Kota Foshan di Provinsi Guangdong, Tiongkok, patut berbangga. Sebab dari kota dagang yang ramai inilah bermula sejarah Ip Man atau Yip Man (1893-1972). Ia adalah seorang master atau guru besar seni bela diri yang namanya melegenda. Tak hanya itu, guru dari Bruce Lee, ikon bela diri dunia ini pun meninggalkan warisan abadi.
Warisan yang bukan hanya seputar pelestarian dan penyebaran aliran bela diri Wing Chun, tapi Ip Man juga meninggalkan jejak pemikiran dan kisah hidup yang begitu mengagumkan Kisah hidupnya menginspirasi banyak orang lintas generasi.
Dalam diri Ip Man, kita bisa melihat seseorang yang sederhana dalam bersikap namun teguh pada pendirian. Sangat tekun dan berdedikasi mengajarkan seni bela diri Wing Chun hingga akhir hayat. Meski hidup Ip Man menghadirkan banyak tantangan dan kesulitan, namun tidak pernah memadamkan semangatnya untuk belajar dan mengajar.
Bagi Ip Man, Wing Chun tidak sekadar teknik-teknik dalam bertarung, tapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan atau seperangkat filosofi yang tidak didapat secara instan. Yakni filosofi hidup yang terbentuk lewat proses panjang, pengalaman nyata, dan pemahaman mendalam. Jadi bukan hasil buru-buru, sok bijak, atau ikut-ikutan.
Contents
Mengapa Memilih Wing Chun?
Foshan bukan hanya terkenal punya sejarah panjang sebagai pusat ekonomi dan kerajinan, tapi juga merupakan kota kungfu. Setidaknya ada tiga aliran besar bela diri khas Tiongkok di kota ini, yakni Wing Chun, Hung Gar, dan Choy Li Fut.
Masing-masing aliran bela diri tersebut punya karakteristik berbeda-beda. Jika Wing Chun terkenal dengan gerakan yang cepat, efisien, dan fokus pada pertarungan jarak dekat, maka Hung Gar lebih menekankan pada kekuatan, kuda-kuda kuat (horse stance), dan gerakan stabil. Adapun Choy Li Fut berorientasi pada kelincahan, fleksibilitas, dan variasi teknik yang beragam.
Nah, sekiranya apa yang menjadi alasan Ip Man memilih untuk mempelajari Wing Chun? Jika mengulik sejarah Ip Man dari masa kecil hingga tumbuh dewasa, kita akan menemukan tiga faktor yang mempengaruhinya.
Pertama, faktor takdir yang mempertemukan Ip Man dengan master yang sangat terkenal pada masa itu. Lahir dari keluarga kaya dan terpandang, keluarga Ip Man menginginkannya untuk mempelajari bela diri. Keluarganya pun memperkenalkan Ip Man yang ketika itu berusia 7 tahun dengan Chan Wah-shun, murid dari master terkenal Leung Jan di Foshan.
Pasca-kematian gurunya, Ip Man melanjutkan pelatihan Wing Chun di bawah gemblengan murid Chan Wah-shun, Ng Chung-sok. Ketika memasuki usia remaja dan berada di Hong Kong, menurut beberapa sumber Ip Man mendapat kesempatan menyempurnakan teknik Wing Chun dari Leung Bik yang merupakan anak dari Leung Jan, master legendaris Wing Chun era 1800-an.
Sementara faktor kedua dan ketiga berkaitan dengan kecocokan Wing Chun dengan karakteristik tubuh dan cara berpikir Ip Man. Bentuk tubuh Ip Man tergolong kecil sehingga cocok dengan Wing Chun yang memang tidak membutuhkan fisik atau tenaga besar.
Begitu pula dengan filosofi Wing Chun (tenang tapi tajam) yang sesuai dengan kecenderungan bersikap Ip Man yakni sopan, rendah hati, dan pendiam, namun sangat fokus dan tajam dalam berpikir atau bertindak.
Antara Foshan dan Hong Kong
Foshan, Kota Kelahiran dan Akar Identitas Ip Man

Ada dua kota yang menyimpan jejak sejarah Ip Man, yakni Foshan dan Hong Kong. Jika Foshan adalah kota kelahiran, maka Hong Kong adalah kota tempat sang master menghembuskan napas terakhirnya.
Lalu, mana dari kedua kota ini yang sangat membekas atau memberi kesan mendalam pada diri Ip Man? Jika melihatnya dari sudut pandang emosional, tentulah Foshan. Karena seluruh masa mudanya yakni dari tahun 1893–1949 (56 tahun), ia habiskan di sini. Di kota ini pula, Ip Man untuk pertama kali mempelajari Wing Chun, membangun keluarga, dan meniti karier sebagai perwira polisi nasionalis (Kuomintang) sebelum 1949, saat Republik Rakyat Tiongkok (RRT) belum berdiri.
Andai saja Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak mengambil alih kekuasaan di Tiongkok pada tahun 1949, Ip Man mungkin tidak akan terlintas untuk meninggalkan Foshan. Kota ini adalah rumahnya. Akar dari segala identitas yang membentuk sosok Ip Man.
Hong Kong, Pelarian Politik yang Mengubah Takdir
Namun, Ip Man pada akhirnya terpaksa meninggalkan Foshan dan menyeberang seorang diri ke Hong Kong sebagai seorang eksil politik. Ia meninggalkan anak, istri, dan seluruh harta bendanya di Foshan. Ia khawatir akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari pemerintahan yang baru karena latar belakang pekerjaannya.
Hong Kong sejatinya bukanlah kota yang sama sekali asing bagi Ip Man. Ketika masih remaja, ia pernah tinggal di kota ini selama beberapa tahun untuk meneruskan studi dan memperdalam ilmu Wing Chun. Namun, kepergian kali ini berbeda. Usia Ip Man sudah memasuki paruh baya dan kepergiannya terdorong karena kondisi politik yang tidak aman di daratan Tiongkok.
Tanpa kerabat dan tanpa uang yang bisa mencukupi kebutuhan hidup, Ip Man kemudian memutuskan untuk membuka kelas Wing Chun bagi masyarakat umum. Sebagai guru Wing Chun, awalnya Ip Man lebih selektif, kemudian lebih terbuka dan menerima siapa saja yang ingin menjadi muridnya. Dari kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari buruh dan anak jalanan, perlahan-lahan semakin banyak yang bergabung. Keberadaan Ip Man pun menjadi terkenal di Hong Kong. Begitu juga dengan seni bela diri Wing Chun yang semakin ramai peminatnya.
Akhir yang Sunyi
Walau berniat untuk kembali, tapi hingga ajal menjemput, Ip Man tidak pernah sekali pun menjejakkan kaki lagi di Foshan. Situasi politik yang tetap tidak bersahabat menjadi salah satu penyebab.
Sejarah Ip Man pada akhir hayatnya, seakan sebuah ironi. Walau ia seorang master yang meninggalkan warisan abadi, tapi Ip Man harus menelan pil pahit kehidupan karena tercerabut dari tanah kelahiran. Akhir yang sunyi di negeri jauh dari keluarga tercinta.

