Beberapa tahun lalu, Kota Quanzhou di Provinsi Fujian, Tiongkok, sempat menjadi bahan pemberitaan hangat di berbagai media. Kota ini mendapat penetapan dari UNESCO sebagai situs warisan dunia bersama tiga tempat bersejarah lainnya, seperti Kuil Kakatiya Rudreshwara di India, Paseo del Prado beserta Buen Retiro di Spanyol, dan jalur kereta kuno Trans-Iranian Railway di Iran.

Tak heran jika banyak pelancong tertarik berkunjung ke kota ini. Apalagi, pada masa lalu Quanzhou pernah menjadi salah satu kota pelabuhan terbesar di dunia, khususnya pada masa kejayaan Dinasti Song dan Dinasti Yuan. Saat itu, Quanzhou juga berperan penting dalam jalur sutra maritim.

Berdasarkan kisah sejarah tersebut, pemerintah lokal setempat menginisiasi sebuah festival budaya bertajuk Maritime Silk Road International Art Festival. Acara ini telah menjadi agenda rutin yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Beragam atraksi seni hadir dalam acara tersebut dan selalu menarik perhatian wisatawan.

Daya tarik berikutnya, Kota Quanzhou dipenuhi bangunan tradisional kuno khas Hokkien dengan gaya arsitektur yang unik. Masyarakatnya pun sangat akrab dengan budaya minum teh. Namun, generasi muda di kota ini lebih memilih kopi, sehingga kedai-kedai kopi dengan beragam varian rasa mudah ditemukan di berbagai sudut kota.

Antara Fakta, Harapan, dan Prospek Ekonomi Quanzhou

tur wisata ke Kota Quanzhou

Quanzhou yang berstatus sebagai kota prefektur—satu tingkat di atas kotamadya—terletak di antara Kota Putian dan Xiamen. Garis pantainya yang membentang sekitar 541 kilometer berhadapan langsung dengan Selat Taiwan. Iklim di Quanzhou adalah subtropis dengan suhu udara rata-rata 20 derajat Celsius dan curah hujan sekitar 1.100 mm per tahun.

Secara etnografis, Quanzhou merupakan tanah leluhur bagi keturunan Fujian. Menariknya, sekitar setengah dari suku Han di Taiwan memiliki warisan budaya yang sangat mirip dengan masyarakat Fujian di Quanzhou. Mulai dari dialek atau gaya bicara khas Hokkien, musik tradisional, hingga arsitektur bangunan.

Kedekatan ini melahirkan teori yang menyimpulkan bahwa sejak zaman kuno, sudah terjalin hubungan erat antara Taiwan dan Quanzhou. Banyak pihak memandang, Quanzhou memiliki potensi untuk memainkan peran strategis dalam upaya penyatuan kembali Taiwan dengan Tiongkok.

Namun, harapan tersebut masih menghadapi kendala di sektor ekonomi. Saat ini, Quanzhou tampak masih tertinggal dibandingkan kota-kota tetangganya, khususnya Xiamen. Meski pernah berjaya di masa jalur sutra maritim, kini Quanzhou lebih banyak didukung oleh industri kecil berskala rumah tangga.

Berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Tiongkok, mayoritas pabrik dan perusahaan di Quanzhou merupakan usaha keluarga yang menerapkan sistem manajemen tradisional. Akibatnya, akses terhadap modal dan pemasaran menjadi tantangan tersendiri bagi kemajuan ekonomi kota ini.

Ekonomi

Meski demikian, kegiatan ekonomi Quanzhou tetap berjalan dengan dukungan sektor garmen, tekstil, bahan bangunan, mesin, dan kerajinan tangan. Industri garmen dan tekstil menjadi tulang punggung karena bersifat padat karya. Selain itu, Quanzhou juga memiliki industri perkapalan, obat-obatan, petrokimia, elektronik, dan otomotif.

Di tengah berbagai kendala tersebut, Quanzhou tetap menyimpan prospek yang menjanjikan, terutama dengan dibukanya jalur kereta kargo menuju Moskow, Rusia. Sejak akhir tahun 2023, jalur ini menjadi angin segar untuk memperluas pemasaran produk lokal ke mancanegara. Terlebih lagi, jalur baru ini mampu memangkas jarak tempuh hingga 213 kilometer atau sekitar dua hari lebih cepat dibandingkan rute lama.

Pendidikan

Dari sisi pendidikan tinggi, Quanzhou pun mampu memberikan fasilitas yang lengkap. Terdapat lima perguruan tinggi yang menjadi kebanggaan kota ini, yakni Quanzhou Normal University, Huaqiao University, Quanzhou Institute of Information Engineering, Yang En University, dan Minnan University of Science and Technology.

Fakta Menarik: Ada Kampung Bali di Quanzhou

Ada satu fakta unik yang menjadikan Quanzhou terasa dekat bagi masyarakat Indonesia, khususnya Bali. Dari sekian banyak permukiman di kota ini, terdapat satu kampung bernama Kampung Bali Nansan. Sesuai namanya, suasana di kampung ini sangat kental dengan budaya Bali.

Bahkan, sebelum memasuki kawasan permukiman, pandangan mata akan langsung tertuju pada gapura tradisional Bali yang bertuliskan “Selamat Datang ke Kampung Bali”. Bagaimana bisa ada kampung seperti ini? Jawabannya berawal dari kebijakan Presiden Soekarno melalui Kepres Nomor 10 Tahun 1959.

Kebijakan tersebut melarang warga negara asing mendirikan usaha di pedesaan. Akibatnya, banyak warga Tionghoa yang telah lama menetap di Bali memilih kembali ke kampung halaman mereka di Tiongkok. Diperkirakan, sekitar 500 hingga 600 orang memutuskan pulang tanpa membawa banyak bekal.

Beruntung, pemerintah Tiongkok menyambut mereka dengan tangan terbuka dan menyediakan penampungan di Distrik Nansan, Quanzhou. Seiring waktu, penampungan tersebut berkembang menjadi permukiman tetap yang dikenal sebagai Kampung Bali Nansan. Hingga kini, masyarakat di kampung ini masih fasih berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia.

Kesimpulan

Itulah sekilas tentang Kota Quanzhou yang ternyata menyimpan hubungan unik dan menarik dengan Indonesia, khususnya Bali. Semoga informasi ini menambah wawasan kita semua, dan suatu saat nanti, ada kesempatan untuk mengunjungi kota ini. Baik untuk berwisata maupun menempuh pendidikan tinggi di negeri tirai bambu.