Siapa yang tidak kenal Sun Go Kong? Bagi generasi yang lahir tahun 80-an atau 90-an, tokoh fiksi ini sering wara-wiri di layar kaca. Mengambil rupa seekor monyet yang memiliki kekuatan dan kemampuan supernatural setingkat dewa, ia mampu menarik perhatian banyak orang.

Popularitas Sun Go Kong atau Sun Wukong begitu luar biasa. Bahkan Si Kera Sakti (julukan bagi Sun Wukong) termasuk tokoh legenda paling populer dalam khazanah pustaka Tiongkok. Tak tanggung-tanggung, saking populernya sosok Sun Wukong, ceritanya banyak menjadi sumber inspirasi bagi beragam buku, teater, sandiwara, opera, wayang potehi (wayang yang terbuat dari kain), film, dan serial televisi. Bukan hanya di Tiongkok, tapi hingga ke berbagai negara di seluruh dunia.

Sejak pertama kali Wu Cheng’en menulisnya pada abad ke-16 dalam novel berjudul Perjalanan ke Barat (Xi You Ji), sosok Sun Wukong yang merupakan tokoh utama dalam novel tersebut seakan tak ada habis untuk diulas. Bagaimana kisah kelahirannya, perjalanan hidup Sun Wukong hingga ia menjadi murid biksu bernama Xuanzang atau Tong Sam Cong dalam bahasa Hokkien.

Semua kisah tersebut tertulis dengan apik dan bertahan hingga ratusan tahun. Pembacanya turun-temurun bahkan bagi sebagian masyarakat Tiongkok, sosok Sun Wukong mereka yakini sebagai dewa. Bukan sekadar mitologi atau tokoh dari sebuah cerita fiksi. Mereka pun menyembah Sun Wukong dengan ritual-ritual khusus dalam suatu kuil atau tempat suci. Contoh, kuil Sun Wukong di Beijing, Tiongkok; kuil Sun Wukong di Taipei, Taiwan; dan kuil Sun Wukong di Hong Kong.

Pencarian Kitab Suci ke Barat Journey to the west mencari kitab suci ke barat bersama kera sakti sun go kong

Inti cerita dari novel Perjalanan ke Barat mengisahkan tentang perjalanan sekelompok orang untuk mencari kitab suci. Pimpinan kelompok ini adalah seorang biksu Buddha bernama Xuanzang atau Tong Sam Cong. Ia adalah seorang biksu dari Tiongkok, bermaksud melakukan perjalanan ke Barat (India) untuk menemukan kitab suci Buddha yang asli.

Xuanzang menilai telah ada kemunduran agama Buddha di Tiongkok dan banyak ajaran yang jauh melenceng dari aslinya. Untuk itu, ia termotivasi mencari dan menemukan sumber kebenaran dari ajaran Buddha di India atau Tianzhu. Penyebutan Tianzhu dalam novelnya berarti Tanah Suci atau Tanah Buddha yang merujuk sebagai tempat/negeri kelahiran sang Buddha.

Nah, selama perjalanan yang memakan waktu hingga sekitar 9 tahun itu, Xuanzang tidak sendiri. Ada tiga orang murid yang menemani, yakni Sun Wukong (monyet emas), Zhu Bajie (babi hutan), dan Sha Wujing (pengawal sungai).

Ketiga murid Xuanzang ini bukan manusia, tapi mereka adalah siluman dengan kemampuan supernatural luar biasa. Adapun yang paling hebat tentu saja adalah Sun Wukong. Ia punya kekuatan fisik menakjubkan dan mampu mengubah dirinya menjadi wujud apa saja. Piawai memainkan senjata terutama toya/tongkat bernama Ruyi Jingu Bang atau Tongkat Ajaib. Sun Wukong juga kemampuan berupa sihir dan menggunakan kekuatan dari berbagai eleman alam seperti air, angin, dan api. Berbekal semua kemampuan supernatural ini dan karakternya yang pemberani serta setia, ia seringkali menjadi hero yang mampu mengatasi berbagai persoalan selama perjalanan.

Akhir Cerita dari Sun Go Kong

Singkat cerita, perjalanan Xuanzang bersama ketiga muridnya itu penuh dinamika. Melewati beragam tempat berbahaya yang butuh kekuatan fisik dan ketegaran tekad. Begitu pula konflik dan pertentangan sering terjadi di antara mereka. Bahkan, ada banyak aral melintang berupa kesulitan dan mara bahaya seperti pertarungan dengan siluman jahat, iblis, naga, dan makhluk supernatural lain yang merasa terusik dengan perjalanan Xuanzang untuk menemukan sumber kebenaran.

Pada akhirnya, perjalanan panjang nan melelahkan itu berakhir positif dan sarat nuansa optimis. Kitab suci berhasil mereka peroleh dan kemudian Xuanzang membawanya kembali ke Tiongkok untuk ia serahkan kepada kaisar. Oleh kaisar, Xuanzang mendapat gelar Biksu Agung dan mendapat kepercayaan untuk mengajarkannya kepada seluruh rakyat Tiongkok.

Adapun murid-murid Xuanzang, yakni Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing, turut merasakan hal serupa. Mereka bukan hanya mendapat penghormatan sebagai pahlawan, tapi juga memperoleh pencerahan sehingga menjadi dewa-dewa yang melindungi rakyat Tiongkok.

Mengapa Sun Go Kong Tokoh Utamanya?

Jika menelaah kisah dalam novel Perjalanan ke Barat, boleh jadi tebersit pertanyaan tentang tokoh utama. Mengapa Sun Go Kong atau Sun Wukong yang menjadi tokoh utamanya? Padahal inti ceritanya mengenai perjalanan biksu Xuanzang ke Barat demi menemukan kebenaran (kitab suci). Bukankah lebih tepat jika tokoh utama dalam novel tersebut adalah Xuanzang?

Ada dua jawaban dari pertanyaan ini yang sekiranya masuk akal. Pertama, boleh jadi Wu Cheng’en sebagai penulisnya memilih Sun Wukong karena ia adalah tokoh rekaan yang terinspirasi dari mitologi klasik Tiongkok. Sehingga, karakternya lebih fleksibel dan menarik untuk penulisnya kembangkan.

Adapun Xuanzang ternyata adalah tokoh asli dalam sejarah. Seorang biksu Buddha yang hidup pada masa Dinasti Tang. Lahir tahun 602 M dan meninggal tahun 664 M. Tentu saja jika Xuanzang menjadi tokoh utama dalam sebuah novel, maka kreativitas penulis menjadi lebih terbatas. Alih-alih menjadi novel, jika Xuanzang menjadi tokoh utama, maka boleh jadi bukunya berupa catatan sejarah atau biografi.

Alasan kedua, cerita novel Perjalanan ke Barat lebih menitikberatkan pada sepak terjang dari Sun Wukong dalam melindungi dan membela biksu Xuanzang. Tentu saja ini membuat peran Sun Wukong lebih besar daripada tokoh-tokoh lain sehingga sudah tepat jika ia menjadi tokoh utama.

Apapun alasannya, keputusan Wu Cheng’en menempatkan Sun Wukong atau Sun Go Kong sebagai tokoh utama berdampak positif hingga kini. Novel Perjalanan ke Barat menjadi bacaan klasik yang menginspirasi jutaan orang dan tokoh-tokohnya menjadi legenda.