Mitologi adalah realita pada masa dahulu — masa ketika manusia hidup berdampingan dengan banyak dewa dan dewi. Para dewa dan dewi itu ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang senang membantu manusia, ada pula sebaliknya. Salah satu dewa penolong dan pelindung manusia dalam mitologi Tiongkok adalah Dewa Nacha.
Ia terkenal memiliki kemampuan mengendalikan unsur paling dahsyat pada masa itu, yakni petir dan badai. Berbekal kekuatannya tersebut, Dewa Nacha (Nezha) mampu menghancurkan apa saja — bahkan gunung dan lembah pun turut binasa dalam sekejap. Nyaris tak ada lawan yang sepadan baginya.
Kemampuan lain, Dewa Nezha bisa mengubah dirinya menjadi bentuk apa pun yang ia inginkan. Bukan hanya mengambil rupa manusia, bentuk hewan beraneka ragam pun ia bisa. Kemampuan unik ini sering digunakan Dewa Nezha untuk berinteraksi dengan kehidupan manusia.
Dewa Nezha memang terkenal senang berbaur dengan manusia — membantu dan menolong mereka tanpa disadari. Karenanya, nama Dewa Nezha/Nacha sangat terkenal di kalangan manusia. Mereka memuja dan menghormatinya. Untuk referensi yang lebih seru tentang kisah Nezha dalam format modern, Anda bisa mencoba menonton Ne Zha 2 yang sudah tayang sejak 21 Maret 2025 — film animasi China yang memecahkan rekor box office dunia.
Sejarah Dewa Nacha
Eksistensi dewa dan dewi dalam mitologi Tiongkok memiliki kesamaan dengan manusia — mereka lahir dan tumbuh dewasa dari orang tua yang juga berstatus dewa. Dalam mitologi yang paling umum dikenal, Nezha adalah putra dari Jenderal Li Jing dan istrinya Lady Yin, bukan dari Dewa Lei Gong.
Kekuatan Dewa Nezha sudah terlihat luar biasa sejak kecil. Namun kisah hidupnya penuh dengan drama dan konflik — termasuk perseteruan dengan ayahnya sendiri yang kelak menjadi salah satu narasi paling terkenal dalam mitologi Tiongkok. Dalam kisah klasik Fengshen Yanyi (Investiture of the Gods), Nezha digambarkan sebagai sosok pemberani yang rela mengorbankan diri demi membebani rasa bersalah dan untuk melindungi keluarganya dari murka Raja Naga. Ia kemudian dihidupkan kembali oleh gurunya, Taiyi Zhenren, menggunakan bunga teratai. Singkat cerita, ia terkenal di kalangan manusia karena kebaikan hati dan keberanian dalam menolong mereka dari berbagai ancaman dan marabahaya.
Dalam mitologi Tiongkok, manusia sering kali mendapat gangguan dari para siluman. Berbeda dari para dewa dan dewi, siluman pada umumnya suka berbuat semena-mena terhadap manusia. Tidak jarang, makhluk yang juga punya kekuatan supernatural itu menjadikan manusia sebagai mangsa.
Nezha/Nacha adalah salah satu dewa yang punya kepedulian tinggi. Ia, dengan kemampuannya mengendalikan petir dan badai, menolong manusia dari ancaman para siluman. Nezha/Nacha juga memegang teguh nilai keadilan. Jika melihat ketidakadilan, dewa petir tersebut pasti segera turun tangan untuk menegakkannya. Tidak peduli siapa yang menjadi musuhnya — apakah siluman, monster, manusia yang memiliki kekuatan setara dewa, atau dewa yang berkepribadian jahat.
Karena itulah, masyarakat Tiongkok pada masa tersebut menjadikan Dewa Nezha sebagai penolong dan pelindung dari malapetaka atau marabahaya — ikon keberanian dan kekuatan yang bertindak atas panggilan nurani, bukan ambisi pribadi. Sosok Nezha dalam konteks mitologi dewa-dewa Tiongkok yang lebih luas juga dibahas dalam artikel tentang dewa perang dalam mitologi Tiongkok bersama Guan Yu dan Erlang Shen.
Pemujaan terhadap Dewa Nezha
Hingga masa sekarang, kepercayaan terhadap Dewa Nezha masih terpelihara. Meski tidak lagi sebesar pada masa dahulu, sebagian masyarakat Tiongkok tetap memuja dan membangun kuil atau tempat suci untuk dewa petir tersebut.
Seperti yang ada di Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Chengdu, Kuil Nezha menjadi pusat spiritual bagi beberapa komunitas — Taois, Buddhis Tiongkok, dan penganut kepercayaan Tradisional Tiongkok — serta individu yang memujanya. Mereka melakukan ritual dan upacara untuk menghormati Dewa Nezha, termasuk membuat patungnya. Keberadaan patung ini menjadi simbol kehadiran sang dewa di dunia manusia sekaligus sebagai penghubung ke alam spiritual.
Tidak hanya di Tiongkok, kuil bagi Dewa Nezha juga ada di negara-negara lain seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Pembangunan kuil-kuil tersebut dilakukan oleh komunitas diaspora Tiongkok yang merantau dari negeri asal mereka.
Pembangunan kuil bagi dewa petir ini tidak semata-mata sebagai tempat pemujaan dan ritual keagamaan. Kuil Dewa Nezha juga berfungsi sebagai simbol penghormatan, perlindungan, keberuntungan, kesuksesan, serta penjagaan terhadap tradisi dan kebudayaan Tiongkok.
Nezha dalam Folklor dan Sastra Tiongkok
Nama Dewa Nezha/Nacha nyaris tak pernah absen dalam folklor Tiongkok — cerita rakyat dan legenda. Seni dan sastra Tiongkok yang berbasis mitologi dewa dan dewi selalu menyertakan namanya dalam tempat terhormat. Contohnya, kisah Sun Go Kong di Journey to the West memberikan peran penting bagi Dewa Nezha sebagai sosok penyelamat. Sosoknya dalam folklor tersebut digambarkan sebagai seorang remaja yang mengendarai Roda Angin dan Api (Wind Fire Wheels) — senjata ikonik yang kini dikenal luas berkat adaptasi animasinya.
Popularitas Nezha di era modern meledak lewat film animasi Ne Zha (2019) dan sekuelnya Ne Zha 2 (2025) — yang terakhir bahkan menjadi film animasi terlaris sepanjang masa dengan pendapatan lebih dari USD 2,2 miliar di seluruh dunia. Ini membuktikan bahwa mitologi Tiongkok memiliki kekuatan naratif yang melampaui batas zaman. Untuk mengenal lebih dalam dunia donghua dan animasi China yang terinspirasi dari mitologi seperti Nezha, baca artikel tentang nonton donghua sambil belajar Mandarin.
Eksistensi Dewa Petir di Berbagai Mitologi
Bukan hanya di Tiongkok, hampir setiap mitologi di berbagai belahan dunia pasti memiliki dewa dengan kekuatan petir. Gambaran sosoknya pun nyaris serupa — punya kekuasaan besar sehingga memperoleh penghormatan dari dewa-dewa lainnya. Penolong bagi manusia ketika tertindas, penegak keadilan yang berani dan tanpa kompromi.
Sebut saja nama Zeus dalam mitologi Yunani, Jupiter (Romawi), Thor (Norse), Indra (Hindu), Raijin (Jepang), Tlaloc (Aztek), Shango (Yoruba), Perun (Slavik), dan Mamaragan (Aborigin).
Tentu saja ini bukan kebetulan. Ada penjelasan yang membuat setiap peradaban itu seakan memiliki keterkaitan. Penjelasan tersebut bisa dipahami dengan mencermati kondisi psikologis manusia yang mudah takjub sekaligus takut terhadap fenomena di luar kuasanya. Fenomena alam seperti petir, badai, dan hujan adalah salah satu contohnya. Kondisi ini kemudian “melahirkan” sosok dewa petir yang mencitrakan kekuatan, kekuasaan, dan perlindungan.
Dewa petir di setiap peradaban menjadi sosok yang full power (kekuatan tiada tanding), mampu menghukum yang bersalah, memberikan perlindungan dari bahaya, menjadi simbol kekuasaan, dan bisa mengendalikan alam atau makhluk hidup lainnya.
Penjelasan serupa juga terlihat dari sosok Dewa Nacha — dewa yang menjadi tempat perlindungan manusia dari marabahaya. Dewa penolong ketika manusia sedang kesulitan karena adanya kekuatan jahat dari makhluk lain. Karenanya, sosok dewa petir dalam mitologi Tiongkok ini mendapat penghormatan dan cinta dari manusia pemujanya.
FAQ Seputar Dewa Nacha (Nezha)
Apa perbedaan nama Nacha dan Nezha?
Keduanya merujuk pada tokoh mitologi yang sama. “Nezha” (哪吒) adalah romanisasi dari sistem Pinyin yang merupakan standar internasional untuk pengucapan bahasa Mandarin, sementara “Nacha” adalah pelafalan yang lebih umum digunakan dalam konteks budaya Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia — terinspirasi dari dialek Hokkien atau Kanton yang banyak dipakai komunitas Tionghoa perantauan. Dalam kepercayaan dan ritual di Indonesia, nama “Nacha” atau “Na Tcha” lebih lazim ditemukan di kuil-kuil tradisional Tionghoa.
Dalam kisah mitologi mana saja Nezha muncul?
Nezha paling banyak muncul dalam novel klasik Tiongkok Fengshen Yanyi (Investiture of the Gods / Peruntukan Para Dewa), yang ditulis pada era Dinasti Ming (abad ke-16). Ia juga hadir dalam Journey to the West (Xi You Ji) sebagai salah satu sosok pembela kebenaran. Di era modern, kisahnya diadaptasi menjadi serial animasi televisi Tiongkok sejak tahun 1980-an, dan mencapai puncak popularitas global melalui film animasi Ne Zha (2019) dan Ne Zha 2 (2025).
Apa senjata andalan Dewa Nezha?
Nezha digambarkan memiliki beberapa senjata dan perlengkapan ikonik dalam mitologi Tiongkok: Wind Fire Wheels (Roda Angin dan Api) di kakinya yang memungkinkannya terbang; Universe Ring (Qian Kun Quan) yaitu gelang emas yang bisa dilempar sebagai senjata; Red Armillary Sash yaitu selendang merah yang bisa memiliki kekuatan magis; dan Fire-Tipped Spear yaitu tombak berujung api. Kombinasi senjata-senjata ini menjadikan Nezha sebagai salah satu dewa yang paling powerful dan ikonik secara visual dalam mitologi Tiongkok.
Apakah Dewa Nezha masih dipuja di Indonesia?
Ya, pemujaan terhadap Dewa Nacha (Nezha) masih ada di Indonesia, terutama di komunitas Tionghoa yang menganut kepercayaan tradisional. Kuil-kuil yang memiliki altar Dewa Nacha bisa ditemukan di berbagai kota dengan populasi Tionghoa yang signifikan seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Pontianak. Dewa Nacha dipuja terutama sebagai pelindung anak-anak, pengusir roh jahat, dan pembawa keberuntungan. Ritual pemujaan biasanya dilakukan pada hari kelahiran Nezha yang jatuh pada tanggal 9 bulan 9 kalender lunar.
Bagaimana Nezha berbeda dari dewa-dewa Tiongkok lainnya?
Yang membedakan Nezha dari dewa-dewa Tiongkok lainnya adalah sosoknya yang selalu digambarkan sebagai remaja atau anak-anak — bukan sebagai dewasa atau orang tua yang bijaksana. Ini menjadikan Nezha sebagai simbol semangat muda, pemberontakan terhadap ketidakadilan, dan keberanian tanpa batas. Sementara dewa-dewa seperti Guan Yu lebih mencerminkan kebijaksanaan orang dewasa yang matang, Nezha mewakili energi murni dan tekad yang tidak bisa dipadamkan meski menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.
Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 22 April 2026. Artikel ini membahas Dewa Nacha (Nezha) dalam mitologi Tiongkok — mencakup sejarah, kekuatan, pemujaan, peran dalam folklor dan sastra klasik, perbandingan dengan dewa petir di mitologi dunia lainnya, serta relevansinya di era modern melalui adaptasi film dan animasi. Informasi mitologi merujuk pada sumber-sumber folklor Tiongkok klasik termasuk Fengshen Yanyi dan Journey to the West.