Bagaimana proses warga negara Tiongkok melanjutkan studi ke perguruan tinggi? Setiap calon mahasiswa wajib mengikuti ujian seleksi masuk kampus Tiongkok yang dikenal sebagai Gaokao. Banyak yang menyebut ujian ini sebagai salah satu seleksi masuk universitas paling ketat di dunia. Mereka yang lolos bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga terbukti tahan menghadapi tekanan mental selama proses seleksi yang panjang dan melelahkan.

Artikel ini membahas bagaimana Gaokao berlangsung, mengapa reputasinya begitu menakutkan, serta yang tidak kalah penting, jalur seperti apa yang berlaku bagi pelajar Indonesia yang ingin kuliah di Tiongkok. Perlu diketahui sejak awal, aturan untuk mahasiswa internasional telah berubah dalam dua tahun terakhir, sehingga informasi lama yang beredar mungkin sudah tidak lagi berlaku.

Gaokao, Ujian Seleksi Masuk Kampus Tiongkok yang Melegenda

Gaokao (高考) adalah ujian nasional yang menentukan ke universitas mana seorang pelajar Tiongkok dapat melanjutkan studi. Ujian ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1952, sempat dihentikan selama Revolusi Kebudayaan, lalu dipulihkan kembali pada tahun 1977 dan bertahan hingga kini sebagai penentu utama masa depan akademik jutaan pelajar setiap tahunnya.

Yang membuat Gaokao terasa berat bukan semata tingkat kesulitan soalnya, melainkan taruhannya. Bagi banyak keluarga Tiongkok, terutama yang berasal dari kalangan biasa, keberhasilan seorang anak menembus universitas ternama dipandang sebagai jalan mengubah nasib keluarga. Tekanan sosial inilah yang membuat persiapan Gaokao sering berlangsung bertahun-tahun, bukan berbulan-bulan.

Mata ujian yang diteskan mencakup bahasa Mandarin, matematika, bahasa asing yang umumnya bahasa Inggris, serta ujian gabungan sesuai peminatan. Peserta jurusan sains mengambil ujian gabungan ilmu alam yang meliputi fisika, kimia, dan biologi, sementara peserta jurusan sosial mengambil ujian gabungan ilmu sosial yang meliputi sejarah, geografi, dan politik. Secara keseluruhan, rangkaian ujian ini memakan waktu sekitar sembilan jam yang terbagi dalam dua hari berturut-turut.

Pengawasan Ketat yang Menyerupai Ujian Negara

Selain beban akademik, hal lain yang membuat Gaokao terasa mencekam adalah tingkat pengawasannya. Detektor logam terpasang di pintu masuk ruang ujian untuk memastikan tidak ada peserta yang membawa ponsel. Jam tangan digital juga dilarang, dan kamera pengawas merekam jalannya ujian dari berbagai sudut.

Naskah soal dikirim ke lokasi ujian dengan pelacakan GPS untuk mengantisipasi kebocoran. Di sejumlah daerah, drone dikerahkan untuk memantau area ujian dari udara sekaligus mendeteksi sinyal transmisi ilegal yang mungkin digunakan untuk kecurangan.

Pengamanan bahkan meluas hingga ke luar ruang ujian. Selama Gaokao berlangsung, aktivitas di sekitar lokasi ujian dibatasi agar tidak menimbulkan kebisingan. Proyek konstruksi dihentikan sementara, klakson kendaraan dilarang di zona tertentu, dan sebagian sekolah meliburkan siswa lain. Suasana ini menggambarkan betapa serius negara memperlakukan ujian tersebut.

Bentuk Soal dan Tantangan yang Dihadapi Peserta

Gaokao menggabungkan soal pilihan ganda dengan soal uraian. Untuk komponen menulis, terdapat esai pendek yang menuntut jawaban ringkas namun terstruktur, serta esai utama yang umumnya mensyaratkan tulisan minimal sekitar 800 karakter Hanzi. Perlu dicatat bahwa hitungannya adalah karakter, bukan kata, sehingga volume tulisannya cukup besar untuk dikerjakan dalam waktu terbatas.

Tantangan terbesar sering kali bukan pada penguasaan materi, melainkan pada kemampuan memahami konteks pertanyaan. Banyak soal dirancang dengan pilihan jawaban yang tampak serupa, sehingga peserta yang membaca terburu-buru mudah terjebak. Kombinasi antara jumlah soal yang banyak, waktu yang terbatas, dan tekanan psikologis menjadikan Gaokao ujian yang menuntut ketahanan fisik sekaligus ketajaman berpikir.

Sebagai pembanding, di jalur internasional terdapat Scholastic Assessment Test atau SAT yang banyak digunakan universitas di Amerika Serikat. Cakupan SAT jauh lebih sempit karena berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan matematika. Perbedaan cakupan inilah yang membuat Gaokao dianggap jauh lebih menguras tenaga.

Bagaimana dengan Pelajar Indonesia yang Ingin Kuliah ke Tiongkok?

Inilah bagian yang paling sering disalahpahami. Pelajar Indonesia dan mahasiswa internasional lainnya tidak perlu mengikuti Gaokao, karena ujian tersebut memang diperuntukkan bagi warga negara Tiongkok. Namun, keliru jika menyimpulkan bahwa mahasiswa internasional bebas dari ujian standar apa pun.

Sejak tahun akademik 2026/2027, pemerintah Tiongkok memberlakukan China Scholastic Competency Assessment (CSCA), yaitu tes standar khusus bagi calon mahasiswa internasional jenjang sarjana. CSCA menjadi syarat wajib bagi pelamar Chinese Government Scholarship (CGS) jalur S1, dan semakin banyak universitas yang menjadikannya persyaratan pendaftaran, termasuk untuk jalur mandiri.

Sebelum CSCA hadir, setiap universitas menerapkan mekanisme seleksinya sendiri, ada yang meminta SAT, ada yang menyelenggarakan ujian internal. Kondisi ini menyulitkan pembandingan kualitas pelamar dari berbagai negara. CSCA hadir untuk menyeragamkan standar tersebut.

Aspek Gaokao CSCA
Peserta Warga negara Tiongkok Calon mahasiswa internasional jenjang S1
Frekuensi Satu kali setahun, umumnya Juni Beberapa kali setahun
Materi Bahasa Mandarin, matematika, bahasa asing, ujian gabungan sains atau sosial Bahasa Mandarin profesional, matematika, dan mata ujian sesuai rumpun jurusan
Hubungan dengan HSK Tidak berkaitan Berbeda dari HSK, banyak kampus mensyaratkan keduanya
Kesempatan mengulang Umumnya satu kali per tahun Dapat diambil ulang pada jadwal berikutnya

Untuk pemahaman menyeluruh mengenai struktur mata ujian, sistem penilaian, hingga cara mendaftar, baca artikel lengkap tentang apa itu CSCA dan tes standar baru untuk kuliah S1 di China. Informasi mengenai berkas dan ketentuan lain dapat Anda simak pada panduan persyaratan masuk universitas di China.

Menyiapkan Diri Menghadapi Seleksi Masuk Universitas Tiongkok

Meski tidak perlu menghadapi Gaokao, calon mahasiswa Indonesia tetap memerlukan persiapan yang matang. Setidaknya ada tiga hal yang perlu dibangun sejak awal.

Kemampuan bahasa Mandarin. Hampir semua universitas di Tiongkok mensyaratkan bukti kemampuan bahasa Mandarin, umumnya melalui HSK, terutama untuk program yang menggunakan bahasa pengantar Mandarin. Kemampuan ini juga menjadi fondasi untuk menghadapi komponen bahasa Mandarin profesional dalam CSCA.

Penguasaan materi akademik. CSCA menguji kompetensi skolastik seperti matematika dan mata ujian sesuai rumpun jurusan yang dituju. Karena kurikulum dan pendekatan soalnya berbeda dari ujian yang lazim dikenal pelajar Indonesia, latihan terstruktur sangat membantu mengurangi kejutan saat hari ujian.

Pemahaman prosedur dan tenggat. Jadwal ujian, masa berlaku nilai, dan tenggat pendaftaran beasiswa saling berkaitan. Mengikuti ujian terlalu mepet dengan tenggat pendaftaran berisiko membuat nilai belum terbit saat berkas harus diunggah.

Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia adalah lembaga bahasa dan budaya Tiongkok di Indonesia yang mendampingi calon mahasiswa mempersiapkan studi ke Tiongkok. Selain kursus bahasa Mandarin dari tingkat dasar hingga lanjutan, tersedia pula program persiapan CSCA yang dirancang khusus untuk membekali peserta menghadapi tes standar tersebut, termasuk pendampingan terkait peluang beasiswa.

Pertanyaan Seputar Ujian Seleksi Masuk Kampus Tiongkok

Apakah pelajar Indonesia harus mengikuti Gaokao untuk kuliah di Tiongkok?

Tidak. Gaokao diperuntukkan bagi warga negara Tiongkok. Mahasiswa internasional mengikuti jalur penerimaan yang berbeda. Namun sejak tahun akademik 2026/2027, calon mahasiswa S1 internasional umumnya perlu mengikuti CSCA, terutama bagi pelamar Chinese Government Scholarship dan pendaftar di universitas yang telah mengadopsi ketentuan tersebut.

Apakah CSCA sama dengan HSK?

Berbeda. HSK mengukur kemampuan berbahasa Mandarin, sedangkan CSCA mengukur kompetensi akademik yang mencakup matematika, mata ujian sesuai rumpun jurusan, serta bahasa Mandarin dalam konteks akademik. Banyak universitas mensyaratkan keduanya secara bersamaan, sehingga keduanya sebaiknya dipersiapkan beriringan.

Apakah masih ada peluang beasiswa untuk kuliah di Tiongkok?

Peluang beasiswa tetap terbuka, termasuk melalui skema Chinese Government Scholarship maupun beasiswa yang disediakan masing-masing universitas dan pemerintah daerah di Tiongkok. Yang berubah adalah persyaratannya, di mana nilai CSCA kini menjadi salah satu berkas yang diminta untuk jalur sarjana. Karena ketentuan tiap universitas dapat berbeda dan terus diperbarui, sebaiknya konfirmasikan langsung ke kampus tujuan atau berkonsultasi dengan tim BRCC Indonesia.


Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten BRCC Indonesia pada tanggal 19 Agustus 2026. Artikel ini membahas Gaokao sebagai ujian seleksi masuk perguruan tinggi di Tiongkok, mencakup sejarah, mata ujian, sistem pengawasan, dan bentuk soalnya, serta menjelaskan jalur penerimaan bagi mahasiswa internasional termasuk pemberlakuan China Scholastic Competency Assessment (CSCA) sejak tahun akademik 2026/2027. Ketentuan penerimaan dapat berbeda antaruniversitas dan sewaktu-waktu diperbarui.