Di antara berbagai perayaan besar dalam kebudayaan Tiongkok, festival Qingming tidak banyak dikenal seperti perayaan Imlek maupun Cap Go Meh. Akan tetapi, Qingming tetap menjadi tradisi yang cukup penting dan lestari hingga saat ini. Dalam masyarakat Tionghoa, festival ini lebih dikenal dengan sebutan Ceng Beng atau tradisi ziarah kuburan. Festival Qingming merupakan serangkaian kegiatan menghormati dan mengenang leluhur sekaligus mengungkapkan kerinduan mendalam pada anggota keluarga yang telah tiada.

Acara ini berlangsung awal April setiap tahun atau bertepatan pada titik surya kelima dari 24 penanda musim dalam kalender surya tradisional Tiongkok. Di Tiongkok, pemerintah menetapkan Qingming sebagai hari libur nasional agar masyarakat memiliki waktu untuk melakukan ziarah leluhur dan menjalankan ritual tradisi keluarga.

Seluruh rangkaian kegiatan festival ini bernuansa sangat khidmat. Selain mendoakan leluhur, sebagian masyarakat memaknai Qingming sebagai momen simbolis untuk melepaskan kesedihan dan energi negatif, meskipun tujuan utamanya tetap berfokus pada penghormatan kepada leluhur. Terdapat sejumlah pantangan dan anjuran tradisional yang dipercaya dan dijalankan oleh sebagian masyarakat Tionghoa untuk menjaga kekhidmatan perayaan ini.

Dikenal luas di Indonesia dengan sebutan Ceng Beng, festival ini juga dimaknai dengan momen di mana garis pemisah antara dunia yang hidup dan yang telah tiada seolah menipis melalui untaian doa dan ritual bakti. Memasuki tahun 2026, tradisi ini tetap lestari, tidak hanya di daratan Tiongkok, tetapi juga di seluruh penjuru dunia di mana komunitas Tionghoa menetap.

Apa Itu Festival Qingming?

Qingming (清明) secara harfiah memiliki arti “Cerah dan Terang”. Nama ini merujuk pada kondisi alam saat festival berlangsung. Berdasarkan kalender surya tradisional Tiongkok, Qingming jatuh pada posisi surya kelima dari 24 posisi surya, yang biasanya bertepatan dengan tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya.

Pada waktu ini, musim dingin telah berlalu dan musim semi mulai bersemi. Udara menjadi lebih segar, tanaman mulai hijau kembali, dan langit tampak cerah. Namun, di balik keindahan alam tersebut, esensi utama Qingming adalah Xiao (孝) atau rasa bakti. Ini adalah waktu bagi keluarga untuk berkumpul kembali, mengunjungi makam leluhur, membersihkannya, dan memberikan penghormatan terakhir kepada mereka yang telah membangun fondasi keluarga di masa lampau.

Rangkaian Kegiatan Wajib Saat Festival Qingming

Festival Qingming bukan sekadar kunjungan singkat ke pemakaman. Ada rangkaian ritual yang mengandung simbolisme mendalam.

Ritual Membersihkan Makam (Sao Mu)

Qingming identik dengan kegiatan membersihkan makam leluhur dan orang-orang terkasih. Bagi orang Tionghoa, membersihkan makam merupakan bentuk pengabdian dan penghormatan kepada leluhur. Itu mengapa membersihkan makam menjadi ritual paling penting dalam rangkaian festival Qingming.

Proses pembersihan makam di tiap daerah berbeda-beda. Khusus untuk di daerah pedesaan, kegiatan ini terbilang menguras tenaga. Sebab masyarakat desa masih menggunakan cara tradisional dalam memakamkan jenazah. Mereka membangun makam dalam bentuk gundukan-gundukan besar lengkap dengan batu besar di bagian kepala sebagai penanda.

Makam-makam besar seperti itu biasanya berada di pegunungan yang arealnya masih luas. Namun, rawan sekali ditumbuhi semak belukar. Di beberapa daerah pedesaan dengan makam yang berada di pegunungan atau area semak, proses pembersihan dapat memakan waktu lebih lama dan sering dilakukan secara gotong royong.

Berbeda dengan masyarakat di perkotaan yang sebagian besar sudah memilih cara kremasi. Abu kremasi umumnya disimpan dalam guci dan loker khusus. Oleh karena itu, yang dirawat umumnya hanyalah guci tempat abu tersebut disimpan. Sebagian orang ada juga yang mengubur abu kremasi, tetapi bentuk makam yang mereka bangun lebih modern dan mudah dibersihkan.

Menghadiahkan Sesaji dan Persembahan

Setelah makam bersih, keluarga wajib menyediakan sesaji sebagai hadiah untuk arwah leluhur atau orang yang mereka sayangi. Sesaji ditempatkan di kepala atau kaki makam. Isiannya bebas, namun biasanya keluarga akan memberikan sesaji terbaik sesuai dengan kesukaan si arwah semasa hidupnya. Misal, sepiring buah-buahan, nasi beserta lauk, minuman fermentasi, ataupun kue-kue. Memberikan sesaji dimaknai sebagai bentuk penghormatan, ungkapan bakti, dan simbol kepedulian keluarga kepada leluhur.

Taqing: Bertamasya di Musim Semi

Setelah ritual yang khidmat selesai, Qingming dilanjutkan dengan kegiatan luar ruangan yang menyenangkan. Karena cuaca yang mendukung, keluarga biasanya melakukan Taqing (berjalan di atas rumput). Festival Qingming ditunggu-tunggu kehadirannya karena pada perayaan ini orang-orang akan banyak bertamasya atau melakukan aktivitas di luar rumah. Beberapa aktivitas yang jadi sorotan dalam perayaan ini antara lain menerbangkan layang-layang lalu memutuskan benangnya ketika layangan sudah tinggi, berlomba ayunan, ataupun piknik bersama keluarga.

Menerbangkan Layang-layang

Tradisi unik festival Qingming adalah menerbangkan layang-layang, baik siang maupun malam hari. Banyak orang mengikatkan lampu kecil pada layang-layang sehingga tampak seperti bintang. Ketika layang-layang sudah tinggi, benangnya diputuskan. Ini melambangkan pelepasan nasib buruk dan penyakit agar terbang jauh terbawa angin.

Olahraga Tradisional

Beberapa aktivitas tradisional yang sering dilakukan antara lain menanam pohon, bermain ayunan, piknik keluarga, dan berjalan-jalan menikmati alam musim semi.

Pantangan Selama Festival Ini Berlangsung

Kebudayaan Tionghoa sangat memperhatikan keseimbangan energi (Yin dan Yang). Karena makam dianggap sebagai tempat dengan energi Yin (dingin/gelap) yang kuat, ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi.

Berziarah Saat Petang

Waktu terbaik untuk melakukan ziarah adalah saat energi Yang (matahari) sedang kuat, yaitu antara matahari terbit hingga pukul 15.00 sore. Secara tradisional, ziarah dianjurkan dilakukan pada pagi hingga siang hari ketika energi matahari masih kuat, dan dihindari menjelang malam.

Secara spiritual, menjelang malam energi Yin akan meningkat. Berada di pemakaman saat petang dianggap tabu karena dipercaya dapat menyebabkan seseorang “ketempelan” atau diikuti oleh entitas astral yang energinya tidak selaras dengan manusia hidup.

Mendokumentasikan Kegiatan di Pemakaman dengan Kamera

Di era media sosial tahun 2026, godaan untuk berswafoto atau membuat konten video sangat besar. Namun, dalam tradisi Qingming, hal ini sangat dilarang. Festival tahunan seperti ini kadang memancing keinginan untuk mendokumentasikan semua kegiatan sebagai kenang-kenangan, termasuk kegiatan di pemakaman. Apalagi sekarang semua orang sudah menggenggam smartphone berkamera. Pastilah keinginan untuk berswafoto pun sulit tertahankan.

Namun, hal tersebut menjadi pantangan dalam perayaan Qingming, alasannya adalah adab sekaligus kekhawatiran makhluk-makhluk astral yang berdiam di pemakaman menjadi terganggu. Mengambil foto di depan makam, terutama makam orang lain, dianggap tidak sopan dan dapat mengganggu ketenangan arwah menurut kepercayaan tradisional.

Perempuan Hamil Tidak Boleh Ikut ke Pemakaman

Dalam kepercayaan tradisional, perempuan hamil, anak-anak, dan orang dengan kondisi kesehatan lemah sering dianjurkan untuk tidak ikut ke pemakaman karena dianggap lebih rentan secara fisik maupun emosional.

Kelompok ini dianggap rentan terhadap energi negatif yang ada di lingkungan makam. Sedangkan dari kacamata klinis, pantangan tersebut memang ada benarnya. Dari segi imunitas, kelompok ini tergolong rentan dan asap pembakaran dupa lebih berisiko bagi kesehatan mereka.

Menggunakan Pakaian Berwarna Mencolok

Pantangan lainnya adalah menggunakan pakaian dengan warna-warna mencolok dan bermotif heboh. Orang Tionghoa lebih mengutamakan pakaian berwarna gelap dan polos.

Gunakanlah pakaian berwarna netral atau gelap (hitam, biru tua, abu-abu). Hindari warna mencolok seperti merah terang atau kuning keemasan, karena warna-warna tersebut identik dengan perayaan kegembiraan.

Larangan Bercanda Berlebihan

Jangan tertawa terbahak-bahak, melompat-lompat di atas makam, atau mengomentari bentuk fisik makam orang lain secara negatif.

Menjaga Ucapan dan Tidak Memanggil dengan Nama Lengkap

Dalam tradisi Qingming, khususnya di daerah pedesaan, terdapat anjuran untuk tidak memanggil anggota keluarga atau teman dengan nama lengkap. Sebagai gantinya, gunakan panggilan akrab atau sebutan kekeluargaan seperti “Kakak”, “Adik”, atau nama panggilan sehari-hari.

Kepercayaan setempat meyakini bahwa menyebut nama lengkap di area pemakaman dapat memudahkan makhluk halus mengenali dan mengusili orang yang dipanggil. Pantangan ini memang sudah jarang ditemui di kota-kota besar, tetapi masih dijaga oleh sebagian masyarakat pedesaan, terutama karena lokasi pemakaman yang berada di area terpencil seperti kaki gunung dan lekat dengan cerita-cerita tradisional. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk tidak menoleh ke belakang apabila mendengar suara asing yang memanggil saat berada di pemakaman.

Relevansi Qingming di Era Modern

Mungkin muncul pertanyaan, di zaman serba digital 2026 ini, mengapa kita masih perlu pergi ke gunung untuk mencabut rumput dan membakar dupa?

Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda

Qingming merupakan salah satu cara untuk mengajarkan anak-anak tentang asal-usul mereka. Dengan mengunjungi makam, mereka belajar bahwa mereka adalah bagian dari garis keturunan yang panjang.

Stabilitas Emosional

Mengunjungi makam memberikan ruang bagi seseorang untuk melepaskan kerinduan dan berdamai dengan kehilangan. Ini adalah bentuk terapi psikologis tradisional.

Pelestarian Budaya

Bagi komunitas Tionghoa di Indonesia, Ceng Beng adalah identitas. Melalui festival ini, bahasa, tata krama, dan filosofi leluhur diwariskan secara lisan dan praktik.

Belajar Budaya dan Bahasa Lebih Dekat Bersama BRCC

Memahami festival seperti Qingming memerlukan pemahaman bahasa dan konteks budaya yang kuat. Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia tidak hanya fokus pada pengajaran tata bahasa Mandarin, tetapi juga membedah filosofi di balik setiap tradisi Tiongkok.

Mengapa belajar budaya itu penting?

  • Untuk Mahasiswa: Jika Anda kuliah di Tiongkok, mempelajari Qingming akan membantu Anda berbaur dengan masyarakat lokal dan mengerti mengapa teman-teman Anda mudik di awal April.
  • Untuk Profesional: Mengetahui pantangan dan hari libur nasional Tiongkok sangat krusial dalam mengatur jadwal bisnis dan negosiasi dengan klien dari Tiongkok.

Festival Qingming merupakan cerminan dari nilai mulia masyarakat Tionghoa yang tidak pernah melupakan akar mereka. Meskipun raga para leluhur telah menyatu dengan tanah, ingatan dan rasa hormat keturunannya tetap membuat mereka “hidup” dalam setiap ritual pembersihan makam.

Dengan menjaga tradisi ini, kita tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi masa depan. Mari rayakan Qingming dengan hati yang tulus, pakaian yang sopan, dan doa yang khidmat.

Ingin Memperdalam Wawasan Budaya Tiongkok Anda?

Jadilah bagian dari keluarga besar BRCC Indonesia. Kami menyediakan kelas bahasa Mandarin dari tingkat dasar hingga mahir, lengkap dengan modul pengenalan budaya (Chinese Culture Class) yang akan memperkaya pengetahuan Anda tentang tradisi-tradisi unik seperti Qingming, Dragon Boat Festival, dan banyak lagi.

Dapatkan konsultasi gratis mengenai kelas bahasa Mandarin dan persiapan beasiswa ke Tiongkok.

  • WhatsApp BRCC Indonesia: [+62 8517-5056-618]
  • Instagram: [@brcc.indo]
  • Lokasi: Kunjungi kantor kami untuk pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan.