Selalu ada daya kreasi dan cipta yang manusia lakukan. Bahkan menggunakan bahan-bahan yang sehari-harinya tidak memiliki nilai estetika. Seni kertas tradisional adalah salah satu contohnya. Padahal kertas biasanya hanya digunakan untuk menulis, kini menjadi bahan utama yang menghasilkan karya memukau mata.
Penggunaan kertas yang kemudian menjadi seni bernilai artistik bukanlah tanpa alasan. Banyak budaya di dunia ini telah lama menemukan jika kertas bukan hanya berfungsi sebagai media menyimpan tulisan. Namun, kertas ternyata bisa menjadi bahan baku untuk menghasilkan karya seni karena memiliki berbagai keunggulan dari bentuk fisiknya.
Selain tidak mahal dan mudah untuk mendapatkannya, kertas mempunyai bentuk fleksibel. Amat gampang jika ingin membentuk, memotong, melipat, menggulung, merekat, atau mengukir kertas. Kelebihan ini kiranya tidak terdapat pada bahan baku penghasil seni lain seperti tanah liat, kayu, atau logam.
Sebagai seni klasik, pada perkembangannya kertas menjadi warisan peradaban yang berumur ribuan tahun. Tersebar di berbagai belahan dunia dan menjadi ciri khas peradaban-peradaban besar. Setidaknya ada tiga jenis seni kertas tradisional yang hingga kini tetap lestari, yakni Origami (Jepang), Quilling (Eropa), dan Jianzhi (Tiongkok).
Nah, khusus untuk Jianzhi, kita akan ulas secara mendalam pada tulisan ini.
Seni Potong Kertas

Kira-kira, apa yang membedakan antara ketiga seni kertas Origami, Quilling, dan Jianzhi? Perbedaan paling kentara pada teknik dasar pembuatannya. Jika Origami merupakan seni melipat dan Quilling adalah seni menggulung kertas, maka Jianzhi termasuk seni memotong kertas.
Para seniman Jianzhi memakai pisau ukir halus atau gunting kecil sebagai alat bantu memotong kertas dan membentuk pola simetris yang rumit. Motifnya terinspirasi dari bunga, hewan zodiak yakni naga dan phoenix, serta karakter khas Tiongkok seperti “Fu” yang punya arti keberuntungan.
Merah menjadi warna paling lazim pada Jianzhi. Ini terkait dengan kepercayaan Tiongkok yang meyakini warna tersebut akan mengundang berkah berupa keberuntungan dan kebahagiaan. Namun, warna lain pada kertas Jianzhi juga terkadang terlihat meski tidak sesering warna merah. Warna-warna itu seperti kuning (kemuliaan dan kemakmuran), hijau (keseimbangan atau harmoni), hitam (kekuatan), putih (duka cita), emas dan perak (kemewahan), serta biru dan ungu (damai atau elegan).
Adapun jenis kertas sebagai bahan baku utama pembuatan Jianzhi ada beberapa macam, yakni: Xuan paper (rice paper), kertas merah tradisional, kertas tisu (tissue paper), dan kertas buatan tangan (handmade paper). Bagi pemula, penggunaan kertas origami atau kertas tisu tipis bisa menjadi pilihan awal. Meski kualitasnya tidak seperti jenis kertas Jianzhi lainnya yang tipis dan lembut, namun memudahkan dalam proses memotong atau mengukir kertas.
Warisan Ribuan Tahun
Keberadaan seni tradisional Tiongkok berupa memotong kertas menjadi bentuk-bentuk dekoratif ini ternyata sudah lama eksis, bahkan termasuk yang tertua di dunia. Ini karena Negeri Tirai Bambu termasuk bangsa yang pertama kali menemukan kertas sebagai bahan baku seni tradisional tersebut. Kertas termasuk salah satu pencapaian fenomenal dari peradaban Tiongkok yang kini masih relevan.
Jika menurut sejarah penemuan kertas oleh Cai Lun pada sekitar tahun 105 M, Jianzhi pun mulai berkembang. Pada mulanya, penggunaan seni ini hanya untuk acara keagamaan dan penghormatan terhadap nenek moyang atau leluhur. Karena itulah, Jianzhi mengandung nilai-nilai spiritual atau transendental. Tidak boleh sembarang orang membuat Jianzhi, dan tidak boleh memperlihatkan Jianzhi pada sembarang waktu atau tempat.
Seiring perkembangan zaman, makna sakral dari Jianzhi mulai memudar. Seni potong kertas ini pun semakin populer sehingga banyak yang membuatnya, termasuk semakin banyak pula masyarakat yang menampilkan Jianzhi untuk acara di luar keagamaan. Contohnya ketika pesta pernikahan, berbagai festival tradisional, serta perayaan Tahun Baru Imlek.
Sarat dengan Simbol
Jika membandingkan dengan Origami atau Quilling, maka Jianzhi sarat dengan simbol yang menyiratkan seni ini mengandung nilai-nilai budaya, sejarah, hingga pesan emosional mendalam. Jadi bukan sekadar menyajikan aspek visual atau dekoratif yang memanjakan mata.
Hal itu yang membuat Jianzhi lebih rumit pengerjaannya dibanding Origami atau Quilling. Butuh waktu lebih dari lima tahun bagi seorang seniman Jianzhi untuk mendapat pengakuan sebagai master atau pakar di bidang seni potong kertas ini.
Bagi seorang master Jianzhi, ia tidak hanya piawai dalam berbagai teknik dasar seperti memotong simetris dan membuat motif sederhana (bunga atau kupu-kupu), tapi juga memotong desain rumit tanpa pola bantu. Termasuk paham dengan berbagai makna simbol/budaya dalam setiap motif.
Contoh: penggunaan motif ikan itu melambangkan kelimpahan atau kelapangan rezeki, motif burung bangau berarti simbol umur panjang, motif pohon persik sebagai lambang keabadian, dan motif naga atau phoenix merupakan simbol kekuasaan dan keharmonisan.
Dari semua pemahaman akan simbol-simbol tersebut dan konteks yang melatarbelakangi, seorang master Jianzhi dapat menyajikan keajaiban suatu karya. Bukan hanya menarik dipandang, tapi juga mampu mendatangkan perasaan adiluhung terhadap karya-karyanya. Jianzhi tidak hanya bermakna sepotong kertas hiasan, tapi juga makna spiritual.
Pengakuan UNESCO
Banyak seniman Jianzhi mempelajari seni ini sejak kecil. Butuh kesabaran dan ketelatenan yang berbanding lurus dengan lama waktu untuk menguasainya. Apalagi seni ini merupakan warisan yang pengajarannya secara turun-menurun di dalam lingkup keluarga atau komunitas kecil.
Atas dedikasi para seniman Jianzhi, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2009 mengakuinya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Ini merupakan penegasan akan pentingnya Jianzhi sebagai seni kertas tradisional Tiongkok yang relevan pada setiap zaman. Meski telah berumur ribuan tahun, namun seni ini seakan abadi.
