Mengenal Festival Hantu di Tiongkok

Menurut kepercayaan tradisional Tiongkok, bulan ketujuh dalam kalender lunar diyakini sebagai waktu ketika gerbang alam baka terbuka, memungkinkan roh leluhur maupun roh gentayangan tanpa keluarga turun ke dunia manusia. Tujuan kedatangan roh-roh ini beragam, mulai dari mencari makanan, beristirahat, hingga menuntut balas atas ketidakadilan semasa hidup.

Festival ini tidak semata-mata berkaitan dengan rasa takut, melainkan merupakan wujud penghormatan kepada leluhur dan roh-roh yang terlupakan. Banyak orang percaya bahwa memberikan persembahan merupakan bentuk bakti sekaligus cara untuk mencegah gangguan dari roh-roh tersebut. Masyarakat Tiongkok merayakan Festival Hantu (中元节, Zhōngyuán Jié) sebagai salah satu tradisi paling mistis yang sarat makna spiritual. Festival ini juga dikenal sebagai Ghost Festival, dan dalam ajaran Tao serta Buddha disebut sebagai Hungry Ghost Festival. Perayaan ini umumnya berlangsung pada hari ke-15 bulan ketujuh kalender lunar, yang dikenal sebagai Bulan Hantu (鬼月, Guǐ Yuè) oleh masyarakat Tionghoa.

Tradisi dan Ritual Umum Festival Hantu

Selama perayaan Zhōngyuán Jié (中元节) berlangsung, masyarakat Tiongkok melakukan berbagai tradisi yang sarat makna spiritual. Setiap ritual tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga bertujuan menenangkan roh-roh tanpa keluarga atau tempat kembali.

Berikut penjabaran lengkapnya:

1.  Membakar Kertas Uang (金纸, Jīnzhǐ)

Tradisi ini merupakan bentuk persembahan material kepada arwah di alam baka. Masyarakat membakar uang kertas khusus yang disebut jīnzhǐ atau uang arwah yang juga dikenal sebagai ‘hell money’, serta benda-benda replica seperti mobil kertas, pakaian kertas, bahkan rumah-rumahan. Tujuannya adalah agar roh leluhur atau roh gentayangan memiliki bekal dan kenyamanan di dunia roh. Dalam kepercayaan tradisional, membakar barang-barang ini menunjukkan kepedulian dan menjaga hubungan antara yang masih hidup dan yang telah tiada.

2. Menyediakan Persembahan Makanan

Persembahan dalam festival ini biasanya berupa makanan yang disiapkan di altar keluarga, kuil, atau tempat umum seperti pinggir jalan dan trotoar. Jenis makanan yang disajikan antara lain nasi, ayam, buah-buahan, kue beras (niangao), dan teh. Selain makanan, dupa dan lilin juga dinyalakan untuk memanggil dan menenangkan roh. Ritual ini sering dilakukan pada malam hari, karena dipercaya roh keluar saat gelap untuk mencari makanan.

Menurut kepercayaan mereka, roh yang tidak diberi persembahan bisa menjadi marah dan membawa sial bagi keluarga. Maka dari itu, memberi makan roh menjadi bentuk perlindungan spiritual.

3.  Pertunjukan Wayang atau Opera Jalanan (歌台, Getai)

Di beberapa wilayah, terutama di Taiwan, Hong Kong, dan komunitas Tionghoa di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia, diselenggarakan pertunjukan hiburan malam hari yang disebut getai (歌台). Pertunjukan ini dapat berupa opera tradisional, nyanyian pop Tionghoa, lawakan, atau tari-tarian. Yang unik, barisan kursi paling depan selalu dibiarkan kosong. Kursi ini secara simbolis disediakan khusus untuk roh yang hadir menonton pertunjukan.

Semua pengisi acara biasanya tampil dengan pakaian meriah dan penuh warna, dan pertunjukan ini sering kali berlangsung hingga tengah malam. Selain sebagai hiburan, getai juga menjadi bentuk penghormatan yang meriah terhadap dunia roh.

4. Melarung Lentera di Sungai

Salah satu tradisi yang sarat keindahan dan simbolisme adalah melarung lentera ke perairan, baik sungai, danau, maupun laut. Lentera kertas atau lilin kecil diletakkan di atas perahu mini lalu dilepaskan ke air. Cahaya lentera dipercaya akan memandu roh-roh kembali ke dunia mereka dengan tenang, agar tidak tersesat dan mengganggu kehidupan manusia.

Tradisi ini menciptakan suasana damai dan penuh perenungan, sering dilakukan bersama keluarga sambil mendoakan arwah yang telah meninggal, terutama bagi mereka yang meninggal tanpa pemakaman layak.

Pantangan Selama Festival Hantu

Zhongyuan Jie (中元节) atau Festival Hantu dipercaya sebagai situasi di mana pintu alam roh terbuka dan roh-roh leluhur maupun roh kelaparan bebas berkeliaran di dunia manusia, terutama selama bulan ketujuh kalender lunar, yang disebut juga Bulan Hantu.

Karena dipercaya banyak roh gentayangan berada di sekitar manusia, masyarakat Tionghoa menerapkan berbagai pantangan untuk menghindari kesialan, gangguan supranatural, atau energi negatif.

Berikut penjelasan detail beberapa pantangan umumnya pada Festival Hantu berlangsung:

1. Tidak Keluar Rumah Terlalu Malam

Pada malam hari, terutama malam ke-15 bulan ketujuh, aktivitas roh diyakini mencapai puncaknya. Karena itu, banyak orang menghindari keluar rumah terlalu larut, apalagi ke tempat sepi, seperti sungai, pemakaman, atau taman. Roh yang berkeliaran dipercaya lebih mudah mengganggu manusia dalam keadaan gelap, terutama mereka yang sedang lemah secara fisik maupun mental.

Dalam tradisi, mereka yang “bernasib buruk” atau sedang berduka dianggap lebih rentan menjadi target gangguan roh.

2. Tidak Menggantung Pakaian Basah di Luar Malam Hari

Menggantung pakaian basah di luar malam hari dianggap mengundang roh untuk “menumpang” pada pakaian tersebut. Dalam kepercayaan masyarakat tradisional, roh tertarik pada kelembapan dan bau manusia, yang sering menempel pada pakaian basah. Jika roh menempel pada pakaian, maka orang yang memakainya bisa mengalami nasib buruk atau sakit tanpa sebab. Akibatnya, banyak keluarga Tionghoa memilih menjemur pakaian hanya di siang hari selama Bulan Hantu.

3. Tidak Pindah Rumah atau Menikah Selama Bulan Hantu

Bulan Hantu juga dianggap sebagai waktu kurang baik untuk memulai hal baru, terutama kegiatan besar seperti pindah rumah, membuka usaha, atau melangsungkan pernikahan. Melangsungkan pernikahan di bulan ini dipercaya bisa membawa ketidakberuntungan dalam kehidupan rumah tangga karena energi negatif yang mengelilingi bulan tersebut. Begitu juga dengan pindahan rumah, diyakini akan mengusik roh yang mungkin sudah menetap di lingkungan baru atau justru membawa roh yang tidak diinginkan masuk ke rumah.

4. Tidak Menyebut Nama Lengkap Saat Malam Hari

Penyebutan nama lengkap dengan lantang pada malam hari diyakini dapat menarik perhatian roh. Nama lengkap memiliki kekuatan spiritual yang bisa dikenali oleh roh. Menyebut nama seseorang dengan lengkap dapat membuat roh “menandai” orang tersebut, kemudian mengikuti atau mengganggunya. Oleh karena itu, orang tua sering memperingatkan anak-anak agar tidak memanggil teman mereka dengan nama lengkap saat bermain malam-malam, terutama selama Festival Hantu.

Pantangan Lain yang Juga Umum Diketahui

Tidak menyalakan lilin merah tanpa keperluan

Lilin merah biasanya digunakan dalam ritual pemanggilan roh. Jika dinyalakan sembarangan, diyakini bisa “mengundang roh masuk”.

Tidak duduk di kursi kosong yang disediakan untuk roh (misalnya di pertunjukan Getai)

Duduk di sana diyakini dan dianggap tidak sopan dan bisa membuat roh marah.

Tidak berenang malam-malam

Diyakini semua roh korban tenggelam berkeliaran di air untuk mencari “pengganti”, dan bisa menarik orang ke dalam air.

Antara Mitos dan Nilai Budaya

Meski tampak penuh mistis dan melegenda, Festival Hantu menyimpan pesan cukup mendalam tentang pentingnya menghormati leluhur dan menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia roh. Ini juga menjadi refleksi spiritual dan pengingat akan keberadaan dimensi lain dalam kehidupan manusia. Selain itu, tradisi Festival Hantu merupakan warisan budaya Tiongkok yang masih lestari hingga kini.