Keadilan adalah nilai kebajikan yang mendapat tempat penting dalam mitologi Tiongkok. Begitu pula dengan nilai keberanian dan kebijaksanaan. Ketika ketiga nilai kebajikan tersebut berpadu, maka lahirlah sosok Dewa Erlang Shen. Dewa pemberani dan bijaksana yang berdedikasi penuh terhadap keadilan.
Inilah dewa yang menjadi simbol penjaga ketertiban dunia manusia dan dunia dewa. Memiliki kemampuan bertarung di atas rata-rata, membuat Erlang Shen mampu mengalahkan kekuatan jahat secara fisik maupun spiritual. Kekuatan yang sering kali berasal dari iblis, roh jahat, atau siluman penebar kekacauan dan mara bahaya.
Sebagai seorang penegak hukum, sepak terjang Erlang Shen terlihat dari berbagai kisah legendaris dalam mitologi Tiongkok. Salah satunya tergambar dalam novel klasik Perjalanan ke Barat (Journey to the West). Ia mendapat titah untuk menangkap Sun Wukong, siluman kera yang mengacau dunia para dewa. Setelah melalui pertarungan yang sengit, Sun Wukong akhirnya takluk.
Kiprah Erlang Shen juga tampak dalam novel klasik Tiongkok lainnya, yakni Legenda Para Dewa (Fengshen Yanyi). Bersama dengan Dewa Nacha dan para dewa lainnya, Erlang Shen bahu-membahu bertempur melawan iblis dan pasukan jahat.
Bagi dunia manusia, Erlang Shen bukan hanya sosok dewa pelindung, tapi juga simbol inspirasi dalam penegakan keadilan dan keberanian menghadapi tantangan hidup. Mengajarkan untuk tidak berputus asa serta gigih menjalani hidup meski banyak permasalahan.
Cucu Dewa Langit
Ada beberapa versi mengenai asal-usul Dewa Perang dan Keadilan ini. Versi pertama menceritakan jika Erlang Shen adalah cucu dari dewa langit dan pencipta alam semesta, yakni Dewa Yu Huang. Namun, dalam beberapa sumber klasik, Erlang Shen dikenal sebagai keponakan dari Jade Emperor (Yu Huang), bukan cucunya. Pamannya adalah Kaisar Langit (Jade Emperor) dan ibunya bernama Nuwa, dewi yang menikah dengan manusia kemudian melahirkan Erlang Shen.
Ini artinya ia memiliki eksistensi separuh dewa dan separuh manusia. Atas dasar itulah, Erlang Shen walau sebagai dewa tapi terkenal memiliki empati yang mendalam terhadap manusia. Rasa empati karena sebagian dari dirinya memiliki hubungan darah dengan manusia.
Versi kedua menyebutkan bahwa Erlang Shen pada awalnya bukanlah dewa ataupun keturunan dewa. Dalam tradisi rakyat Tiongkok, Erlang Shen sering diidentifikasikan dengan putra seorang pejabat manusia bernama Li Bing, seorang insinyur dan gubernur dari Dinasti Qin yang terkenal membangun Bendungan Dujiangyan di Sichuan.
Bendungan ini tidak hanya memberikan manfaat besar bagi warga sekitar dengan mengendalikan aliran Sungai Min, tetapi juga mencegah banjir yang melanda serta menelan banyak korban jiwa hingga kerugian harta benda. Atas jasanya yang besar dalam mengendalikan alam dan melindungi masyarakat, rakyat menghormati Li Bing dan putranya dengan gelar kehormatan setelah kematian mereka.
Dalam legenda setempat, putra Li Bing yang kemudian dipuja sebagai Erlang Shen dikenal sebagai pahlawan yang memiliki kekuatan luar biasa dan mampu mengendalikan air serta mengusir roh jahat. Sosok ini kemudian diangkat menjadi dewa pelindung yang menguasai kekuatan sungai dan gunung, serta identik dengan kekuatan menolak bencana alam.
Ciri Khas Erlang Shen
Sebagai seorang prajurit surgawi, Erlang Shen mengambil wujud prajurit gagah perkasa berbaju jirah. Ia memegang senjata tombak atau pedang bermata tiga (San Jian Liang Ren Dao) dalam literatur umum senjatanya lebih dikenal sebagai “Tri-Point Double-Edged Sword”. Senjata ini amat ampuh menaklukkan iblis dan siluman jahat.
Pakaian perang lengkap dengan senjata ini menyimbolkan jika Erlang Shen adalah dewa pelindung dan penjaga yang senantiasa siaga terhadap segala bentuk kejahatan. Ia tidak segan-segan dan tanpa kompromi menghancurkan setiap potensi yang membawa kerusakan, baik itu di dunia manusia maupun dunia dewa.
Ciri khas lainnya, Erlang Shen memiliki seekor anjing ilahi bernama Xiao Tian Quan. Ini bukan anjing sembarang anjing, tapi anjing yang mampu bertarung melawan kekuatan jahat, termasuk melacak siluman yang kerap kali mengamuflase keberadaan mereka sehingga tidak terdeteksi.
Dari berbagai ciri fisik yang terlihat dari Dewa Erlang Shen, ciri terakhir ini yang paling unik yakni memiliki mata ketiga (Tian Yan) di tengah-tengah dahinya. Keberadaan mata tersebut memberi Erlang Shen kemampuan melihat kebenaran sejati. Tidak akan tertipu oleh kebenaran palsu yang sering kali menutupi kebenaran asli. Sehingga, ia bisa membedakan mana hal baik dan mana hal buruk.
Pemujaan terhadap Erlang Shen
Berbagai kisah mengenai Erlang Shen sarat dengan dedikasinya terhadap nilai-nilai kebenaran. Ialah dewa yang selalu berada di garis terdepan dalam memperjuangkan keadilan. Ibarat polisi atau aparat penegak hukum, Erlang Shen adalah “polisi langit” yang hadir di dunia ini untuk menjaga ketertiban dan mencegah kekacauan.
Tidak ada yang membuatnya jerih atau takut. Keberaniannya begitu menginspirasi dan kebijaksanaannya membuat keadilan pasti terwujud. Hal inilah yang membuat sosok Erlang Shen begitu luar biasa di mata manusia pemujanya.
Ada banyak rakyat Tiongkok yang memuja dan membangun kuil sebagai tempat suci untuk menghormatinya. Salah satu yang terbesar adalah Kuil Erlang di Sichuan, tempat yang merupakan tanah asalnya ketika masih menjadi manusia.
Pemuja Erlang Shen tidak hanya berasal dari masyarakat Tiongkok yang meyakini mitologi kuno (keberadaan dewa-dewa), tetapi juga dari penganut Taoisme dan Buddhisme. Para pemuja Erlang Shen pun tidak hanya seputar dataran Tiongkok, tetapi meluas hingga ke berbagai negara yang merupakan diaspora kebudayaan Tiongkok.
Selain kuil pemujaan, eksistensi Erlang Shen juga terlihat dari berbagai festival dan ritual Taoisme yang bertujuan untuk pengusiran roh jahat (exorcist) dan perlindungan atau penolakan terhadap bencana alam. Kehadirannya adalah antitesa dari kejahatan dan ketidakadilan.
Erlang Shen tak hanya terkenal di mata para pemujanya, tapi masyarakat modern pun tak asing dengan sosok dewa bermata tiga itu. Ia termasuk salah satu dari dewa-dewa dalam mitologi Tiongkok yang terkenal dan banyak mendapat sorotan dalam budaya populer. Ada banyak film, serial televisi, novel, hingga video game yang menjadikan Dewa Erlang Shen sebagai tokoh utama atau protagonis. Realita ini menyiratkan jika kehadirannya akan tetap abadi.
