
Batu adalah simbol kekuatan dan keabadian. Inilah yang terpancar dari setiap karya seni yang menggunakan batu sebagai medianya. Khususnya di Tiongkok, kerajinan batu bukan sekadar keterampilan memahat atau memoles agar tampak indah. Selain itu, kerajinan tersebut juga merefleksikan sejarah yang menyatu dengan tradisi dan budaya berusia ribuan tahun.
Berbagai artefak peninggalan zaman kuno yang banyak tersebar di Tiongkok membuktikan bahwa kerajinan berbahan dasar batu itu telah mengakar erat. Karya yang dihasilkan tidak hanya berupa patung, furnitur, alat rumah tangga, perhiasan, dan ukiran dekoratif, tetapi juga mencakup aspek yang lebih monumental sehingga melahirkan suatu keajaiban.
Sebut saja: Tembok Besar Tiongkok (Great Wall of China), Terracotta Army (Prajurit Terakota) di Xi’an, Makam Kaisar Ming dan Qing (Ming and Qing Tombs), Yungang Grottoes (Gua Yungang) di Datong, Longmen Grottoes (Gua Longmen) di Luoyang, dan Patung Buddha Raksasa Leshan. Seluruhnya merupakan mahakarya peradaban Tiongkok yang menunjukkan kemahiran mengolah batu keras, kasar, dan kaku menjadi bernilai seni.
Contents
Beda Jenis, Beda Karakteristik

Pemilihan batu sebagai bahan dasar kerajinan karena bahan dari alam itu tak hanya kuat dan cantik, tapi juga lebih fleksibel dalam proses pengerjaan dan punya makna khusus atau bernilai seni yang tinggi. Inilah yang menjadi alasan mengapa kerajinan batu termasuk salah satu keterampilan paling awal berkembang dari sebuah peradaban.
Jenis batu seperti giok (jade), batu sabun (soapstone), marmer, hingga granite, menjadi pilihan bagi banyak pengrajin batu di Tiongkok. Beragam jenis batu itu punya karakteristik yang berbeda-beda.
Misalnya, giok merupakan jenis batu yang paling istimewa karena sifatnya yang kuat dan lentur sehingga tidak mudah retak ketika memahat dan mengukirnya. Giok juga memiliki kilau alami (luster) yang amat memukau dengan warna bervariasi. Warnanya meliputi putih, kuning, hijau, hingga merah.
Giok termasuk jenis batu yang mendapat penghormatan paling tinggi di Tiongkok. Melambangkan kekuatan tekad, kehormatan, keberuntungan, kekuasaan, dan keabadian sehingga penggunaannya untuk sesuatu yang sakral seperti patung dewa, liontin, atau segel dari kaisar.
Batu sabun memiliki sifat yang lebih lunak sehingga memudahkan ketika memahat dan mengukirnya. Jenis batu ini lazim untuk furnitur atau hiasan dekoratif seperti guci, patung kecil, piring, atau wadah dupa di tempat peribadatan. Sebutan batu sabun karena memiliki permukaan yang halus selayaknya sabun setelah proses pemolesan. Meskipun tergolong lunak, batu sabun bersifat tahan panas dan larutan kimia sehingga tidak mudah rusak.
Dua jenis batu lainnya yakni marmer dan granit juga menjadi pilihan para pengrajin batu di Tiongkok. Marmer lebih mudah dipahat dibandingkan granit walau lebih keras daripada batu sabun sehingga ideal untuk pembuatan patung atau ukiran halus. Apalagi marmer memiliki tampilan urat-urat (veining) di permukaan batu yang menambah kesan artistik.
Sementara itu, granit tergolong batu yang sangat keras dan kuat. Tidak mengherankan jika jenis batu ini menjadi pilihan pengrajin batu untuk membuat bangunan atau objek yang besar dan tahan lama, seperti makam, monumen, pilar, atau lantai suatu bangunan.
Manual dan Mesin Modern

Sebelum tahun 2000-an, proses mengukir, memahat, mengasah, hingga memoles batu, pengerjaannya masih secara manual. Tujuannya adalah agar kualitas hasil kerajinan batu tetap terjaga dan tidak kehilangan sentuhan dari aspek detailnya. Meski penggunaan mesin sudah mulai ada, tapi para pengrajin batu Tiongkok lebih banyak memakai beragam teknik tradisional warisan leluhur.
Namun, memasuki dekade 2010-an, seiring terjadinya revolusi industri dan modernisasi pasca-1990, industri tradisional Tiongkok mulai berubah, hal ini mencakup kerajinan batu yang mulai mengadopsi teknologi CNC (Computer Numerical Control) dan robotik di pabrik-pabrik besar. Teknologi ini mampu mengukir, memotong, dan memoles batu dengan presisi tinggi. Nyaris tanpa cela dan waktu pengerjaan yang teramat singkat.
Pengerjaan secara manual pun mulai tergeser, berganti dengan industri massal yang melibatkan ratusan hingga ribuan pekerja. Kondisi ini semakin jelas terlihat ketika pada tahun 2000-an, Tiongkok menjadi salah satu penyedia batu alam terbesar di dunia berdasarkan data dari USGS atau World Bank. Hal tersebut membuat volume dan kualitas ekspor menjadi urgen untuk memenuhi permintaan dari luar Tiongkok. Pengerjaan secara manual menjadi tidak relevan dengan kebutuhan ekspor dalam skala besar dan komersial.
Kerajinan Batu Ini akan Bertahan atau Punah?

Meski kini kerajinan batu di Tiongkok telah berkembang menjadi industri yang mengadopsi peralatan modern, tapi bukan berarti pengerjaan secara manual menjadi punah. Masih ada beberapa wilayah yang tetap mempertahankan tradisi panjang terkait seni memahat batu tersebut.
Ada di mana saja? Quanzhou di Provinsi Fujian adalah salah satu contoh daerah yang tetap teguh mempertahankan ukiran batu secara tradisional. Masih banyak para pengrajin batu di desa-desa sekitar Quanzhou. Mereka umumnya mengerjakan pesanan khusus atau custom yang menginginkan desain unik, artistik, dan bernilai personal. Contohnya adalah pembuatan relief wajah leluhur, patung keluarga, atau nisan untuk makam dengan ukiran kaligrafi yang khas.
Selain Quanzhou, kota-kota lainnya di Tiongkok yang masih terdapat para pengrajin batu tradisional adalah di Jinjiang dan Huian (Fujian), Dazu (Chongqing), serta Pingyin (Shandong). Hasil karya mereka tentunya bernilai seni tinggi dan menjadi rebutan para kolektor.
Hanya saja, komunitas para pengrajin batu tradisional itu dominan dari generasi tua dan terbatas dalam lingkup keluarga. Hal ini sekiranya layak mendapat perhatian dari otoritas setempat. Perlu upaya serius untuk menarik minat generasi muda agar mau berkecimpung dan menjaga tradisi ribuan tahun tersebut. Jika tidak, besar kemungkinan dalam satu atau dua dekade ke depan, seni kerajinan batu di Tiongkok hanya ada dalam buku-buku sejarah.