Lukisan klasik Tiongkok yang menggambarkan suasana Festival Qingming di tepi sungai pada masa lampau

Di antara berbagai perayaan besar dalam kebudayaan Tiongkok, Festival Qingming mungkin tidak sepopuler perayaan Imlek maupun Cap Go Meh. Akan tetapi, Qingming tetap menjadi tradisi yang sangat penting dan lestari hingga saat ini. Dalam masyarakat Tionghoa, festival ini lebih dikenal dengan sebutan Ceng Beng atau tradisi ziarah kuburan. Festival Qingming merupakan serangkaian kegiatan untuk menghormati dan mengenang leluhur, sekaligus mengungkapkan kerinduan yang mendalam pada anggota keluarga yang telah tiada.

Acara ini berlangsung pada awal April setiap tahun, atau lebih tepatnya bertepatan dengan titik surya kelima dari 24 penanda musim dalam kalender surya tradisional Tiongkok. Di Tiongkok, pemerintah bahkan menetapkan Qingming sebagai hari libur nasional agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk melakukan ziarah leluhur dan menjalankan ritual tradisi keluarga. Hal ini menunjukkan betapa besar penghormatan masyarakat Tiongkok terhadap nilai bakti kepada para pendahulu.

Seluruh rangkaian kegiatan festival ini bernuansa sangat khidmat. Selain mendoakan leluhur, sebagian masyarakat memaknai Qingming sebagai momen simbolis untuk melepaskan kesedihan dan energi negatif, meskipun tujuan utamanya tetap berfokus pada penghormatan kepada leluhur. Terdapat pula sejumlah pantangan dan anjuran tradisional yang dipercaya serta dijalankan oleh sebagian masyarakat Tionghoa untuk menjaga kekhidmatan perayaan ini. Artikel ini akan membahas Festival Qingming secara menyeluruh, mulai dari makna, sejarah, rangkaian ritual, pantangan, hingga relevansinya di era modern.

Apa Itu Festival Qingming?

Qingming (清明) secara harfiah memiliki arti “Cerah dan Terang”. Nama ini merujuk pada kondisi alam saat festival berlangsung. Berdasarkan kalender surya tradisional Tiongkok, Qingming jatuh pada posisi surya kelima dari 24 posisi surya, yang biasanya bertepatan dengan tanggal 4 atau 5 April setiap tahunnya.

Pada waktu ini, musim dingin telah berlalu dan musim semi mulai bersemi. Udara menjadi lebih segar, tanaman mulai menghijau kembali, dan langit tampak cerah. Namun, di balik keindahan alam tersebut, esensi utama Qingming adalah Xiao (孝) atau rasa bakti. Ini adalah waktu bagi keluarga untuk berkumpul kembali, mengunjungi makam leluhur, membersihkannya, dan memberikan penghormatan kepada mereka yang telah membangun fondasi keluarga di masa lampau.

Nilai bakti atau Xiao ini merupakan salah satu pilar utama dalam etika masyarakat Tiongkok. Konsep ini mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang tua dan leluhur tidak berhenti ketika mereka telah tiada, melainkan terus berlanjut melalui ingatan, doa, dan ritual. Nilai ini sangat berakar pada ajaran yang bisa Anda pelajari dalam artikel tentang apa itu Konfusianisme dan perkembangannya di Indonesia.

Asal-usul Sejarah Festival Qingming

Festival Qingming memiliki akar sejarah yang sangat panjang, diperkirakan telah ada sejak lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Salah satu kisah yang sering dikaitkan dengan asal-usul festival ini berhubungan dengan Festival Hanshi atau Festival Makanan Dingin, yang muncul dari legenda pengabdian seorang pejabat setia bernama Jie Zitui pada masa Dinasti Zhou.

Menurut legenda, Jie Zitui adalah seorang abdi setia yang rela berkorban demi tuannya. Setelah tuannya berkuasa, Jie Zitui justru memilih mengasingkan diri bersama ibunya ke pegunungan. Ketika sang tuan berusaha memanggilnya keluar dengan cara membakar hutan, Jie Zitui justru tetap bertahan hingga wafat. Sebagai penghormatan, sang penguasa kemudian menetapkan hari tanpa menyalakan api dan hanya menyantap makanan dingin. Seiring waktu, tradisi Hanshi ini berbaur dengan Qingming dan berkembang menjadi tradisi ziarah serta penghormatan leluhur seperti yang dikenal saat ini.

Pada masa Dinasti Tang, Qingming semakin diformalkan sebagai waktu resmi untuk berziarah ke makam leluhur. Sejak saat itu, tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga menyebar ke berbagai penjuru dunia, mengikuti persebaran komunitas Tionghoa perantauan.

Rangkaian Kegiatan Wajib Saat Festival Qingming

Keluarga Tionghoa membersihkan dan merawat makam leluhur sebagai ritual utama Festival Qingming

Festival Qingming bukan sekadar kunjungan singkat ke pemakaman. Ada rangkaian ritual yang mengandung simbolisme mendalam dan dijalankan secara turun-temurun oleh keluarga Tionghoa.

Ritual Membersihkan Makam (Sao Mu)

Qingming identik dengan kegiatan membersihkan makam leluhur dan orang-orang terkasih. Bagi orang Tionghoa, membersihkan makam merupakan bentuk pengabdian dan penghormatan kepada leluhur. Itu sebabnya membersihkan makam menjadi ritual paling penting dalam rangkaian festival Qingming. Kegiatan ini disebut Sao Mu yang berarti “menyapu makam”.

Proses pembersihan makam di tiap daerah berbeda-beda. Khusus di daerah pedesaan, kegiatan ini terbilang menguras tenaga karena masyarakat desa masih menggunakan cara tradisional dalam memakamkan jenazah. Mereka membangun makam dalam bentuk gundukan besar lengkap dengan batu besar di bagian kepala sebagai penanda.

Makam-makam besar seperti itu biasanya berada di kawasan pegunungan yang arealnya masih luas, namun rawan ditumbuhi semak belukar. Di beberapa daerah pedesaan dengan makam yang berada di pegunungan atau area semak, proses pembersihan dapat memakan waktu lebih lama dan sering dilakukan secara gotong royong oleh seluruh anggota keluarga besar.

Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang sebagian besar sudah memilih cara kremasi. Abu kremasi umumnya disimpan dalam guci dan loker khusus, sehingga yang dirawat umumnya hanyalah guci tempat abu tersebut disimpan. Sebagian orang ada juga yang mengubur abu kremasi, tetapi bentuk makam yang mereka bangun lebih modern dan mudah dibersihkan.

Menghadiahkan Sesaji dan Persembahan

Setelah makam bersih, keluarga menyediakan sesaji sebagai persembahan untuk arwah leluhur atau orang yang mereka sayangi. Sesaji biasanya ditempatkan di bagian kepala atau kaki makam. Isiannya bebas, namun umumnya keluarga akan memberikan sesaji terbaik sesuai dengan kesukaan sang arwah semasa hidupnya, misalnya sepiring buah-buahan, nasi beserta lauk, minuman fermentasi, ataupun kue-kue tradisional.

Memberikan sesaji dimaknai sebagai bentuk penghormatan, ungkapan bakti, dan simbol kepedulian keluarga kepada leluhur. Selain sesaji makanan, keluarga juga sering membakar dupa dan kertas sembahyang sebagai bagian dari ritual. Dalam kepercayaan tradisional, asap dupa dianggap sebagai penghubung antara dunia yang hidup dan yang telah tiada.

Taqing: Bertamasya di Musim Semi

Setelah ritual yang khidmat selesai, Qingming dilanjutkan dengan kegiatan luar ruangan yang menyenangkan. Karena cuaca yang mendukung, keluarga biasanya melakukan Taqing (踏青) yang secara harfiah berarti “berjalan di atas rumput hijau”. Festival Qingming memang ditunggu-tunggu kehadirannya karena pada perayaan ini orang-orang banyak bertamasya atau melakukan aktivitas di luar rumah.

Tradisi Taqing ini mencerminkan filosofi keseimbangan dalam budaya Tiongkok. Setelah menghormati kematian melalui ritual di makam, masyarakat kembali merayakan kehidupan dengan menikmati keindahan alam musim semi. Beberapa aktivitas yang menjadi sorotan antara lain menerbangkan layang-layang, berlomba ayunan, hingga piknik bersama keluarga.

Menerbangkan Layang-layang

Tradisi unik dalam festival Qingming adalah menerbangkan layang-layang, baik pada siang maupun malam hari. Banyak orang mengikatkan lampu kecil pada layang-layang sehingga tampak seperti bintang yang berkelip di langit malam. Yang menarik, ketika layang-layang sudah terbang tinggi, benangnya sengaja diputuskan. Tindakan ini melambangkan pelepasan nasib buruk dan penyakit agar terbang jauh terbawa angin, membawa serta segala kesialan menjauh dari sang penerbang.

Olahraga dan Aktivitas Tradisional

Beberapa aktivitas tradisional lain yang sering dilakukan antara lain menanam pohon, bermain ayunan, piknik keluarga, dan berjalan-jalan menikmati alam musim semi. Kegiatan menanam pohon khususnya memiliki makna simbolis tentang harapan, pertumbuhan, dan keberlanjutan hidup.

Pantangan Selama Festival Qingming Berlangsung

Kebudayaan Tiongkok sangat memperhatikan keseimbangan energi (Yin dan Yang). Karena makam dianggap sebagai tempat dengan energi Yin (dingin atau gelap) yang kuat, ada beberapa pantangan yang secara tradisional dipatuhi oleh sebagian masyarakat. Berikut ringkasannya.

Pantangan Alasan Tradisional
Berziarah saat petang Energi Yin meningkat menjelang malam
Memotret di pemakaman Dianggap tidak sopan dan mengganggu ketenangan arwah
Ibu hamil dan anak ikut berziarah Dianggap lebih rentan secara fisik dan emosional
Pakaian berwarna mencolok Warna cerah identik dengan perayaan kegembiraan
Memanggil nama lengkap Dipercaya memudahkan makhluk halus mengenali seseorang

Berziarah Saat Petang

Suasana ziarah makam pada pagi hingga siang hari saat energi matahari dipercaya sedang kuat

Waktu terbaik untuk melakukan ziarah adalah saat energi Yang (matahari) sedang kuat, yaitu antara matahari terbit hingga pukul 15.00 sore. Secara tradisional, ziarah dianjurkan dilakukan pada pagi hingga siang hari ketika energi matahari masih kuat, dan dihindari menjelang malam hari.

Secara spiritual, menjelang malam energi Yin diyakini meningkat. Berada di pemakaman saat petang dianggap tabu karena dipercaya dapat menyebabkan seseorang “ketempelan” atau diikuti oleh entitas astral yang energinya tidak selaras dengan manusia hidup. Selain alasan spiritual, anjuran ini juga memiliki sisi praktis, yaitu keamanan, mengingat banyak makam tradisional berada di area terpencil yang gelap dan sulit dijangkau saat malam.

Mendokumentasikan Kegiatan di Pemakaman dengan Kamera

Di era media sosial tahun 2026 ini, godaan untuk berswafoto atau membuat konten video memang sangat besar. Namun, dalam tradisi Qingming, hal ini sangat dihindari. Festival tahunan seperti ini kadang memancing keinginan untuk mendokumentasikan semua kegiatan sebagai kenang-kenangan, termasuk kegiatan di pemakaman, apalagi kini hampir semua orang menggenggam ponsel berkamera.

Namun, hal tersebut menjadi pantangan dalam perayaan Qingming. Alasannya adalah soal adab sekaligus kekhawatiran mengganggu ketenangan di area pemakaman. Mengambil foto di depan makam, terutama makam orang lain, dianggap tidak sopan dan dapat mengganggu ketenangan arwah menurut kepercayaan tradisional. Sikap menghormati kekhidmatan suasana jauh lebih diutamakan daripada sekadar dokumentasi pribadi.

Ibu Hamil dan Anak-anak Dianjurkan Tidak Ikut ke Pemakaman

Dalam kepercayaan tradisional, perempuan hamil, anak-anak, dan orang dengan kondisi kesehatan lemah sering dianjurkan untuk tidak ikut ke pemakaman karena dianggap lebih rentan, baik secara fisik maupun emosional.

Kelompok ini dianggap rentan terhadap energi negatif di lingkungan makam. Menariknya, dari kacamata klinis pun anjuran tersebut sebenarnya ada benarnya. Dari segi imunitas, kelompok ini memang tergolong rentan, dan paparan asap pembakaran dupa dalam jumlah banyak lebih berisiko bagi kesehatan mereka. Dengan demikian, kepercayaan tradisional ini secara tidak langsung sejalan dengan pertimbangan kesehatan modern.

Menggunakan Pakaian Berwarna Mencolok

Pantangan lainnya adalah menggunakan pakaian dengan warna mencolok dan bermotif ramai. Orang Tionghoa lebih mengutamakan pakaian berwarna gelap dan polos saat berziarah. Sebaiknya gunakan pakaian berwarna netral atau gelap seperti hitam, biru tua, atau abu-abu. Hindari warna mencolok seperti merah terang atau kuning keemasan, karena warna-warna tersebut identik dengan perayaan kegembiraan dan dianggap kurang sesuai dengan suasana berkabung. Untuk memahami makna warna dalam budaya Tiongkok secara lebih lengkap, baca artikel tentang makna warna dalam budaya Tiongkok: emas, merah, dan putih.

Larangan Bercanda Berlebihan

Selama berada di area pemakaman, sebaiknya hindari tertawa terbahak-bahak, melompat-lompat di atas makam, atau mengomentari bentuk fisik makam orang lain secara negatif. Sikap ini penting untuk menjaga kekhidmatan dan menghormati arwah yang bersemayam di tempat tersebut.

Menjaga Ucapan dan Tidak Memanggil dengan Nama Lengkap

Dalam tradisi Qingming, khususnya di daerah pedesaan, terdapat anjuran untuk tidak memanggil anggota keluarga atau teman dengan nama lengkap. Sebagai gantinya, gunakan panggilan akrab atau sebutan kekeluargaan seperti “Kakak”, “Adik”, atau nama panggilan sehari-hari.

Kepercayaan setempat meyakini bahwa menyebut nama lengkap di area pemakaman dapat memudahkan makhluk halus mengenali dan mengusili orang yang dipanggil. Pantangan ini memang sudah jarang ditemui di kota-kota besar, tetapi masih dijaga oleh sebagian masyarakat pedesaan, terutama karena lokasi pemakaman yang berada di area terpencil seperti kaki gunung dan lekat dengan cerita-cerita tradisional. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk tidak menoleh ke belakang apabila mendengar suara asing yang memanggil saat berada di pemakaman.

Relevansi Qingming di Era Modern

Reproduksi modern lukisan Festival Qingming yang menampilkan kehidupan masyarakat Tiongkok kuno

Mungkin muncul pertanyaan, di zaman serba digital seperti sekarang, mengapa kita masih perlu pergi ke gunung untuk membersihkan rumput dan membakar dupa? Jawabannya terletak pada nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, yang tetap relevan lintas zaman.

Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda

Qingming merupakan salah satu cara untuk mengajarkan anak-anak tentang asal-usul mereka. Dengan mengunjungi makam, mereka belajar bahwa mereka adalah bagian dari garis keturunan yang panjang. Kesadaran akan akar keluarga ini menanamkan rasa hormat, identitas, dan tanggung jawab kepada generasi muda.

Stabilitas Emosional

Mengunjungi makam memberikan ruang bagi seseorang untuk melepaskan kerinduan dan berdamai dengan kehilangan. Ini adalah bentuk terapi psikologis tradisional yang membantu proses berkabung berjalan lebih sehat. Dengan memiliki waktu dan ritual khusus untuk mengenang, seseorang dapat memproses duka secara lebih terstruktur dan tidak terpendam.

Pelestarian Budaya

Bagi komunitas Tionghoa di Indonesia, Ceng Beng adalah bagian dari identitas budaya. Melalui festival ini, bahasa, tata krama, dan filosofi leluhur diwariskan secara lisan dan praktik dari generasi ke generasi. Tradisi ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, memastikan warisan budaya tidak hilang ditelan modernitas.

“Qingming adalah salah satu tradisi yang paling sering kami jelaskan kepada mahasiswa sebelum mereka berangkat ke Tiongkok. Memahami mengapa kampus dan kantor libur di awal April, serta bagaimana bersikap saat teman lokal sedang berkabung, membuat mahasiswa kami lebih peka dan mudah diterima. Budaya seperti ini tidak bisa dipelajari hanya dari buku tata bahasa.”

Veby Millian, CEO and Co-founder BRCC Indonesia

Belajar Budaya dan Bahasa Lebih Dekat Bersama BRCC

Memahami festival seperti Qingming memerlukan pemahaman bahasa dan konteks budaya yang kuat. Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia tidak hanya fokus pada pengajaran tata bahasa Mandarin, tetapi juga membedah filosofi di balik setiap tradisi Tiongkok. Lalu, mengapa belajar budaya itu penting?

  • Untuk Mahasiswa: Jika Anda kuliah di Tiongkok, mempelajari Qingming akan membantu Anda berbaur dengan masyarakat lokal dan mengerti mengapa teman-teman Anda mudik di awal April.
  • Untuk Profesional: Mengetahui pantangan dan hari libur nasional Tiongkok sangat krusial dalam mengatur jadwal bisnis dan negosiasi dengan klien dari Tiongkok.

Festival Qingming merupakan cerminan nilai mulia masyarakat Tionghoa yang tidak pernah melupakan akar mereka. Meskipun raga para leluhur telah menyatu dengan tanah, ingatan dan rasa hormat keturunannya tetap membuat mereka “hidup” dalam setiap ritual pembersihan makam. Dengan menjaga tradisi ini, kita tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi masa depan. Qingming juga merupakan satu dari sejumlah perayaan penting yang bisa Anda pelajari lebih lanjut dalam artikel tentang 5 festival Tiongkok sekaligus belajar bahasanya.

FAQ Seputar Festival Qingming

Kapan Festival Qingming atau Ceng Beng dirayakan setiap tahun?

Festival Qingming dirayakan berdasarkan kalender surya tradisional Tiongkok, bukan kalender lunar seperti Imlek. Qingming jatuh pada posisi surya kelima dari 24 posisi surya, yang biasanya bertepatan dengan tanggal 4 atau 5 April setiap tahun. Karena mengikuti kalender surya, tanggalnya relatif tetap dari tahun ke tahun, berbeda dengan perayaan Tionghoa lain yang tanggalnya bergeser mengikuti kalender lunar.

Apa perbedaan Festival Qingming dengan Festival Hantu (Zhongyuan)?

Keduanya sama-sama berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, tetapi berbeda waktu dan nuansa. Qingming jatuh di awal April dan berfokus pada ziarah aktif ke makam keluarga, membersihkannya, serta memberikan penghormatan langsung. Festival Hantu (Zhongyuan) jatuh pada bulan ketujuh kalender lunar dan lebih berfokus pada roh-roh yang berkeliaran, termasuk roh tanpa keluarga, dengan tradisi seperti membakar uang kertas dan menyediakan persembahan. Qingming lebih personal dan bersifat kekeluargaan, sementara Festival Hantu lebih luas cakupan spiritualnya.

Apakah non-Tionghoa boleh ikut atau menyaksikan tradisi Qingming?

Secara umum, Qingming adalah tradisi keluarga yang bersifat pribadi dan khidmat. Jika Anda diundang oleh keluarga Tionghoa untuk menemani ziarah, itu adalah sebuah kehormatan, dan sikap terbaik adalah mengikuti adab yang berlaku seperti berpakaian sopan dan gelap, menjaga ucapan, serta menghormati ritual yang dijalankan. Namun, mendatangi pemakaman orang lain tanpa keperluan atau sekadar untuk berwisata dan berfoto sangat tidak dianjurkan karena dianggap kurang menghormati kekhidmatan tradisi ini.


Ditinjau oleh Tim Konten BRCC Indonesia, 10 Juli 2026. Artikel ini membahas Festival Qingming atau Ceng Beng, mulai dari makna, sejarah, rangkaian ritual, pantangan tradisional, hingga relevansinya di era modern. Berbagai pantangan yang disebutkan merupakan kepercayaan tradisional yang dijalankan sebagian masyarakat Tionghoa dan disajikan dalam konteks budaya.