Cerita di Balik Chengyu (Peribahasa Mandarin)

Tahukah Anda bahwa setiap peribahasa Mandarin (chéngyǔ) sering kali berasal dari kisah sejarah, legenda rakyat, atau filosofi klasik yang diwariskan turun-temurun. Salah satu yang paling terkenal adalah  塞翁失马,焉知非福 (Sài wēng shī mǎ, yān zhī fēi fú) yang berarti ‘Seorang tua di perbatasan kehilangan kudanya, siapa sangka itu bukan sebuah keberuntungan?’

Peribahasa ini berasal dari cerita seorang lelaki tua (Sai Weng) yang tinggal di dekat perbatasan. Suatu hari, kudanya kabur ke wilayah musuh. Warga menganggap itu musibah, tapi lelaki tua itu tetap tenang dan berkata, “Siapa tahu ini bukan hal buruk?” Beberapa waktu kemudian, kuda itu kembali membawa kuda liar lain yang lebih baik. Namun, ketika anaknya menunggangi kuda baru itu, ia jatuh dan kakinya patah. Warga kembali menyayangkan kejadian itu, tapi lelaki tua itu tetap tenang. Tidak lama, perang meletus dan semua pemuda dipanggil untuk berperang—kecuali anak lelaki itu karena kakinya pincang. Ia pun selamat.

Peribahasa ini mengajarkan bahwa kesialan dan keberuntungan sering kali tidak dapat langsung dinilai dari permukaan. Sebuah kejadian buruk bisa menjadi awal dari keberuntungan, dan sebaliknya. Nilai ini mencerminkan pandangan hidup orang Tiongkok yang bijak dan sabar dalam menghadapi perubahan hidup.

Peribahasa Cina dan Nilai Budaya di Dalamnya

Bahasa Mandarin tidak hanya dikenal sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang kearifan budaya yang kaya. Salah satunya adalah peribahasa atau 成语 (chéngyǔ), yaitu ungkapan pendek yang biasanya terdiri dari empat karakter dan mengandung makna yang dalam.

Banyak peribahasa ini yang berasal dari sejarah, sastra klasik, legenda, hingga ajaran filsafat seperti Konfusianisme dan Taoisme. Meski terkesan singkat, setiap chéngyǔ menyimpan sebuah cerita atau peristiwa bersejarah yang memiliki makna mendalam dan konteks penggunaan yang khas. Bahkan, dalam satu kalimat, orang Tiongkok dapat menyampaikan pesan moral, kritik sosial, hingga prinsip hidup yang kompleks.

Menariknya, nilai-nilai yang terkandung dalam peribahasa ini tidak lekang oleh waktu. Banyak di antaranya masih sangat relevan untuk kehidupan saat ini, seperti pentingnya menghargai asal-usul, menjunjung tinggi kerja keras, kesetiaan, kebijaksanaan, dan kehormatan. Dengan mempelajari chéngyǔ, pelajar Bahasa Mandarin tidak hanya belajar kosakata, tapi juga memahami budaya, cara berpikir, dan cara hidup masyarakat Tionghoa.

Berikut beberapa contoh chéngyǔ yang penuh makna:

饮水思源 (Yǐn shuǐ sī yuán)

Secara harfiah memiliki arti “Saat minum air, ingatlah sumbernya.” Pepatah ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan asal-usul, berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa, dan menghargai sejarah atau perjuangan masa lalu. Dalam budaya Tionghoa, menghormati leluhur, guru, dan orang tua adalah bagian dari nilai kehidupan yang dijunjung tinggi.

塞翁失马,焉知非福 (sài wēng shī mǎ, yān zhī fēi fú)

Peribahasa ini memiliki arti ‘seorang tua kehilangan kudanya, siapa tahu itu bukan keberuntungan. Maknanya adalah bahwa musibah bisa berubah menjadi berkah; jangan terburu-buru menilai suatu kejadian.  Mendorong kita untuk berpikir positif dalam menghadapi kesulitan hidup.

百闻不如一见 (bǎi wén bù rú yī jiàn)

Berarti: seratus kali mendengar tidak sebanding dengan satu kali melihat. Peribahasa ini memberikan pelajaran bahwa lebih baik menyaksikan langsung daripada hanya mendengar cerita. Mendorong tindakan langsung dan pengalaman nyata dibandingkan teori semata.

亡羊补牢 (wáng yáng bǔ láo)

Artinya: memperbaiki pagar setelah kambing hilang. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Maksudnya adalah, pentingnya belajar dari kegagalan dan melakukan perbaikan secepat mungkin.

自相矛盾 (zì xiāng máo dùn)

Peribahasa ini memiliki arti, bertentangan dengan diri sendiri. Maksudnya, perkataan atau tindakan yang saling bertolak belakang. Menyoroti pentingnya konsistensi dalam logika, ucapan, dan perbuatan.

举案齐眉 (jǔ àn qí méi)

Mengangkat nampan setinggi alis. Memiliki makna, hubungan suami istri yang saling menghormati. Peribahasa ini mencerminkan nilai-nilai keharmonisan dan penghormatan dalam keluarga.

前人栽树,后人乘凉 (qián rén zāi shù, hòu rén chéng liáng)

Orang dulu menanam pohon, orang kemudian berteduh di bawahnya. Menyadari bahwa manfaat hari ini adalah hasil jerih payah generasi sebelumnya. Menumbuhkan rasa hormat kepada leluhur dan kesadaran untuk mewariskan kebaikan.

Relevansi dalam Kehidupan Modern

Peribahasa memang berasal dari zaman kuno, tetapi pepatah seperti 饮水思源 (Yǐn shuǐ sī yuán – “Saat minum air, ingatlah sumbernya”) tetap relevan dengan era modern sekarang yang serba cepat. Pesan di dalamnya sangat bermakna. Jangan pernah lupa dari mana kita berasal atau siapa saja yang membantu kita dalam perjalanan hidup ini.

Dalam dunia akademik, pepatah ini mengingatkan kita untuk selalu menghormati guru dan institusi pendidikan yang telah membentuk karakter dan pengetahuan kita. Dalam dunia kerja dan karier, pepatah ini menjadi ajakan untuk tetap rendah hati dan bersyukur kepada mereka yang pernah membuka jalan atau memberi kesempatan—baik itu atasan, rekan, maupun mentor. Begitu pula dalam kehidupan pribadi, pepatah ini menyentuh sisi emosional: agar kita tidak melupakan keluarga, kampung halaman, atau nilai-nilai budaya yang telah membesarkan kita.

Di era digital saat ini, pepatah ini adalah pengingat bahwa kesuksesan hari ini bukan semata hasil usaha sendiri, melainkan juga buah dari perjuangan dan dukungan orang lain di masa lalu.

Belajar Lebih Dalam Bersama BRCC Indonesia

Bukan hanya sekadar memperbanyak kosakata, mempelajari peribahasa Mandarin juga memperluas cara berpikir dari nilai-nilai luhur dalam budaya Tiongkok. Setiap chéngyǔ mengandung pelajaran hidup yang masih relevan hingga hari ini—dari pentingnya menghargai asal-usul, hingga keteguhan menghadapi kesulitan.  Melalui BRCC Indonesia, pembelajaran bahasa Mandarin tidak hanya berfokus pada aspek linguistik, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya yang menyertainya. Dengan pendekatan yang kontekstual dan bermakna, kamu bisa memahami bahasa Mandarin secara lebih utuh—bukan hanya dari segi kata, tetapi juga jiwa dan nilainya. Bersama BRCC, belajar bahasa juga berarti belajar menjadi pribadi yang lebih bijak dan berwawasan lintas budaya.