Film Once Upon a Time in China (1991) yang diperankan oleh Jet Li menjadi populer karena mengangkat sosok Wong Fei Hung (1847-1925). Walaupun ada beberapa peristiwa yang tersaji secara dramatis, film ini berupaya menceritakan sosok asli seorang ahli kungfu, tabib, dan pahlawan rakyat China dari Desa Nanhai, Guangdong.
Tak hanya di film, ketenaran Master Wong (panggilan hormat untuk Wong Fei Hung) begitu luar biasa. Terutama bagi rakyat China, nama besar Master Wong menyusup di benak banyak orang. Tua muda, miskin kaya, laki-laki perempuan, pasti mengenal sepak terjang lelaki yang menjadi inspirasi banyak orang itu.
Jago Kungfu
Ketenaran Master Wong salah satunya karena keterampilan dalam seni bela diri khas Tiongkok (kungfu). Ia menguasai gaya kungfu Hung Gar yang masih eksis hingga sekarang. Ketangkasan Master Wong begitu memikat banyak orang dan memberi kewibawaan dalam pergaulan sosial.
Master Wong memperoleh gaya kungfu ini dari didikan ayahnya (Wong Kei-ying) sejak berusia belia. Ia kemudian mengembangkannya hingga menjadi salah satu bela diri yang tak hanya mematikan dalam pertarungan, tapi juga memiliki seni keindahan dalam gerak.
Siapa saja bisa mempelajari gaya kungfu Hung Gar, baik itu anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Apalagi sebagai salah satu gaya kungfu tradisional Cina dari provinsi Guangdong, gaya kungfu Hung Gar dapat menjaga stamina dan kebugaran tubuh. Tentu manfaat ini terasa jika berlatih secara teratur dalam jangka waktu cukup lama.
Adapun ciri khas dari gaya kungfu Hung Gar, terletak pada gerakan yang kuat dan stabil (fokus kekuatan dan ketangkasan), teknik tinju yang unik (cepat dan kuat), dan penggunaan kaki secara efektif (lincah tapi bertenaga). Semua aspek ini berpadu secara harmoni sehingga menghasilkan kekuatan (power) dan ketangkasan (agility).
Ada banyak cerita yang beredar tentang kehebatan Master Wong sebagai seorang ahli kungfu ternama. Tidak hanya ketika satu lawan satu, Master Wong juga mampu menundukkan sekumpulan orang yang rata-rata hebat dalam hal pertarungan dengan tangan kosong ataupun bersenjata (pisau, pedang, atau golok).
Tabib Andal
Sejak kecil, Master Wong juga mempelajari ilmu kedokteran tradisional China dari ayahnya. Sebagai ahli kungfu dan tabib (sebutan bagi dokter China tradisional), Wong Kei-ying mewariskan ilmu pengobatan kepada Master Wong sehingga ia pun terkenal sebagai tabib yang andal.
Meneruskan jejak ayahnya, Master Wong ketika dewasa tak hanya mengajarkan kungfu kepada murid-muridnya, tapi juga ilmu kedokteran tradisional China. Ia membuka sekolah kungfu dan klinik kedokteran di Guangzhou.
Master Wong tak segan-segan menolong siapa saja yang membutuhkan jasa pengobatan tanpa meminta imbalan. Kemurahan hati Master Wong membuat banyak orang menghormati dan mencintai sosok tabib sekaligus pendekar kungfu tersebut.
Reputasi Master Wong sebagai salah satu tabib Tiongkok yang terkenal pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 bukanlah kaleng-kaleng. Ia pernah mengobati seorang pasien yang menderita penyakit tulang sangat parah dan berhasil menyembuhkannya. Ia juga berhasil menyembuhkan penyakit internal dari seorang pasien setelah sebelumnya tidak kunjung memperoleh kesembuhan. Master Wong pun punya andil yang besar dalam mengobati wabah penyakit kolera di China ketika itu.
Teknik akupuntur menjadi metode utama dalam pengobatan Master Wong. Terkadang teknik tersebut ia kombinasikan dengan jenis obat-obatan hasil penemuannya. Master Wong tergolong orang yang selalu membuka pikiran untuk mempelajari beragam obat-obatan dan teknik pengobatan dari sumber-sumber luar (selain dari China).
Pahlawan Rakyat
Sisi kepahlawanan Wong Fei Hung berakar dari karakter suka menolong orang lain tanpa pamrih. Rasa kemanusiaannya sangat tinggi sehingga tidak menoleransi jika ada kezaliman atau melihat ketidakadilan. Master Wong pasti turun tangan tanpa menunggu permintaan tolong.
Ada banyak cerita tentang sepak terjang Master Wong membela yang tertindas, termasuk melawan invasi dari bangsa asing yang berupaya menjajah China.
Catatan: Meskipun cerita rakyat menyebutkan bahwa ketika pecah Perang China-Jepang (1894-1895) Master Wong konon berada di garda terdepan dalam perlawanan, peran resmi beliau dalam peristiwa tersebut tidak didokumentasikan secara historis dan lebih bersifat legendaris.
Begitu pula saat terjadi Revolusi Xinhai (1912), meskipun cerita rakyat menyebutkan bahwa Master Wong terlibat aktif dan tergabung dalam Tongmenghui, peran tersebut belum mendapatkan bukti sejarah yang kuat.
Cerita-cerita kepahlawanan Master Wong ini menginspirasi banyak orang. Tak hanya bagi rakyat Tiongkok, tapi juga bagi masyarakat dunia. Ia menjadi ikon China dalam hal kemampuan dan keberanian yang nyaris tiada tanding. Mempromosikan budaya dan tradisi Tiongkok ke seluruh negeri. Sosok hero yang kisah hidupnya menjadi legenda.
Akhir Sang Legenda
Tanggal 25 April 1925, Master Wong tutup usia di Hong Kong. Menyusul kepergian istri tercintanya, Mok Lan yang meninggal pada 1924. Kematian Master Wong disebabkan oleh komplikasi penyakit ginjal dan diabetes yang ia derita selama beberapa tahun. Meski berupaya menjalani pengobatan, faktor usia yang telah menua semakin memperburuk kesehatannya.
Master Wong kemudian bersemayam di Pemakaman Huangbei, Hong Kong. Ia meninggalkan empat orang anak yakni Wong Hon-lam (1872-1925), Wong Hon-hei (1874-1946), Wong Hon-yuen (1876-1951), dan Wong Hon-keung (1878-1944) yang kemudian melanjutkan tradisi keluarga besar sebagai ahli kungfu dan tabib.
Walaupun legenda itu kini telah tiada, sosoknya tetap abadi. Tak hanya tercatat di lembaran sejarah, kisah hidup Wong Fei Hung terekam jelas dalam cerita rakyat (folklor) Tiongkok yang turun-temurun hingga sekarang. Gaungnya bahkan tetap terdengar lantang meski satu abad telah berlalu.