
Terletak di bagian tenggara, Kota Huizhou merupakan bagian dari provinsi Guangdong dengan luas wilayah sekitar 11.200 km². Di bagian utara dan timur, penuh dengan bukit, lembah, dan pegunungan. Sedangkan di bagian selatan, terdapat garis pantai yang sangat panjang, sehingga mampu menghadirkan panorama alam yang begitu indah bagi semua orang.
Salah satu keindahan tersebut tercipta di Danau Barat Huizhou yang terbagi dalam lima danau dengan 18 spot pemandangan. Di sekelilingnya terdapat perbukitan dan puluhan paviliun kuno yang memunculkan keserasian sempurna antara eloknya alam dan warisan budaya yang sangat unik. Kombinasi ini selalu terasa sejuk dan sedap dalam pandangan mata.
Sejarah Jalan Shuidong

Simbol Kegigihan Masyarakat Huizhou
Di pusat Kota Huizhou, terdapat sebuah jalan yang sangat legendaris bernama Jalan Shuidong. Pada era pemerintahan dinasti Ming antara tahun 1368 – 1644, jalan yang sudah ada sejak tahun 1085 ini sudah berperan sebagai sentra komersial. Bahkan berlanjut hingga masa dinasti Qing dari tahun 1644 – 1911 dan saat ini tetap ramai sebagai pusat berbagai kegiatan warga.
Kendati panjangnya hanya sekitar 730 meter saja atau tidak lebih dari 1 kilometer, kawasan ini merupakan saksi bisu atas berbagai perubahan. Usai pembangunan, banyak warga yang tertarik untuk tinggal di jalan tersebut. Sehingga tercipta sebuah komunitas yang bersifat multikultural sekaligus inklusif karena penduduknya berasal dari suku yang berbeda-beda.
Perang Tiongkok Melawan Tentara Jepang
Saat berlangsung perang sengit antara pasukan Tiongkok melawan tentara Jepang tahun 1938, terdapat ratusan toko yang terbakar dan terlantar di kawasan tersebut. Akan tetapi meski sempat mengalami keterpurukan, warga Kota Huizhou tidak ingin menyerah begitu saja. Mereka tetap memiliki semangat tinggi membangun tempat tinggalnya yang telah porak poranda.
Usai perang berakhir, penduduk makin rajin melakukan renovasi dan bikin bermacam-macam landmark baru di Jalan Shuidong. Dengan adanya spirit inilah, jalan tersebut menjadi lambang kegigihan masyarakat Huizhou dalam membangun wilayahnya. Cerminan tekad kuat, pantang menyerah, dan ketekunan tertanam kuat di setiap titik kawasan ini.
Dalam perkembangan terkini, Jalan Shuidong mempunyai fungsi sebagai pusat kegiatan warga, terutama bagi yang ingin mencari kesuksesan berbisnis. Melalui reputasi yang telah terbangun sejak zaman kerajaan hingga kemerdekaan, banyak brand terkenal Tiongkok yang buka usaha di sini. Setiap hari selalu terlihat semarak oleh kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara.
Jembatan Echeng
Selama ini Kota Huizhou sering mendapatkan sebutan sebagai kota echeng yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti Kota Angsa. Berdasarkan alasan ini pemerintah Tiongkok ketika membangun sebuah jembatan di kota tersebut, langsung memberi nama Echeng Bridge atau jembatan angsa. Proyek sepanjang 1.2295,5 meter tersebut mulai uji coba operasional pada akhir 2024 dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2025.
Dalam menjalankan fungsinya Echeng Bridge berperan sebagai penghubung antara Huizhou dan beberapa kota lain di Tiongkok Selatan. Selaras dengan namanya, jembatan ini punya aksesoris dengan bentuk yang sangat unik sekaligus menarik berupa dua angsa di bagian atas. Posisinya yang saling berhadapan mampu menambah nilai estetika infrastruktur tersebut.
Apalagi dengan adanya hiasan lain seperti lengkungan yang memiliki kemiripan dengan tubuh angsa, terlihat semakin lengkap keindahannya. Terlebih pada malam hari, nilai kecantikannya tampak lebih sempurna melalui cahaya lampu yang menyinari. Maka tidak heran jika banyak yang menganggap jembatan ini sebagai simbol kemajuan dan kemakmuran Huizhou.
Hubungan Akrab antara Huizhou dan Indonesia
Meningkatnya Hubungan Ekonomi antara Tiongkok dan Indonesia
Selama beberapa tahun terakhir, terjalin hubungan yang semakin akrab antara Tiongkok dan Indonesia. Negara ini acap jadi pilihan utama bagi para pelaku usaha negara tersebut mulai menjajaki peluang ekspansi ke Indonesia dan banyak di antaranya yang berasal dari Kota Huizhou. Bahkan melalui biro perdagangan kota setempat, pada awal 2025 kemarin digelar sebuah konferensi.
Konferensi Perdagangan: Langkah Awal Ekspansi ke Indonesia
Konferensi bertajuk ‘Pertukaran Pengembangan Peralatan Rumah Tangga’ ini berlangsung di Huizhou dengan dukungan penuh dari beberapa badan penting. Seperti Dewan Huizhou untuk Promosi Perdagangan Internasional hingga Dewan Shenzhen untuk Perdagangan Internasional. Selain itu ada Asosiasi Riset E-Commerce Lintas Batas Shenzhen, dan masih banyak lagi.
Dasar dari penyelenggaraan konferensi ini antara lain adalah karena Indonesia memiliki peran besar di kawasan ASEAN. Jumlah penduduknya mencapai lebih dari 270 juta jiwa dan 60% di antaranya berasal dari golongan muda yang usianya kurang dari 35 tahun. Mereka ini sangat reseptif atau terbuka terhadap teknologi dan produk terbaru.
Indonesia sebagai Pasar Potensial dengan Populasi Muda dan Terbuka Terhadap Teknologi
Dengan adanya struktur populasi dan situasi tersebut, tercipta permintaan yang lebih besar dari konsumen. Terutama terhadap barang konsumsi yang dapat bergerak cepat, layanan online atau internet, hingga hiburan digital. Semua memberi peluang besar untuk mengembangkan usaha produksi dan dagang, khususnya barang-barang elektronik.
Berdasarkan inilah ada perusahaan dari Kota Huizhou yang tertarik melakukan penjajakan pasar di Indonesia. Apalagi ada fakta yang menunjukkan bila kegiatan niaga di kedua wilayah ini telah mengalami peningkatan hampir 10% setiap tahun. Berdasarkan tren pasar, banyak konsumen muda Indonesia yang menunjukkan ketertarikan terhadap produk elektronik asal Tiongkok, termasuk dari Huizhou.
Keuntungan untuk Indonesia dan Huizhou
Konsumen muda Indonesia akan memberi kemudahan bagi perusahaan dari Huizhou meraih pangsa pasar Indonesia. Misalnya melalui e-commerce lokal dan konferensi dagang tersebut memiliki peran untuk merintis platform layanan tersebut. Sementara itu pada sisi lain, pemerintah Tiongkok dan pemerintah Indonesia telah sepakat untuk kerja sama melancarkan rencana tersebut.
Contohnya antara lain dengan menggelar pelatihan mengembangkan industri lokal, membuka akses perdagangan secara lebih luas, dan sebagainya. Sehingga nantinya bisa tercipta hubungan bilateral yang lebih positif dan dapat memberi manfaat besar bagi kedua belah pihak terutama bagi warga Indonesia sendiri dan Tiongkok secara umum beserta Kota Huizhou secara khusus.