Tidak banyak tokoh dalam sejarah yang pengaruhnya masih bertahan hingga ribuan tahun. Sun Tzu adalah salah satu tokoh sejarah yang langka itu. Hidup pada abad ke-6 SM, namanya tetap terkenal. Bukan hanya bagi masyarakat Tiongkok, tapi juga masyarakat dunia. Lintas negara, lintas zaman.
Namanya menjadi metafora untuk merujuk pada seseorang dengan kebijaksanaan (wisdom) dan pola berpikir strategis di atas rata-rata manusia. Ikon pemimpin kharismatik yang mampu mengubah zaman dan panutan bagi banyak orang. Panutan yang perkataannya menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang dengan latar belakang kehidupan berbeda-beda.
Lalu, apa yang membuat namanya seakan tak lekang termakan masa? Apakah karena keahliannya dalam memimpin pasukan sebagai jenderal besar dan memperoleh kemenangan yang legendaris? Atau karena kepiawaian berpolitik dan mengelola pemerintahan sehingga terkenal sebagai politikus handal? Satu-satunya jawaban adalah jejak pemikiran yang ia tinggalkan dalam buku The Art of War (Seni Perang). Buku yang hingga kini memiliki pengaruh signifikan bagi peradaban modern.
Buku tersebut dinilai sangat berpengaruh dalam perubahan dunia. Setara dengan buku fenomenal lainnya, seperti The Republic (360 SM) karya Plato, The Prince (1513) karya Niccolo Machiavelli, On the Origin of Species (1859) karya Charles Darwin, Das Kapital (1867) karya Karl Marx, dan The Interpretation of Dreams (1900) karya Sigmund Freud.
The Art of War yang Abadi
Tanpa The Art of War, Sun Wu (nama lain dari Sun Tzu) bukanlah siapa-siapa. Ia bisa saja tetap terkenal sebagai salah seorang jenderal besar dari negara Wu di Tiongkok timur pada masa Dinasti Zhou (1046 SM–256 SM). Tapi, kiranya hanya sebatas itulah pena sejarah menulis tokoh klasik tersebut.
Sejatinya, The Art of War adalah buku yang merekam buah pemikiran Sun Tzu mengenai strategi militer, taktik, serta prinsip dalam perang. Terdiri atas 13 bab dengan bahasa lugas sehingga mudah bagi siapa saja untuk memahami.
Namun, buku ini bukan sekadar mengulas beragam perencanaan militer untuk memperoleh kemenangan dalam perang, atau berisi teori perang yang sistematis dan komprehensif. The Art of War punya kandungan mendalam, berisi nilai-nilai universal sehingga penerapannya dapat lintas ilmu dan lintas masa.
Lintas ilmu artinya berbagai petuah Sun Tzu tak hanya berguna dalam ilmu kemiliteran, tapi juga ilmu-ilmu lainnya, seperti filsafat, psikologi, politik dan pemerintahan, ekonomi, serta olahraga. Adapun lintas masa, maksudnya apa yang ia katakan tetap relevan dengan kondisi sekarang. Mengabadi dan menginspirasi banyak orang.
Ambilah contoh perkataan Sun Tzu : “Kenali dirimu sendiri, kenali musuhmu, dan kenali medan pertempuran.” Lalu, “Perang adalah kegiatan yang paling penting dalam negara, dan harus dilakukan dengan hati-hati.” Atau perkataan: “Seranglah musuhmu di titik lemahnya, dan hindari titik kuatnya.” Semua perkataan ini memiliki nilai universal yang tak hanya tepat penggunaan dalam dunia militer, tapi juga dunia non militer pada zaman-zaman yang berbeda.
Karena itulah, tokoh-tokoh sejarah seperti Mao Zedong, Napoleon Bonaparte, Carl von Clausewitz termasuk pembaca dari The Art of War. Mereka kemudian menerapkannya dan menuai hasil yang positif. Menjadi pemimpin kharismatik dan inspiratif.
Pun tokoh-tokoh ekonomi seperti George Soros, Warren Buffett, Peter Drucker, dan Alan Greenspan yang menjadikan The Art of War sebagai bacaan wajib. Mereka mengakui jika prinsip-prinsip perang dari Sun Tzu sangat berguna dalam menyusun strategi bisnis dan investasi.
Sejarah Sun Tzu

Sun Tzu adalah jenderal yang memiliki pengaruh besar bagi negara Wu. Raja dan rakyat negara Wu begitu mencintai dan menghormatinya. Sun Tzu pun membalas sikap tersebut dengan dedikasi dan loyalitas hingga akhir hayat. Tidak ada yang membantah kenyataan tersebut. Tapi, boleh jadi tidak ada yang mengira jika ternyata negara Wu bukanlah tanah kelahirannya.
Ya. Sun Tzu tidak lahir di negara Wu. Menurut sebagian besar sumber sejarah, ia berasal dari negara Qi, di mana selama masa mudanya bakti dan potensinya kurang mendapatkan apresiasi. Ia seakan terbuang di tanah kelahirannya. Sun Tzu pun melihat bahwa nilai-nilai kebajikan yang ia yakini seperti keadilan dan kebijaksanaan, penerapannya ada di negara Wu. Hal inilah yang memantapkan tekad untuk “membelot” ke negara Wu dan membelanya hingga kematian menjemputnya pada tahun 496 SM.
Keputusan yang bijak. Meski negara Wu pada akhirnya mengalami kekalahan dari negara Chu pada tahun 473 SM, dan warisan kebijakan Sun Tzu tidak sanggup mencegah hal tersebut, ada pesan moral dari peristiwa sejarah tersebut. Bahwa dedikasi dan loyalitas tidak harus selalu berhubungan atau terikat dengan rasa primordial yang sempit. Ada kalanya dedikasi dan loyalitas dapat tumbuh dan bersemi karena lingkungan yang menghargai dan mengikuti kata hati.