Budaya Tiongkok di Indonesia biasanya berhenti di dua pintu masuk yang sama: dekorasi Imlek dan kuliner. Keduanya memang paling mudah dijangkau. Tapi di belakang dua pintu itu ada lapisan yang jauh lebih luas dan hampir tidak pernah disentuh langsung oleh publik, seni mengikat tali, seni potong kertas, kaligrafi kuas, sampai musik dan tarian yang punya garis sejarah ribuan tahun.

Itulah alasan BRCC Indonesia menempatkan acara budaya sebagai agenda rutin, bukan acara tahunan yang muncul sekali lalu hilang. Artikel ini mendokumentasikan dua agenda terdekat: Festival Kue Bulan (Yue Xia) yang sudah terlaksana pada Sabtu, 26 September 2026, dan Culture Day yang akan digelar pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Keduanya berlokasi di Kelenteng Tian Fu Gong, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Dokumentasi Festival Kue Bulan 26 September 2026 di Tian Fu Gong PIK

Acara berlangsung di halaman kelenteng pada sore hari, waktu yang dipilih bukan tanpa alasan. Perayaan Festival Kue Bulan secara tradisional memang bergerak dari sore ke malam, mengikuti naiknya bulan.

Tema yang dipakai adalah “Yue Xia” (月下), yang secara harfiah berarti “di bawah bulan”. Nama ini merujuk langsung pada inti perayaannya, bukan sekadar pilihan estetis.

Suasana Acara dan Penampilan Seni

Rangkaian acara dibuka dengan pertunjukan di halaman terbuka. Yang paling banyak menahan pengunjung adalah tari payung, tarian berkelompok yang memakai payung kertas sebagai properti utama dan mengandalkan keselarasan formasi.

Para penampil mengenakan qipao (旗袍, qípáo), busana perempuan Tionghoa yang bentuk modernnya berkembang di Shanghai pada dekade 1920-an. Detail seperti ini yang sulit didapat dari menonton video: potongan kain, kerah berdiri, dan sulaman motifnya baru terbaca jelas kalau dilihat dari jarak beberapa meter.

Sesi musik mengisi bagian tengah acara. Lagu-lagu Mandarin punya posisi khusus di perayaan ini, dan bagi yang sedang belajar bahasa, lirik lagu adalah salah satu pintu masuk paling ringan untuk membiasakan telinga dengan sistem nada Mandarin. Sudut ini kami bahas terpisah di refleksi budaya China dalam lagu Mandarin.

Booth Konsultasi Bahasa Mandarin dan Kuliah di China

Di sisi area acara, BRCC Indonesia membuka booth konsultasi. Sepanjang acara, pertanyaan yang masuk ternyata berkumpul di tiga hal yang sama: dari level mana sebaiknya mulai belajar Mandarin, apa saja syarat masuk universitas di China, dan sertifikat apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Untuk tiga pertanyaan itu, kami biasanya mengarahkan ke tiga bacaan: alasan kenapa harus belajar HSK, persyaratan masuk universitas di China, dan pengenalan tes CSCA sebagai standar baru untuk jalur sarjana.

Satu pola yang konsisten muncul di setiap acara budaya: anak-anak paling cepat terlibat. Mereka tidak ragu mencoba, tidak takut salah memegang kuas, dan tidak malu mengulang pelafalan sampai benar. Pola itu yang mendasari pendekatan di program bahasa Mandarin untuk anak-anak, yakni memperkenalkan budaya lebih dulu, struktur bahasa menyusul.

Galeri Foto Festival Kue Bulan

Pertunjukan tari payung tradisional Tiongkok di Festival Kue Bulan Tian Fu Gong PIK
Para penampil mengenakan qipao hijau di Festival Kue Bulan BRCC Indonesia

Dokumentasi Video

Rekaman suasana acara bisa dilihat lewat unggahan Instagram berikut.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by BRCC Indonesia (@brcc.indo)

Zhongqiu Jie: Apa yang Sebenarnya Dirayakan

Zhongqiu Jie (中秋节, Zhōngqiū Jié) berarti “festival pertengahan musim gugur”. Perayaan ini jatuh pada hari ke-15 bulan kedelapan kalender lunar, saat bulan berada pada titik paling penuh dan paling terang dalam setahun. Karena mengikuti kalender lunar, tanggalnya bergeser setiap tahun pada kalender Gregorian.

Di Tiongkok, perayaannya berdiri di atas tiga kebiasaan yang saling mengikat.

Berkumpul: Makna di Balik Bentuk Bulat

Bentuk bulat bulan penuh dibaca sebagai lambang keutuhan dan kebersamaan keluarga. Dari sini muncul kata tuanyuan (团圆, tuányuán), yang berarti “berkumpul kembali” dan secara harfiah mengandung makna “bundar utuh”.

Ini menjelaskan kenapa yuebing (月饼, kue bulan) dibuat bulat dan disajikan dengan cara dipotong lalu dibagi, bukan dimakan satu orang satu. Membagi satu kue ke seluruh anggota keluarga adalah bagian dari simbolnya, bukan sekadar soal porsi.

Memandang Bulan (赏月, Shǎng Yuè)

Tradisi shangyue adalah kegiatan duduk bersama di luar ruangan untuk memandang bulan. Terdengar sederhana, tapi kebiasaan ini punya jejak panjang dalam sastra Tiongkok klasik, dan menjadi salah satu tema puisi yang paling sering muncul sepanjang dinasti Tang dan Song.

Nama tema acara, “Yue Xia”, diambil dari tradisi ini.

Legenda Chang’e dan Kelinci Bulan

Cerita yang paling melekat pada perayaan ini adalah kisah Chang’e (嫦娥), yang menelan obat keabadian dan kemudian tinggal di bulan, terpisah dari suaminya, pemanah Hou Yi. Dari legenda ini juga lahir figur yutu (玉兔), kelinci jade yang menemaninya.

Perlu dicatat, kisah ini punya banyak versi yang saling berbeda, termasuk soal alasan Chang’e menelan obat tersebut. Beberapa versi menggambarkannya sebagai pengorbanan untuk mencegah obat itu jatuh ke tangan yang salah, versi lain menggambarkannya lebih ambigu. Perbedaan versi ini wajar untuk cerita rakyat yang beredar lisan selama ratusan tahun, dan bukan tanda satu versi lebih sahih dari yang lain.

Jejak Hokkien: Kenapa di Indonesia Disebut “Tiong Ciu”

Ada satu detail yang sering terlewat. Komunitas Tionghoa di Indonesia umumnya tidak menyebut perayaan ini “Zhongqiu”, melainkan Tiong Ciu.

Penyebabnya bukan kesalahan pengucapan, melainkan jalur migrasi. Mayoritas komunitas Tionghoa di Indonesia berakar dari wilayah Fujian dan Guangdong dengan bahasa Hokkien dan Hakka, bukan Mandarin. Karakter 中秋 yang dibaca “zhōngqiū” dalam Mandarin dibaca “tiong-chhiu” dalam Hokkien. Begitu masuk ke lidah Indonesia, bentuknya menjadi “Tiong Ciu”.

Pola yang sama berlaku pada banyak kosakata Tionghoa yang sudah menyerap ke bahasa Indonesia: bakpao, bacang, siomay, dan cap go meh semuanya masuk lewat jalur Hokkien, bukan Mandarin. Buat yang sedang belajar Mandarin, menyadari pola ini membantu, karena sebagian kata yang terasa sudah familiar sebenarnya punya bentuk Mandarin yang cukup berbeda dari versi yang biasa didengar di rumah.

Kami membahas jejak serupa di artikel bacang dan sejarah bakpao.

Culture Day 31 Oktober 2026: Daftar Sekarang

Kalau Festival Kue Bulan lebih banyak diisi pertunjukan, Culture Day dirancang partisipatif. Pengunjung tidak menonton, tetapi mengerjakan sendiri. Ada tiga aktivitas, semuanya dipandu dari nol dan tidak menuntut pengalaman sebelumnya.

  • Tali simpul Tiongkok (中国结, zhōngguó jié). Mengikat satu utas tali tunggal menjadi pola simetris, tanpa potongan dan tanpa lem. Karakter 结 (jié) berarti “simpul” sekaligus berdekatan bunyi dengan kata untuk “ikatan”, sehingga simpul ini lazim diberikan sebagai hadiah.
  • Melipat dan menggunting kertas (剪纸, jiǎnzhǐ). Seni potong kertas yang masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2009. Kertas dilipat beberapa kali lalu dipotong, dan pola simetrisnya baru muncul saat dibuka. Latar belakang lengkapnya ada di artikel jianzhi.
  • Kaligrafi Tiongkok (书法, shūfǎ). Menulis karakter Han dengan kuas dan tinta. Yang dilatih bukan hanya bentuk huruf, tapi urutan guratan (bihua, 笔画) dan tekanan tangan. Peserta mulai dari karakter sederhana seperti 人 (rén, orang) dan 福 (fú, keberkahan).
Keterangan Detail
Hari dan tanggal Sabtu, 31 Oktober 2026
Waktu 15.00 – 17.00 WIB
Lokasi Kelenteng Tian Fu Gong, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara
Aktivitas Tali simpul Tiongkok, melipat & menggunting kertas, kaligrafi Tiongkok
Paket belajar Gratis: kuas, tinta kaligrafi, kertas kaligrafi, tali simpul 1 meter, kertas origami, bookmark
Untuk siapa Terbuka umum, anak sampai dewasa, tanpa syarat kemampuan Mandarin
Informasi & pendaftaran 0851-7505-6618 (WhatsApp)

Seluruh peralatan dalam paket belajar dibawa pulang, jadi latihan bisa dilanjutkan di rumah. Karena jumlah paketnya terbatas, konfirmasi kehadiran lewat WhatsApp lebih aman daripada datang langsung.

Daftar Culture Day via WhatsApp

Kenapa Rutinitas Acara Budaya Ini Penting

Acara budaya sering ditempatkan sebagai pelengkap. Dalam pengalaman kami, posisinya justru di depan. Banyak orang baru tertarik belajar bahasa Mandarin setelah lebih dulu menyentuh budayanya secara langsung, bukan setelah membaca brosur kursus.

“Dengan adanya rutinitas kebudayaan China yang dibawa oleh BRCC Indonesia, kami bisa mengenalkan budaya China yang asli dan otentik, dan itu menambah keinginan masyarakat Indonesia untuk belajar bahasa dan budaya Mandarin.”

— Veby Millian, CEO and Co-founder BRCC Indonesia

Kata kuncinya ada pada “asli dan otentik”. Budaya Tiongkok yang beredar luas di Indonesia umumnya sudah melewati beberapa lapis penyaringan, lewat film, lewat tren media sosial, atau lewat versi yang sudah lama beradaptasi secara lokal selama beberapa generasi. Semuanya sah dan punya nilai sendiri. Tapi berbeda dari menyentuh praktik aslinya: memegang kuasnya, mengikat talinya sendiri, dan mendengar istilahnya dalam Mandarin dari orang yang memang mengajarkannya.

Dari titik itu, perpindahan ke pembelajaran bahasa terjadi tanpa dipaksa. Seseorang yang pernah menulis 福 dengan kuas punya alasan konkret untuk ingin tahu karakter berikutnya. Motivasi semacam ini lebih tahan lama dibanding target nilai ujian, dan itu terlihat dari siapa yang masih bertahan belajar setelah enam bulan.

Alasan kedua lebih praktis. Acara budaya membuat belajar Mandarin terasa punya tujuan yang bisa dibayangkan. Pertanyaan “Mandarin buat apa?” jauh lebih mudah dijawab setelah seseorang berdiri di tengah acara dan melihat sendiri bahwa ada seni, sejarah, dan komunitas di baliknya.

Lokasi: Kelenteng Tian Fu Gong, Pantai Indah Kapuk

Kedua acara digelar di Kelenteng Tian Fu Gong, kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Lokasi ini dipilih karena dua pertimbangan praktis: halaman terbukanya cukup luas untuk menampung panggung sekaligus area aktivitas, dan aksesnya relatif mudah dari berbagai wilayah Jakarta lewat jalur tol maupun transportasi daring.

Untuk peserta dari luar Jakarta Utara, kami sarankan berangkat lebih awal. Akses masuk kawasan PIK pada akhir pekan sore cenderung padat, dan Culture Day hanya berjalan dua jam.

Dari Acara Budaya ke Belajar Bahasa Mandarin

Acara seperti ini sifatnya pengenalan. Kalau setelahnya muncul keinginan belajar lebih serius, ada beberapa jalur yang bisa dipilih sesuai tujuan masing-masing.

Untuk konsultasi arah belajar yang sesuai kondisi masing-masing, tim kami bisa dihubungi lewat WhatsApp 0851-7505-6618.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Culture Day 31 Oktober 2026 terbuka untuk umum?

Ya. Acara terbuka untuk umum dan tidak terbatas pada peserta kursus BRCC Indonesia. Konfirmasi kehadiran lewat WhatsApp disarankan karena jumlah paket belajar terbatas.

Apakah perlu bisa bahasa Mandarin untuk ikut?

Tidak perlu. Seluruh aktivitas dipandu dalam bahasa Indonesia. Istilah Mandarin tetap diperkenalkan, tapi sebagai pengetahuan tambahan, bukan syarat masuk.

Berapa usia minimum peserta?

Tidak ada batas usia khusus. Ketiga aktivitas bisa diikuti anak usia sekolah dasar dengan pendampingan, maupun peserta dewasa. Tingkat kerumitannya disesuaikan di lokasi.

Apakah peralatan perlu dibawa sendiri?

Tidak. Kuas, tinta, kertas kaligrafi, tali simpul, kertas origami, dan bookmark disediakan gratis dan bisa dibawa pulang.

Berapa lama acaranya?

Dua jam, dari pukul 15.00 sampai 17.00 WIB. Peserta bisa mengikuti ketiga aktivitas secara bergantian dalam rentang waktu tersebut.

Kapan Festival Kue Bulan dirayakan setiap tahun?

Pada hari ke-15 bulan kedelapan kalender lunar, sehingga tanggalnya bergeser setiap tahun pada kalender Gregorian. Umumnya jatuh antara pertengahan September dan awal Oktober. Pada 2026, perayaan BRCC Indonesia digelar 26 September.

Apakah acara budaya seperti ini rutin diadakan?

Ya. Festival Kue Bulan 26 September 2026 dan Culture Day 31 Oktober 2026 adalah bagian dari agenda budaya berkelanjutan. Jadwal acara berikutnya diumumkan lewat Instagram dan WhatsApp BRCC Indonesia.

Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2026. Artikel ini memuat dokumentasi langsung Festival Kue Bulan (Yue Xia) 26 September 2026 serta rincian resmi Culture Day 31 Oktober 2026 di Kelenteng Tian Fu Gong, Pantai Indah Kapuk. Seluruh foto merupakan dokumentasi internal BRCC Indonesia. Keterangan mengenai legenda Chang’e disajikan sebagai cerita rakyat dengan beberapa versi yang berbeda, bukan catatan sejarah. Detail jadwal, waktu, dan ketersediaan paket belajar dapat berubah; konfirmasi terbaru dapat diperoleh melalui WhatsApp 0851-7505-6618.