Weifang dan Warisan Budaya Layang-Layang Tiongkok

Terletak di Provinsi Shandong, Tiongkok, Kota Weifang dikenal sebagai pusat tradisi dan produksi layang-layang yang telah berlangsung selama berabad-abad. Bahkan setiap tahun kota ini menjadi salah satu tempat penyelenggaraan festival layang-layang terbesar di seluruh dunia. Pesertanya tak hanya berasal dari China saja, namun banyak yang datang dari luar negeri termasuk Indonesia.

Karena kontribusinya yang besar dalam seni dan industri layang-layang, Weifang sering dijuluki sebagai “Ibu Kota Layang-Layang Dunia”. Layang-layang sudah dikenal di Tiongkok sejak lebih dari 2.000 tahun lalu, bahkan diperkirakan muncul pada abad ke-4 SM. Bukan itu saja, warga di sana mempunyai mitos atau kepercayaan atas keberadaan ‘dewa layang-layang’, terutama di kalangan pembuat atau perajin.

Pada awalnya, layang-layang di Tiongkok digunakan oleh militer sebagai alat pengintaian dan komunikasi medan perang. Jangan heran karena waktu itu benda ini memiliki peran vital sebagai alat pengamanan dan pengintaian. Namun dalam perkembangannya secara bertahap berubah fungsi sebagai permainan sekaligus simbol budaya.

Masyarakat Tiongkok memandang layang-layang sebagai simbol kerinduan kepada langit dan harapan kesejahteraan. Adanya pemikiran seperti ini memunculkan berbagai perubahan dalam permainan layang-layang, baik dari teknik pembuatan, desain, hingga gaya melayang. Semua perubahan ini menciptakan keragaman yang menarik, baik bagi para pembuat maupun penikmatnya.

Inovasi Modern dalam Tradisi Layang-Layang Weifang

Sejak era dulu sampai sekarang, Kota Weifang memang sangat terkenal sebagai sentra produksi layang-layang. Dalam perkembangan terkini, banyak perajin yang berani melakukan berbagai inovasi meski tetap menerapkan kaidah-kaidah tradisional. Selain itu produknya telah menjadi sebuah industri yang mampu memberi kesejahteraan bagi para pelakunya.

Tidak sedikit di antara mereka yang menghadirkan bentuk sederhana namun dengan gaya lebihmodern dan kaya pola. Banyak penggemar layang-layang yang menyukai konsep ini, sehingga pembelinya tidak hanya berasal dari Tiongkok saja, namun banyak pula pemesan dari sejumlah negara lain di Asia, Eropa, dan Amerika.

Selain itu ada sebagian perajin yang mulai mencoba menerapkan teknologi yang lebih kekinian dan bersifat berkelanjutan. Misalnya melalui pemotongan laser dan sistem pencetakan digital atau 3D. Namun di sisi lain mereka tetap berupaya untuk selalu pakai bahan ramah lingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian alam.

Mereka juga mengaku bahwa keahliannya untuk membuat layang-layang telah mengalami banyak kemajuan. Misalnya, jika dahulu perajin menggunakan kertas sebagai bahan utama, kini mereka juga memakai nilon atau bahan sintetis lain yang lebih tahan lama. Selain itu tidak merasa kesulitan lagi ketika harus membuat desain yang lebih rumit, misalnya bentuk kelabang.

Desa Penghasil Layang-Layang dan Peran Anak Muda

Di Kota Weifang, saat ini terdapat sekitar 100 badan usaha yang bergerak di bidang manufaktur hingga pemrosesan layang-layang. Sebagian besar berlokasi di desa Wangjiazhuangzi dengan jumlah tenaga kerja mencapai sekitar 10.000 orang. Hal ini tidak mengherankan, karena sekitar 80% produksi layang-layang Weifang berasal dari desa ini dan sebagian besar diekspor.

Dengan adanya kemajuan tersebut, makin banyak anak muda di Wangjiazhuangzi yang tertarik menekuni industri layang-layang. Untuk kegiatan pemasaran, mereka tidak ragu menggunakan fasilitas e-commerce. Kemudian ketika berhasil menciptakan desain baru, tidak lupa pula untuk mengurus hak cipta demi memberi perlindungan hak-hal intelektual.

Festival Layang-Layang di Weifang

Asal-Usul Festival Layang-Layang Weifang

Festival layang-layang internasional pertama di Weifang diadakan pada tahun 1984, dengan dukungan pemerintah lokal dan asosiasi layang-layang internasional. Sejak itu, festival ini menjadi agenda tahunan yang diadakan setiap bulan April. Sehingga untuk tahun 2025 ini telah menginjak gelaran yang ke-41 kali dan jumlah pesertanya terus bertambah banyak.

Ketika event budaya tersebut terselenggara, hadir layang-layang dengan bentuk beserta ukuran yang bermacam-macam. Seperti binatang laut raksasa, kereta cepat yang terdiri dari puluhan gerbong, perwujudan dewa-dewa, dan masih banyak lagi. Semua mampu menciptakan suasana meriah dan penuh kegembiraan baik bagi setiap peserta maupun para penonton.

Festival Ikonik yang Mendunia

Festival layang-layang internasional di Weifang telah menjadi salah satu atraksi budaya paling ikonik di Tiongkok. Terutama sejak negeri tirai bambu ini memunculkan prakarsa reformasi dan keterbukaan sekitar tahun 1970-an. Sebelumnya, Tiongkok dikenal sebagai negara yang cukup tertutup terhadap dunia luar, hingga menerapkan kebijakan reformasi dan keterbukaan pada akhir 1970-an.

Dalam penyelenggaraan tahun 2024 kemarin, setidaknya ada 600 pecinta layang-layang yang datang dari 59 negara. Mereka turut berpartisipasi dan menyemarakkan pesta permainan tersebut apalagi ada kegiatan lain yang tidak kalah menyenangkan. Seperti lomba bikin desain layang-layang, menerbangkan, adu layang-layang di udara, dan sebagainya.

Dari yang berbentuk naga, panda, mobil canggih, karakter mitologi Tiongkok, semua terlihat memikat hati saat mengudara di atas langit Kota Weifang. Banyak peserta atau perajin layang-layang yang dengan percaya diri memamerkan karya terbaru mereka. Jumlah layang-layang yang dipamerkan mencapai lebih dari 1.000 buah dari berbagai negara.

Karya Unik dari Anak Indonesia

Di antara ratusan peserta dan ribuan layang-layang tersebut, terdapat satu yang merupakan hasil karya anak Indonesia bernama Liannawati Lie. Dia memiliki keahlian membuat desain layang-layang dan pada tahun 2024 kemarin mendapat kesempatan memamerkan karyanya. Sebelumnya, Liannawati juga pernah menjadi pemenang pada ajang yang sama pada tahun 2021.

Di Kota Weifang, Liannawati menampilkan sebuah layang-layang berwujud Subali, tokoh dari kisah Ramayana. Tingginya mencapai 12 meter dan diameter 3,5 meter, sehingga berhasil mendapat sambutan positif dari penonton. Terlebih, nama Liannawati juga telah populer karena sering ikut berpartisipasi dalam perlombaan layang-layang di berbagai negara lain.

Menikmati Budaya Sambil Membangun Masa Depan Akademik

Bagaimana? Sangat menarik bukan mengadakan acara liburan di Kota Weifang sambil melihat dan menikmati keunikan festival layang-layang internasional. Kendati demikian jika memiliki tujuan lain misalnya ingin kuliah di Tiongkok, terdapat Weifang University dan Weifang Medical University. Saat ini, kedua universitas tersebut telah membuka kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan di sana.

Dengan demikian, kunjungan ke Weifang tidak hanya menghadirkan pengalaman budaya yang berkesan, tetapi juga dapat menjadi langkah awal dalam merintis masa depan akademik yang menjanjikan.