Menjelang Tahun Baru Imlek, jendela rumah dan etalase toko di banyak tempat dihiasi guntingan kertas merah dengan motif rumit. Inilah jianzhi, seni menggunting kertas yang telah dipraktikkan di Tiongkok selama lebih dari lima belas abad.
Dalam bahasa Mandarin, seni ini ditulis 剪纸 (jiǎnzhǐ), yang secara harfiah berarti menggunting kertas. Sederhana sebagai nama, namun di baliknya tersimpan sistem lambang yang cukup rumit, dan menariknya sebagian besar lambang tersebut justru berakar pada permainan bunyi dalam bahasa Mandarin.
Pada 2009, UNESCO menetapkan seni ini sebagai Warisan Budaya Takbenda. Artikel ini membahas sejarahnya, tekniknya, makna di balik motifnya, serta ragam gayanya di berbagai daerah.
Sejarah Jianzhi
Untuk memahami kapan seni ini bermula, kita perlu menengok lebih dahulu pada kertasnya sendiri.
Kertas sebagaimana kita kenal berkembang di Tiongkok pada masa Dinasti Han, dengan penyempurnaan yang secara tradisional dikaitkan dengan Cai Lun pada awal abad ke-2 Masehi. Namun pada masa itu kertas masih tergolong barang mahal, sehingga belum lazim digunakan untuk keperluan hiasan.
Menariknya, tradisi menggunting lambang sebenarnya sudah ada sebelum kertas ditemukan. Bahannya berupa lembaran logam tipis seperti emas dan perak, atau bahan lain seperti daun dan kulit kayu. Ketika kertas mulai terjangkau, teknik yang sudah ada itu tinggal berpindah medium.
Guntingan kertas tertua yang berhasil ditemukan berasal dari kawasan Turpan di Xinjiang, digali dari kompleks pemakaman kuno pada 1959. Usianya diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-6 Masehi, pada masa Dinasti Utara dan Selatan. Bentuknya berupa lingkaran bermotif simetris.
Dari sana, seni ini berkembang pesat. Pada masa Dinasti Tang mulai muncul karya dengan motif bunga dan hewan yang lebih rumit. Pada masa Dinasti Song, ketika produksi kertas semakin murah, seni ini menyebar luas ke kalangan rakyat biasa. Puncak keragamannya terjadi pada masa Dinasti Ming dan Qing.
Bermula dari Pola Sulaman
Ada satu hal yang jarang diketahui mengenai asal mula jianzhi sebagai seni tersendiri.
Pada awalnya, guntingan kertas tidak dibuat untuk dipajang. Fungsinya adalah sebagai pola untuk sulaman. Guntingan tersebut ditempelkan pada kain sebagai panduan, lalu disulam mengikuti bentuknya.
Karena itulah seni ini berkembang beriringan dengan tradisi tekstil Tiongkok, termasuk industri sutra yang telah berlangsung ribuan tahun, sebagaimana diulas pada artikel tentang fakta dan sejarah kain sutra.
Seiring waktu, guntingan kertas itu sendiri mulai dipandang memiliki nilai keindahan tersendiri, hingga akhirnya berdiri sebagai bentuk kesenian yang mandiri. Perpindahan dari alat bantu menjadi karya inilah yang menjadikannya menarik untuk ditelusuri.
Dua Teknik Utama
Meski sama-sama disebut jianzhi dalam percakapan sehari-hari, sebenarnya ada dua teknik yang berbeda.
Teknik gunting. Inilah yang secara harfiah sesuai namanya. Perajin melipat kertas lalu menggunting mengikuti bentuk yang diinginkan. Teknik ini umumnya menghasilkan karya simetris, dan hanya dapat mengerjakan beberapa lembar sekaligus.
Teknik pisau ukir. Dikenal sebagai 刻纸 (kèzhǐ), teknik ini menggunakan pisau kecil yang tajam di atas alas lunak. Keunggulannya, beberapa lembar kertas dapat dikerjakan sekaligus, dan hasilnya dapat jauh lebih rumit serta halus. Teknik inilah yang umumnya dipakai untuk produksi dalam jumlah banyak.
Terlepas dari tekniknya, ada satu prinsip mendasar yang selalu dipegang. Seluruh bagian karya harus tetap menyatu. Tidak boleh ada bagian yang terlepas, karena karya tersebut dibuat dari satu lembar utuh.
Prinsip inilah yang menjadi tantangan sesungguhnya. Perajin harus merancang sedemikian rupa sehingga setiap unsur tetap terhubung, sementara hasil akhirnya tetap terlihat luwes dan tidak dipaksakan. Kemampuan membaca hubungan antarbagian semacam ini hanya terbentuk melalui latihan panjang.
Mengapa Merah Mendominasi
Warna merah memang paling identik dengan jianzhi, dan ini bukan pilihan yang kebetulan.
Dalam budaya Tiongkok, merah melambangkan kebahagiaan, semangat hidup, dan keberuntungan. Warna ini juga dipercaya menolak hal buruk, sebagaimana tercermin dalam berbagai tradisi perayaan yang dibahas pada artikel tentang tradisi dan makna Imlek.
Meski begitu, jianzhi tidak selalu berwarna merah. Terdapat pula karya berwarna putih, hitam, keemasan, hingga yang diwarnai dengan banyak warna sekaligus. Beberapa daerah bahkan mengembangkan gaya khas berupa guntingan kertas yang diwarnai setelah proses pengerjaan selesai.
Bunga Jendela dan Penggunaannya
Salah satu bentuk jianzhi yang paling dikenal adalah 窗花 (chuānghuā) atau bunga jendela, yaitu guntingan kertas yang ditempelkan pada kaca jendela menjelang Tahun Baru Imlek.
Penamaannya cukup puitis, dan alasannya masuk akal. Ketika cahaya menembus celah guntingan, motifnya terproyeksi ke dalam ruangan. Jadi hiasan ini dinikmati dari dua sisi sekaligus, dari luar sebagai hiasan dan dari dalam sebagai permainan cahaya.
Di luar jendela, jianzhi juga digunakan untuk berbagai keperluan lain.
- Hiasan pintu, dinding, dan langit-langit rumah pada masa perayaan
- Lambang perkawinan yang ditempelkan pada kamar pengantin
- Hiasan pada hadiah dan bingkisan
- Perlengkapan dalam upacara dan persembahan
- Pola untuk sulaman, sesuai fungsi awalnya
Membaca Lambang dalam Jianzhi
Inilah bagian yang paling menarik, terutama bagi pembelajar bahasa Mandarin.
Sebagian besar motif dalam jianzhi tidak dipilih karena bentuknya indah, melainkan karena bunyi namanya menyerupai kata lain yang bermakna baik. Dengan kata lain, sistem lambang dalam seni ini dibangun di atas permainan bunyi dalam bahasa Mandarin.
| Motif | Aksara | Makna dan Dasarnya |
|---|---|---|
| Ikan | 鱼 (yú) | Berbunyi sama dengan kata berlebih, melambangkan kelimpahan |
| Kelelawar | 蝠 (fú) | Berbunyi sama dengan kata keberuntungan |
| Bunga peoni | 牡丹 (mǔdān) | Lambang kemakmuran dan kehormatan |
| Teratai | 莲 (lián) | Lambang kesucian, juga berkaitan dengan kata berturut-turut |
| Delima | 石榴 (shíliu) | Berbiji banyak, melambangkan keturunan yang berlimpah |
| Burung murai | 喜鹊 (xǐquè) | Namanya mengandung kata gembira |
Selain motif bergambar, aksara juga kerap menjadi objek guntingan. Yang paling sering dijumpai adalah aksara 福 (fú) yang berarti keberuntungan, serta 囍 (xǐ) berupa aksara gembira ganda yang khusus digunakan pada perayaan pernikahan.
Hewan shio juga menjadi motif yang populer, terutama menjelang pergantian tahun sesuai hewan yang berlaku.
Pemahaman ini memperlihatkan sesuatu yang menarik. Sebuah guntingan kertas bergambar ikan di antara bunga teratai bukan sekadar pemandangan indah, melainkan susunan harapan yang dapat dibaca oleh mereka yang memahami bahasanya.
Ragam Gaya Antardaerah
Jianzhi berkembang di hampir seluruh wilayah Tiongkok, dan tiap daerah mengembangkan ciri khasnya sendiri.
Gaya utara, terutama yang berkembang di kawasan Shaanxi dan Shanxi, cenderung tegas dan bersahaja. Garisnya tebal, bentuknya sederhana, dan kesannya kuat. Gaya ini lahir dari tradisi rakyat pedesaan yang mengerjakannya dengan gunting biasa di rumah.
Gaya selatan, yang berkembang di kawasan seperti Jiangsu dan Zhejiang, jauh lebih halus dan rumit. Garisnya tipis dengan detail yang sangat rapat, umumnya dikerjakan dengan pisau ukir.
Beberapa daerah juga dikenal karena kekhasannya tersendiri. Kawasan Yuxian di Hebei terkenal dengan guntingan kertas berwarna yang diwarnai setelah proses pengukiran. Sementara Foshan di selatan mengembangkan gaya yang kerap memadukan kertas dengan lembaran berwarna keemasan, dan kota tersebut diulas pada artikel tentang Kota Foshan.
Perlu diketahui pula, jianzhi bukan hanya tradisi masyarakat Han. Sejumlah kelompok etnis di berbagai daerah memiliki tradisi guntingan kertas dengan motif dan fungsi yang berbeda, dan keragaman inilah yang turut menjadi pertimbangan dalam penetapan UNESCO.
Seni yang Diwariskan Turun-temurun
Secara tradisional, jianzhi merupakan keterampilan yang diwariskan dari ibu kepada anak perempuannya.
Di banyak daerah pedesaan, kemampuan ini dipandang sebagai keterampilan yang sebaiknya dikuasai setiap perempuan. Bahkan pada masa lampau, keterampilan menggunting kertas kadang menjadi salah satu hal yang diperhatikan ketika menilai kesiapan seorang calon pengantin.
Proses belajarnya berlangsung secara tidak formal, dengan anak-anak mengamati lalu mencoba sendiri. Tidak ada buku panduan, dan pola umumnya tersimpan dalam ingatan.
Di sisi lain, pada masa Dinasti Song juga muncul perajin profesional yang menjadikannya mata pencaharian. Sebagian mengkhususkan diri pada guntingan aksara, sebagian lain pada motif bunga dan hewan.
Jianzhi di Masa Kini
Seni ini masih hidup hingga sekarang, meski menghadapi tantangannya sendiri.
Di satu sisi, jianzhi terus muncul pada perayaan Imlek, pernikahan, dan berbagai acara budaya. Sekolah dan lembaga kebudayaan di Tiongkok juga mengajarkannya sebagai bagian dari pengenalan warisan tradisional.
Di sisi lain, hadir pula produk hiasan yang dipotong dengan mesin atau laser. Hasilnya menyerupai jianzhi dan harganya jauh lebih murah, namun secara proses tentu berbeda dari karya yang dikerjakan tangan. Perbedaan ini penting diketahui, terutama bila Anda hendak membeli sebagai cendera mata.
Sejumlah seniman kontemporer juga mengangkat teknik ini ke ranah seni rupa modern, dengan karya berukuran besar maupun instalasi. Perkembangan ini membantu memperkenalkan jianzhi kepada khalayak yang mungkin tidak tertarik pada kerajinan tradisional.
Mencoba Sendiri
Bagi yang tertarik mencoba, jianzhi sebenarnya cukup terjangkau untuk dipelajari secara sederhana.
Bahannya minimal, yaitu kertas tipis dan gunting kecil yang tajam. Untuk pemula, mulailah dari motif simetris dengan cara melipat kertas, karena hasilnya lebih mudah dicapai dan kesalahannya tidak terlalu terlihat.
Beberapa hal yang membantu antara lain menggunakan kertas yang tidak terlalu tebal agar mudah digunting, menggambar pola terlebih dahulu dengan pensil di sisi belakang, serta memastikan seluruh bagian tetap terhubung sebelum mulai menggunting.
Kesabaran jelas dibutuhkan. Namun justru di situlah nilainya, karena seni ini memang tidak dirancang untuk dikerjakan tergesa.
Pertanyaan Seputar Jianzhi
Apa arti kata jianzhi?
Secara harfiah berarti menggunting kertas, dari dua aksara yang masing-masing bermakna menggunting dan kertas. Istilah ini mencakup karya yang dibuat dengan gunting maupun dengan pisau ukir, meski secara teknis keduanya memiliki nama yang berbeda.
Sejak kapan seni ini ada?
Guntingan kertas tertua yang berhasil ditemukan berasal dari kawasan Xinjiang dan diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-6 Masehi. Namun tradisi menggunting lambang sebenarnya sudah ada sebelumnya menggunakan bahan lain seperti lembaran logam tipis, sebelum akhirnya berpindah ke kertas.
Mengapa jianzhi kebanyakan berwarna merah?
Karena dalam budaya Tiongkok merah melambangkan kebahagiaan, semangat hidup, dan keberuntungan, sekaligus dipercaya menolak hal buruk. Warna ini paling sesuai untuk perayaan seperti Tahun Baru Imlek dan pernikahan. Meski demikian, terdapat pula jianzhi berwarna lain.
Apa itu bunga jendela?
Bunga jendela adalah sebutan untuk guntingan kertas yang ditempelkan pada kaca jendela menjelang Tahun Baru Imlek. Penamaannya berkaitan dengan efek yang muncul ketika cahaya menembus celah guntingan, sehingga motifnya terproyeksi ke dalam ruangan.
Apakah motif dalam jianzhi punya makna tertentu?
Ya, dan sebagian besar maknanya berakar pada permainan bunyi dalam bahasa Mandarin. Motif ikan misalnya dipilih karena namanya berbunyi sama dengan kata yang berarti berlebih, sehingga melambangkan kelimpahan. Pola serupa berlaku untuk banyak motif lainnya.
Apa bedanya jianzhi buatan tangan dan buatan mesin?
Karya buatan tangan dikerjakan dengan gunting atau pisau ukir, sehingga tiap lembarnya memiliki perbedaan kecil yang khas. Sementara produk buatan mesin atau laser dapat menyerupai bentuknya dengan hasil yang seragam dan harga lebih murah, namun prosesnya tentu berbeda. Bila membeli sebagai cendera mata, ada baiknya menanyakan cara pembuatannya.
Memahami Budaya Lewat Bahasanya
Jianzhi memperlihatkan sesuatu yang cukup khas dalam budaya Tiongkok, yaitu bagaimana bahasa dan kesenian saling terjalin. Sebuah motif dipilih bukan semata karena bentuknya, melainkan karena bunyi namanya membawa harapan tertentu.
Artinya, sebagian besar makna dalam seni ini hanya benar-benar terbuka bagi mereka yang memahami bahasanya. Pola serupa juga dapat dijumpai pada berbagai bentuk kesenian lain, seperti diulas pada artikel tentang refleksi budaya China dalam lagu Mandarin dan kerajinan anyaman bambu di China.
Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia menyediakan kursus bahasa Mandarin yang memadukan pembelajaran bahasa dengan pengenalan budaya di baliknya, sehingga warisan seperti ini terasa lebih mudah dipahami.
Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 28 September 2026. Artikel ini membahas jianzhi atau seni menggunting kertas Tiongkok, mencakup sejarahnya sejak temuan tertua di Xinjiang pada abad ke-6, asal mulanya sebagai pola sulaman, dua teknik pengerjaan, makna warna dan motifnya yang berakar pada permainan bunyi bahasa Mandarin, ragam gaya antardaerah, serta kedudukannya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2009.