan ekonomi, khususnya menyangkut kepemilikan tanah dan pengendalian modal. Inilah pilar yang paling banyak menyerap gagasan sosialis pada masanya.
Selain ketiga prinsip tersebut, Sun Yat-sen juga aktif mendorong pembangunan infrastruktur dan ekonomi. Ia bahkan menyusun rancangan pengembangan jaringan kereta api dan pelabuhan yang, pada masanya, dianggap terlalu ambisius. Menariknya, banyak dari gagasan itu baru terwujud puluhan tahun setelah ia wafat.
Pengaruh Pemikiran Barat dan Gagasan Sosialis
Sun Yat-sen adalah pemikir yang terbuka terhadap berbagai aliran gagasan. Pendidikan di Hawaii dan Hong Kong memperkenalkannya pada liberalisme dan demokrasi Barat, yang kemudian ia adaptasi agar sesuai dengan konteks masyarakat Tiongkok. Ia tidak menyalin mentah-mentah model Barat, melainkan meraciknya dengan nilai dan sistem administrasi tradisional Tiongkok.
Ada satu hal yang kerap disalahpahami, yaitu hubungan Sun Yat-sen dengan gagasan sosialis. Prinsip Kesejahteraan Rakyat memang mengandung unsur pemerataan yang beririsan dengan pemikiran sosialis, terutama gagasan pemerataan hak atas tanah. Namun perlu ditegaskan, Sun Yat-sen bukanlah seorang komunis.
Pada 1923, ia menjalin kerja sama dengan Uni Soviet dan membuka pintu bagi anggota Partai Komunis Tiongkok untuk bergabung ke dalam Kuomintang. Langkah yang dikenal sebagai Front Persatuan Pertama ini lebih bersifat taktis, yaitu memperoleh dukungan yang saat itu sulit ia dapatkan dari negara-negara Barat. Kerangka ideologisnya tetap bertumpu pada Tiga Prinsip Rakyat, bukan pada Marxisme.
Justru keterbukaan inilah yang membuat pemikirannya bertahan. Ia mengambil apa yang dinilainya bermanfaat dari berbagai sumber, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan bangsanya sendiri.
Warisan yang Melampaui Zamannya
Sun Yat-sen wafat pada 12 Maret 1925 di Beijing akibat penyakit kanker. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Nanjing, di lereng Gunung Zijin, dalam kompleks pemakaman megah yang hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah dan wisata sejarah paling penting di Tiongkok. Jika Anda tertarik dengan kota tempat ia dimakamkan, simak ulasan tentang jejak kejayaan kekaisaran di Nanjing.
Salah satu kalimat paling terkenal darinya tertulis dalam wasiat politiknya, yang hingga kini masih sering dikutip.
革命尚未成功,同志仍须努力
Gémìng shàngwèi chénggōng, tóngzhì réng xū nǔlì
Revolusi belum berhasil, para kawan seperjuangan masih harus terus berupaya.
Hal yang membuat sosok ini istimewa dalam sejarah Tiongkok modern adalah penghormatan yang ia terima secara luas, baik di Tiongkok daratan maupun di Taiwan. Di tengah berbagai perbedaan pandangan politik yang panjang, nama Sun Yat-sen tetap menjadi figur yang dihormati oleh kedua belah pihak. Posisi semacam ini sangat langka bagi seorang tokoh politik.
Nama dan gagasannya pun terus hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tiongkok, mulai dari Zhongshan Road yang ada di hampir setiap kota besar, taman-taman kota, universitas, hingga model jas Zhongshan yang di dunia internasional lebih dikenal sebagai Mao suit, padahal rancangannya diperkenalkan pada masa Sun Yat-sen.
Belajar Sejarah, Memahami Bahasa
Mengenal tokoh seperti Sun Yat-sen membuka pemahaman yang lebih dalam tentang Tiongkok modern. Nama jalan, istilah politik, hingga ungkapan yang masih digunakan sehari-hari sering kali berakar pada periode sejarah ini. Bagi pembelajar bahasa Mandarin, konteks semacam ini membuat kosakata terasa lebih hidup dan mudah diingat.
Melalui kursus bahasa Mandarin di BRCC Indonesia, pembelajaran bahasa tidak berhenti pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga mencakup pemahaman budaya dan sejarah yang melatarbelakanginya. Dengan begitu, kemampuan berbahasa yang Anda bangun terasa lebih utuh dan bermakna.
Pertanyaan Seputar Sun Yat-sen
Mengapa Sun Yat-sen disebut Bapak Republik Tiongkok?
Gelar tersebut diberikan karena perannya sebagai penggagas dan penggerak utama revolusi yang mengakhiri Dinasti Qing serta melahirkan sistem republik pada 1912. Meski ia tidak memimpin langsung pertempuran yang memicu Revolusi Xinhai, jaringan organisasi dan kerangka pemikiran yang ia bangun selama puluhan tahun menjadi fondasi bagi perubahan tersebut.
Apa perbedaan nama Sun Yat-sen dan Sun Zhongshan?
Keduanya merujuk pada orang yang sama. Sun Yat-sen adalah pelafalan Kanton dari nama Sun Yixian, dan nama inilah yang lebih dikenal di dunia internasional. Sementara di Tiongkok, ia umumnya disebut Sun Zhongshan (孙中山), nama yang berasal dari alias yang pernah ia gunakan saat berada di Jepang.
Apakah Sun Yat-sen seorang komunis?
Bukan. Kerangka pemikirannya bertumpu pada Tiga Prinsip Rakyat, bukan Marxisme. Ia memang menjalin kerja sama dengan Uni Soviet dan mengizinkan anggota Partai Komunis Tiongkok bergabung ke Kuomintang pada 1923, tetapi langkah tersebut bersifat taktis untuk memperoleh dukungan bagi perjuangannya.
Di mana makam Sun Yat-sen berada?
Makamnya berada di kompleks Sun Yat-sen Mausoleum atau Zhongshan Ling, di lereng Gunung Zijin, Nanjing. Kompleks ini terkenal dengan tangga panjangnya yang menanjak menuju ruang utama, dan menjadi salah satu situs sejarah yang paling banyak dikunjungi di Tiongkok.
Akhir Kata
Meski wafat sekitar satu abad lalu, warisan pemikiran Sun Yat-sen masih terasa relevansinya hingga kini. Ia memperlihatkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari gagasan yang pada masanya dianggap terlalu jauh dari kenyataan. Perjalanan hidupnya, dari anak seorang petani, menjadi dokter, lalu memilih jalan revolusi, menjadi pengingat bahwa arah hidup seseorang dapat berubah ketika ia melihat persoalan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 22 Agustus 2026. Artikel ini membahas riwayat hidup, perjuangan, dan warisan pemikiran Sun Yat-sen, mencakup latar belakang keluarga dan pendidikannya, pendirian Xingzhonghui dan Tongmenghui, peristiwa Revolusi Xinhai dan berdirinya Republik Tiongkok, konsep Tiga Prinsip Rakyat, serta penghormatan terhadap sosoknya hingga masa kini.

