
Contents
Embroidery sebagai Warisan Peradaban
Cara menghias kain menggunakan benang dan jarum (seni sulaman atau embroidery) merupakan salah satu keterampilan paling awal dalam sejarah peradaban manusia. Fakta ini dapat ditelusuri melalui jejak sejarah yang berasal dari ribuan tahun silam. Embroidery atau sulaman telah ada pada kain kuno dari berbagai peradaban tertua di dunia, seperti Mesir, Mesopotamia, dan Tiongkok. Beberapa temuan arkeologis menunjukkan adanya ornamen kain yang diduga menyerupai teknik sulaman dari sekitar 30.000 tahun yang lalu, meskipun masih diperdebatkan apakah itu benar-benar merupakan sulaman. Para arkeolog mendapatkan temuan penting ini di wilayah Rusia pada zaman sekarang.
Dari Fungsi Praktis Menjadi Ekspresi Estetik

Kemungkinan besar aktivitas ini berawal dari upaya memperbaiki atau memperkuat pakaian menggunakan benang. Kemudian berkembang tak hanya bersifat fungsional, tapi juga menjadi ekspresi seni yang bernilai estetik.
Seni menyulam di berbagai budaya pun bertransformasi sebagai simbol identitas, kekayaan, dan status sosial. Sebagai contoh, para elite kerajaan di Timur Tengah dan Bizantium lazim menggunakan kain bersulam emas atau perak untuk menunjukkan status sosial mereka. Hal serupa juga terlihat di peradaban Tiongkok kuno. Kaisar dan kaum bangsawan Dinasti Han dan Tang menggunakan pakaian bersulam sebagai identitas mereka yang berbeda dengan rakyat biasa.
Contoh lainnya adalah Bayeux Tapestry, sebuah karya seni sulaman yang sangat terkenal pada abad ke-11. Karya ini berbentuk gulungan kain horizontal sepanjang 70 meter dan selebar 50 cm.
Karya monumental ini tidak hanya menggambarkan keindahan sulamannya, tetapi juga menjadi bukti bahwa seni sulaman memiliki nilai sejarah dan menyimpan berbagai simbol penting. Memberi informasi visual tentang pakaian, persenjataan, alat angkut (kapal), dan kebiasaan sehari-hari masyarakat Eropa abad ke-11.
Perkembangan Modern Seni Menyulam

Kini, seni menyulam semakin berkembang. Media yang digunakan tidak hanya berupa kain, tetapi juga mencakup kulit, kanvas, dan bahan sintetis. Begitu pula dengan cara pembuatan yang semula memakai tangan (manual/hand embroidery), kini bisa juga dengan bantuan mesin (machine embroidery).
Pesona Seni Embroidery Tiongkok

Nyaris setiap budaya di dunia ini mempunyai tradisi menyulam. Ada batik sulam di Nusantara, Zardozi di India, atau Sashiko di Jepang. Namun, di antara semua jenis sulaman tersebut, tampaknya tidak ada yang dapat menandingi keistimewaan sulaman khas Tiongkok, yaitu Cìxiù (刺绣).
Istilah Cìxiù berasal dari dua kata dasar. Kata “刺” (cì) yang berarti menusuk menggunakan jarum, dan kata “绣” (xiù) bermakna aktivitas menyulam. Oleh karena itu, Cìxiù merujuk pada pengertian yang serupa dengan istilah embroidery.
Keistimewaan Cìxiù atau seni embroidery khas Tiongkok tidak semata-mata karena nilai historinya. Namun, pesona Cìxiù juga terletak pada penggunaan benang berkualitas tinggi dan teknik menyulam yang sangat rumit, sehingga menghasilkan sulaman yang halus dan detail, menyerupai lukisan fotorealistik.
Cìxiù menggunakan benang dari sutra yang teksturnya luar biasa halus dan berkilau ketika terkena cahaya. Berbeda dengan sulaman dari Eropa atau tempat lain yang memakai benang dari bahan katun, wol, atau emas dan perak. Hasilnya tentu masih kalah memikat daripada menggunakan benang sutra seperti Cìxiù.
Begitu pula penggunaan teknik Sulam Dua Sisi (Double-Sided Embroidery), hanya ada pada Cìxiù. Teknik ini amatlah rumit karena membuat gambar atau pola sulaman bagian depan maupun belakang terlihat tidak berbeda. Sama-sama halus dan tidak menampakkan simpul benang seperti lazimnya jenis sulaman yang lain.
Selain itu, Cìxiù juga mengandung kedalaman filosofis. Nilai-nilai kebajikan atau kearifan lokal tergambar jelas pada penggunaan simbol-simbol khas Tiongkok seperti naga, phoenix, ikan koi, penyu, bambu, dan bunga lotus. Ini berbeda dengan embroidery dari tempat lain, seperti India yang cenderung menggunakan pola geometris atau motif dari agama Hindu. Adapun sulaman Jepang lebih menonjolkan keindahan alam yang minimalis dan menenangkan (meditatif).
Semua keunikan tersebut pada akhirnya melahirkan sebuah karya bernilai seni. Nilai prestisius Cìxiù menjadikannya incaran para kolektor dan memberikan kebanggaan bagi yang berhasil memiliki.
Empat Aliran Besar Cìxiù
Jika hendak berburu Cìxiù dengan segala pesonanya, langkah awal haruslah memahami bahwa Cìxiù tidak seperti di budaya lain yang lazimnya hanya punya satu gaya dominan. Seni embroidery khas Tiongkok ini memiliki empat aliran atau gaya utama, yakni Su Xiu, Xiang Xiu, Yue Xiu, dan Shu Xiu.
Setiap aliran memiliki kekhasan dan pesonanya masing-masing. Seperti aliran Su Xiu dengan teknik Sulam Dua Sisi, Xiang Xiu yang gambarannya terlihat sangat hidup seperti lukisan, pemilihan warna yang cerah dan sangat kontras pada aliran Yue Xiu, dan Shu Xiu yang menggunakan benang berwarna-warni sehingga cocok untuk dekorasi rumah.
Lalu, bagaimana cara menemukan dan memperoleh Cìxiù berkualitas tinggi? Jika hendak bertandang ke Tiongkok, maka ada empat kota yang tidak boleh terlewatkan sebagai destinasi wisata belanja. Keempat kota itu adalah Suzhou (pusat aliran Su Xiu), Changsha (pusat aliran Xiang Xiu), Guangzhou (pusat aliran Yue Xiu), dan Chengdu (pusat aliran Shu Xiu).
Ada banyak pengrajin embroidery khas Tiongkok di keempat kota tersebut. Mereka biasanya berkreasi di studio rumahan, galeri seni (art gallery), museum, kawasan budaya dan pusat kerajinan, festival dan pameran budaya, serta di pasar tradisional.
Khusus di pasar tradisional, banyak pengrajin lokal yang memasarkan produk sulaman yang terbuat secara manual seperti baju, lukisan sulam, dan hiasan rumah. Adapun harganya bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga belasan juta rupiah.
Keindahan Seni Sulaman Dunia dari Tiongkok
Seni sulaman atau embroidery bukan sekadar teknik menghias kain, melainkan warisan budaya yang mencerminkan nilai, estetika, dan sejarah peradaban manusia. Dari kebutuhan fungsional di masa prasejarah hingga menjadi simbol status sosial dan ekspresi seni di berbagai belahan dunia, embroidery terus berevolusi tanpa kehilangan pesonanya. Keunikan benang sutra, teknik Sulam Dua Sisi, hingga makna simbolis yang terkandung di dalamnya menjadikan Cìxiù tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga warisan budaya yang patut dijaga dan dikenal lebih luas oleh dunia.
Apakah Anda tertarik untuk berburu seni sulaman Tiongkok yang kerap disebut sebagai salah satu puncak tertinggi dalam sejarah sulaman dunia? Dapatkan informasi dan artikel menarik lainnya seputar budaya Tiongkok di https://brccindonesia.com/. Dapatkan wawasan mendalam tentang tradisi, seni, sejarah, dan kehidupan masyarakat Tiongkok. Tertarik mengenal budaya Tiongkok lebih dalam? Yuk, mulai belajar bahasa Mandarin bersama BRCC Indonesia dan buka peluang baru untuk masa depan!