Kota Quanzhou di Provinsi Fujian sempat menjadi perbincangan luas ketika UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia pada 2021, bersama sejumlah situs lain seperti Kuil Ramappa di India, kawasan Paseo del Prado dan Buen Retiro di Spanyol, serta jalur kereta Trans-Iranian Railway di Iran.
Penetapan tersebut bukan tanpa alasan. Pada masa lalu, Quanzhou merupakan salah satu pelabuhan terbesar di dunia, khususnya pada masa Dinasti Song dan Dinasti Yuan, sekaligus simpul penting dalam Jalur Sutra Maritim.
Namun bagi pembaca Indonesia, ada satu hal yang membuat kota ini terasa jauh lebih dekat, yaitu keberadaan sebuah kampung bernuansa Bali di dalamnya. Artikel ini membahas keduanya, mulai dari sejarah dan perekonomian kota hingga kisah di balik Kampung Bali tersebut.
Zaitun, Pelabuhan Terbesar di Dunia pada Masanya
Pada masa kejayaannya, Quanzhou dikenal para pedagang asing dengan nama Zaitun, yang berasal dari sebutan lokal untuk pohon dadap yang dahulu banyak ditanam di sekeliling kota. Marco Polo bahkan menyebut pelabuhan ini sebagai salah satu yang terbesar di dunia pada masanya.
Sebagai simpul Jalur Sutra Maritim, Quanzhou menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai bangsa. Jejaknya masih dapat ditelusuri hingga kini melalui keberadaan rumah ibadah dari berbagai kepercayaan yang berdiri berdampingan di kota ini, mulai dari kuil Buddha, kelenteng Taois, hingga peninggalan masjid tua yang termasuk salah satu yang tertua di Tiongkok.
Warisan sejarah inilah yang kemudian diangkat kembali melalui Maritime Silk Road International Art Festival, festival budaya yang diselenggarakan secara berkala dan menampilkan beragam pertunjukan seni.
Kota ini juga dipenuhi bangunan tradisional khas Hokkien dengan gaya arsitektur yang khas. Budaya minum teh masih kuat di kalangan warganya, meski generasi mudanya kini banyak beralih ke kopi, sehingga kedai kopi mudah dijumpai di berbagai sudut kota.
Gambaran Umum Kota Quanzhou
Quanzhou berstatus sebagai kota setingkat prefektur, yang dalam sistem pembagian wilayah Tiongkok berada di bawah pemerintah provinsi dan membawahi sejumlah distrik serta kota setingkat kabupaten.
Letaknya di antara Kota Putian dan Xiamen, dengan garis pantai membentang sekitar 541 kilometer menghadap Selat Taiwan. Iklimnya subtropis dengan suhu rata-rata sekitar 20 derajat Celsius dan curah hujan sekitar 1.100 milimeter per tahun.
Secara kesejarahan, Quanzhou merupakan salah satu tanah leluhur utama bagi komunitas Tionghoa perantauan, termasuk yang menetap di Asia Tenggara. Banyak keluarga Tionghoa di Indonesia yang akar leluhurnya dapat ditelusuri hingga kawasan ini.
Kekerabatan budaya juga terasa kuat dengan komunitas berbahasa Hoklo di Taiwan, yang berbagi dialek, musik tradisional, hingga corak arsitektur serupa dengan masyarakat Quanzhou. Kesamaan ini merupakan hasil migrasi yang berlangsung selama berabad-abad.
Perekonomian Quanzhou
Dibandingkan tetangganya seperti Xiamen, wajah ekonomi Quanzhou memiliki karakter yang berbeda. Sebagian besar pabrik dan perusahaan di kota ini merupakan usaha keluarga dengan sistem pengelolaan yang cenderung tradisional.
Struktur semacam ini memiliki sisi kuat dan sisi lemahnya. Di satu sisi, industri padat karya berkembang pesat, terutama di sektor garmen dan tekstil yang menjadi tulang punggung perekonomian kota. Sejumlah merek olahraga ternama Tiongkok bahkan berasal dari kawasan ini.
Di sisi lain, akses terhadap permodalan dan pemasaran berskala besar menjadi tantangan tersendiri dibanding kota yang didominasi perusahaan besar.
Selain garmen dan tekstil, Quanzhou juga memiliki industri bahan bangunan, permesinan, kerajinan tangan, perkapalan, farmasi, petrokimia, elektronik, dan otomotif.
Salah satu perkembangan yang membuka peluang baru adalah pembukaan jalur kereta kargo menuju Moskow sejak akhir 2023. Jalur ini memangkas jarak tempuh secara berarti dibanding rute sebelumnya, sehingga membantu memperluas pemasaran produk lokal ke pasar mancanegara.
Pilihan Perguruan Tinggi di Quanzhou
Dari sisi pendidikan tinggi, Quanzhou memiliki sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Quanzhou Normal University, Huaqiao University, Quanzhou Institute of Information Engineering, Yang En University, dan Minnan University of Science and Technology.
Di antara semuanya, Huaqiao University paling relevan bagi mahasiswa internasional. Sesuai namanya yang berarti Tionghoa perantauan, universitas ini memang didirikan dengan misi melayani mahasiswa keturunan Tionghoa dari luar negeri, sehingga memiliki pengalaman panjang menangani mahasiswa asing termasuk dari Indonesia.
Bagi Anda yang mempertimbangkan studi di Tiongkok, perlu diketahui bahwa sejak tahun akademik 2026/2027 calon mahasiswa internasional jenjang sarjana umumnya perlu mengikuti China Scholastic Competency Assessment atau CSCA. Penjelasannya tersedia pada artikel tentang apa itu CSCA, sementara gambaran berkas lainnya dapat disimak pada panduan persyaratan masuk universitas di China.
Kampung Bali Nansan, Jejak Indonesia di Quanzhou
Inilah bagian yang membuat Quanzhou terasa istimewa bagi pembaca Indonesia. Di kawasan Nansan, Kecamatan Luojiang, terdapat sebuah permukiman yang dikenal sebagai Kampung Bali Nansan.
Sebelum memasuki kawasannya, pengunjung akan langsung disambut gapura bertata candi bentar khas Bali, lengkap dengan pelinggih di kedua sisinya. Suasananya cukup asri karena berada di kaki Bukit Qingyuan.
Bagaimana Kampung Ini Bermula
Kisahnya berawal dari kebijakan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 1959, yang melarang warga negara asing menjalankan usaha perdagangan eceran di tingkat kabupaten ke bawah dan mewajibkan pengalihan usaha kepada warga negara Indonesia.
Kebijakan tersebut berdampak luas terhadap komunitas Tionghoa di Indonesia. Tidak kurang dari seratus ribu orang memilih kembali ke Tiongkok pada periode 1960 hingga 1961. Sebagian di antaranya berasal dari Bali.
Pemerintah Tiongkok kemudian menampung sekitar lima ratus hingga enam ratus orang dari kelompok tersebut di kawasan Nansan. Seiring waktu, penampungan itu berkembang menjadi permukiman tetap yang kini dikenal sebagai Kampung Bali Nansan.
Kehidupan Warganya Kini
Yang paling menarik, budaya Bali tetap terpelihara di kampung ini lintas generasi. Banyak warganya masih fasih berbahasa Bali, bahkan sebagian yang lahir di Fujian pun menguasainya karena terbiasa mendengar orang tua mereka.
Jejak Indonesia juga terasa pada makanannya. Di kampung ini terdapat penjual kue tradisional Indonesia, mulai dari dadar gulung hingga kue khas Bali, yang resepnya diwariskan turun-temurun dari generasi sebelumnya.
Warga setempat bahkan menginisiasi pembangunan taman budaya Bali sebagai upaya melestarikan sekaligus memperkenalkan budaya asal mereka kepada masyarakat sekitar.
Perlu diketahui pula, Kampung Bali bukan satu-satunya permukiman bernuansa Indonesia di Quanzhou. Terdapat pula kampung lain yang dihuni perantau asal daerah berbeda di Indonesia, meski Kampung Bali dikenal paling terjaga kebersamaannya.
Pertanyaan Seputar Kota Quanzhou
Mengapa Quanzhou ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia?
UNESCO menetapkannya pada 2021 karena perannya sebagai pusat perdagangan maritim dunia pada masa Dinasti Song dan Yuan. Kota ini menyimpan banyak peninggalan yang memperlihatkan bagaimana pedagang dari berbagai bangsa dan kepercayaan berinteraksi di satu pelabuhan yang sama.
Di mana lokasi Kampung Bali di Quanzhou?
Kampung Bali Nansan berada di kawasan Nansan, Kecamatan Luojiang, Kota Quanzhou, di kaki Bukit Qingyuan. Lokasinya dapat dijangkau dengan transportasi umum dari pusat kota dalam waktu sekitar dua puluh menit.
Apakah warga Kampung Bali masih bisa berbahasa Indonesia?
Sebagian masih menguasainya, meski yang lebih banyak bertahan justru bahasa Bali. Menariknya, kemampuan ini turut diwariskan kepada generasi yang lahir di Tiongkok karena terbiasa mendengarnya sehari-hari di lingkungan keluarga.
Apa hubungan Quanzhou dengan komunitas Tionghoa di Indonesia?
Quanzhou merupakan salah satu tanah leluhur utama bagi komunitas Tionghoa perantauan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dialek Hokkien yang berkembang di kawasan ini juga menjadi jalur masuk banyak istilah ke dalam bahasa Indonesia, terutama istilah kuliner seperti yang diulas pada artikel tentang bacang dan asal usul namanya.
Menelusuri Jejak Sejarah Lewat Bahasanya
Kisah Quanzhou memperlihatkan betapa panjang dan dalamnya hubungan antara Tiongkok dan nusantara, jauh sebelum konsep negara modern terbentuk. Jejaknya tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, melainkan juga dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari.
Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia menyediakan kursus bahasa Mandarin yang memadukan pembelajaran bahasa dengan pengenalan budaya dan sejarah di baliknya. Untuk mengenal kota lain di Provinsi Fujian, tersedia pula ulasan tentang Kota Xiamen.
Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 3 September 2026. Artikel ini membahas Kota Quanzhou di Provinsi Fujian, mencakup penetapannya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2021, kejayaannya sebagai pelabuhan Jalur Sutra Maritim yang dikenal dengan nama Zaitun, gambaran perekonomian dan pendidikan tingginya, serta kisah Kampung Bali Nansan yang berkaitan dengan kebijakan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 1959. Sebagian data historis dan angka bersifat perkiraan yang dapat berbeda antarsumber.
