Tiongkok tidak hanya kaya akan budaya dan tradisi yang kuat, tapi juga memiliki beragam seni bela diri atau kungfu kelas wahid. Sebut saja Shaolin Kung Fu, Tai Chi (Taijiquan), Baji Quan, Zui Quan (Drunken Fist), dan seni bela diri Wing Chun yang kini semakin populer.
Salah satu penyebab meroketnya popularitas Wing Chun disebabkan oleh keberadaan dua tokoh yang mengenalkan seni bela diri tersebut hingga mendunia. Tokoh pertama adalah Ip Man (Yip Man). Ia merupakan grandmaster yang mengajarkan seni ketangkasan fisik ini secara terbuka pada pertengahan abad ke-20. Sebelumnya, pengajaran Wing Chun hanya terbatas pada kelompok-kelompok tertentu atau bersifat eksklusif. Ip Man mendobrak tradisi tersebut dan memperkenalkan Wing Chun secara masif kepada khalayak luas.
Ip Man mempelajari Wing Chun sejak usia 12 tahun dari gurunya, Chan Wah Shun. Ketika pindah ke Hong Kong, ia lalu membuka padepokan bagi masyarakat umum. Seni bela diri Wing Chun pun menarik minat banyak orang. Tidak sedikit yang tertarik bergabung menjadi muridnya.
Tokoh kedua adalah Bruce Lee, seorang aktor bela diri asal Tiongkok yang berkarier di industri perfilman Hollywood. Film-film bergenre aksinya mendapat respons positif hingga membuat Bruce Lee menjadi ikon perfilman pada masa itu.
Walaupun Bruce Lee tidak secara langsung memperkenalkan Wing Chun—karena ia mengembangkan seni bela diri khas yang dinamakan Jeet Kune Do—namun prinsip-prinsip Wing Chun menjadi dasar dari Jeet Kune Do. Ini karena Bruce Lee merupakan murid dari Ip Man ketika masih tinggal di Hong Kong.
Jika pada masa Ip Man, Wing Chun menjadi terkenal seantero Tiongkok, maka Bruce Lee membuat seni bela diri ini dikenal luas oleh masyarakat internasional. Tanpa kiprah kedua tokoh ini, boleh jadi popularitas Wing Chun tidak sebesar seperti sekarang.
Keunikan dari Wing Chun
Daya tarik utama seni bela diri dari Foshan dan Kanton ini terletak pada keunikannya dalam cara bertarung. Jika seni bela diri lainnya mengutamakan stamina atau kekuatan fisik dan gerakan akrobatik untuk melumpuhkan lawan, maka Wing Chun sebaliknya. Seni bela diri ini lebih fokus pada ketangkasan daripada kekuatan, efisiensi gerakan daripada gerakan yang sulit atau akrobatik, serta kejelian memanfaatkan tenaga lawan untuk memenangkan pertarungan.
Beragam teknik dalam Wing Chun seperti pukulan rantai (chain punch) atau Chi Sao (latihan tangan lengket) didasarkan pada efisiensi gerakan dan refleks terhadap serangan lawan. Hal ini membuat aspek kecepatan dan ketepatan dalam menyerang atau bertahan lebih utama daripada kekuatan besar untuk menghancurkan lawan.
Apalagi Wing Chun termasuk jenis bela diri yang menekankan pada pertarungan jarak dekat, bukan pertarungan jarak jauh atau serangan dengan tendangan tinggi seperti pada Kung Fu Shaolin atau Taekwondo. Karenanya, siapa saja dapat lebih mudah mempelajari Wing Chun. Tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, atau bahkan mereka yang ukuran tubuhnya tergolong kecil dan lemah. Jadi, tidak seperti seni bela diri Muay Thai, Judo, Karate, atau Brazilian Jiu-Jitsu yang membutuhkan fisik dan stamina prima untuk mengalahkan lawan.
Dengan kata lain, ketika menghadapi lawan yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dan tenaga lebih kuat, penggunaan teknik beladiri ini bisa menjadi sangat efektif. Tidak hanya dapat mengalahkan lawan, tetapi juga meminimalkan cedera fisik (damage selepas pertarungan) karena mampu melumpuhkan lawan dengan cepat.
Tidak hanya ampuh dalam pertarungan satu lawan satu, Wing Chun pun efektif dalam pertarungan di ruang sempit atau ketika terjadi pengeroyokan oleh banyak orang. Teknik jebakan (trapping) yang memanfaatkan siku, lutut, dan tangan sangat efektif untuk menghadapi situasi pertarungan seperti itu.
Sejarah Wing Chun
Sebagai sebuah seni bela diri tradisional dari Tiongkok, asal usul Wing Chun menyimpan kisah yang menarik. Mulai dari cerita penemuannya hingga penamaan dari seni ketangkasan fisik ini.
Meski tidak ada sumber tertulis atau bukti sejarah mengenai asal usul Wing Chun, namun ada legenda di masyarakat Tiongkok yang diyakini kebenarannya. Legenda tersebut mengisahkan bahwa seorang biksuni dari Kuil Shaolin bernama Ng Mui adalah orang yang pertama kali memperkenalkan Wing Chun.
Ng Mui bukan orang sembarangan. Ia merupakan salah satu dari Lima Tetua Shaolin yang hidup pada masa kekuasaan Dinasti Qing (1636–1912), dinasti terakhir di Tiongkok. Karena perbedaan pandangan dengan penguasa, Kuil Shaolin tempat Ng Mui mendapat serangan hebat hingga akhirnya dihancurkan. Untungnya, Ng Mui berhasil selamat dari bencana tersebut.
Hidup pada masa-masa yang sulit, Ng Mui tidak patah semangat. Ia bahkan mengembangkan suatu seni bela diri baru yang terinspirasi dari pengamatannya terhadap pertarungan antara burung bangau dan ular. Dari sinilah lahir teknik bertarung yang berfokus pada kecepatan, presisi atau ketepatan, serta pemanfaatan tenaga lawan.
Selain kisah penemuannya, cerita di balik penamaan Wing Chun pun tak kalah menarik. Nama Wing Chun ternyata berasal dari nama murid Ng Mui, yaitu Yim Wing Chun. Ia mendapat pengajaran langsung dari Ng Mui, dan pada suatu hari menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Seorang jenderal perang memaksakan keinginannya untuk menikahi Yim Wing Chun.
Pemaksaan ini tidak hanya bersifat psikis, tetapi juga mengarah pada kekerasan fisik. Karena itu, Yim Wing Chun terpaksa bertarung dan berhasil mengalahkan sang jenderal. Atas keberhasilannya, nama Yim Wing Chun menjadi buah bibir, dan teknik pertarungan yang ia gunakan pun kemudian dikenal dengan sebutan sesuai namanya, yakni seni bela diri Wing Chun.
Kesimpulan
Wing Chun adalah seni bela diri Tiongkok yang terkenal karena teknik efisien dan kecepatan gerakannya. Dengan sejarah menarik dan pengaruh dari Ip Man serta Bruce Lee, Wing Chun menjadi pilihan tepat bagi siapa saja yang ingin mempelajari bela diri efektif jarak dekat.
Siapa yang belum pernah menonton film Ip Man? Jika belum bisa tonton dahulu cuplikannya di bawah ya. Pastinya film action dengan seni bela diri wing chun ini sangat seru untuk ditonton.