China terkenal memiliki budaya paling tua dan juga kompleks. Budaya di China dapat terlihat dari makanan, bahasa, pakaian, dan juga seninya. Selain terus terawat di negara asalnya, budaya China juga menyebar ke berbagai belahan dunia. Budaya tersebut bisa tersebar dari imigran dan seni hiburannya seperti drama atau film.

Mengenal Budaya di China dari Makanan

Budaya China sangat populer di seluruh dunia, salah satunya berupa makanan. Makanan merupakan dasar dari budaya China dalam keseharian mereka. Memasak masakan China perlu berbelanja bahan makanan yang segar. Secara tradisional, mereka tidak begitu suka makanan kalengan dan beku.

Masakan khas China bisa berbeda tiap daerahnya. Setiap daerah memiliki kebiasaan makan dan memasak yang berbeda karena perbedaan geografi dan iklim. Berikut ini beberapa daerah di China dan makanan khasnya.

Sichuan

Daerah Sichuan terkenal sebagai daerah yang lembab sehingga cabai bisa tumbuh dengan baik. Tak heran jika masakan Sichuan banyak mengandung cabai. Selain cabai, bahan makanan yang biasa ada di hidangan Sichuan, yaitu daging babi, jamur, dan rempah-rempah. Beberapa masakan khas dari Sichuan antara lain ayam kung pao, wonton dengan minyak cabai merah, Sichuan hotpot, dan mie dandan.

Cantonese/Kanton

Masakan Kanton cenderung lebih ringan dari Sichuan. Bumbu yang biasanya ada di hidangan daerah ini yaitu bawang putih, jahe, cengkeh, daun bawang, dan bubuk cabai. Beberapa jenis saus seperti saus asam manis, saus tiram, saus kacang, dan saus plum, juga menjadi ciri khas hidangan Kanton. Beberapa masakan khas Kanton antara lain bebek panggang, sup krim jagung, babi asam manis, char siu, dan ayam kacang panjang.

Fujian

Terkenal dengan hidangan sup dan hidangan laut. Daerah ini berada di pesisir sehingga banyak yang berupa hidangan ikan dan tiram. Beberapa makanan khas dari Fujian yaitu telur dadar tiram, bola ikan, ayam anggur merah, dan bebek rebus jahe.

Hunan

Masakan Hunan memiliki rasa khas pedas dan asam. Bumbu dalam masakannya biasanya mengandung bawang putih, jahe, dan cabai. Meski mirip masakan Sichuan tapi Hunan biasanya menggunakan minyak yang lebih sedikit. Beberapa contoh hidangan dari Hunan yaitu daging babi panggang merah, bakso mutiara, kepala ikan kukus dengan cabai, dan stinky tofu.

Jiangsu

Masakan Jiangsu biasanya memiliki cita rasa umami. Koki masakan Jiangsu umumnya fokus pada seni memotong dan mengendalikan panas api. Ikan menjadi bahan utama di banyak hidangannya karena dekat dengan laut. Beberapa contoh makanan khas Jiangsu antara lain ikan Mandarin asam manis, bebek asin Nanjing, nasi goreng Yangzhou, dan rebusan kura-kura dan ayam.

Shandong

Hidangan dari Shandong biasanya memiliki tekstur renyah dan bercita rasa asin. Bumbu-bumbunya menggunakan garam, kecap, dan cuka. Shandong juga terkenal dengan banyak hidangan laut. Beberapa hidangan khas dari Shandong misalnya timun laut rebus, kerang goreng pedas, ikan mas asam manis, sup telur sotong, dan tahu kukus isi.

Bahasa dan Sastra China

Bahasa China klasik merupakan standar penulisan yang telah ada ribuan tahun. Filsuf, penulis, dan penyair China memiliki peran penting dan terhormat untuk mempromosikan budaya dari kerajaan.

Pada awal abad ke-20, kebanyakan penduduk buta huruf. Sementara itu tiap daerah memiliki banyak bahasa seperti Mandarin, Wu Yue/Kanton, Min Nan, Hakka, Hui, dan lain-lain. Bahasa lisan yang berbeda-beda membuat mereka kesulitan berkomunikasi dengan daerah lain. Bahasa tulis yang kemudian memungkinkan komunikasi tersebut. Bahasa Mandarin yang berbasis di Beijing kemudian menjadi bahasa nasional.

Dalam seni tulis, China terkenal dengan kaligrafinya. Kaligrafi China atau Shufa tak hanya fokus pada metode penulisan namun juga pengembangan karakter pribadi.

Budaya di China dalam hal sastra berkembang baik sejak zaman dulu. Hu Shih dan Lu Xun merupakan pelopor sastra modern pada era dinasti Qing. Sementara empat novel klasik China berasal dari dinasti Ming dan Qing.

Novel klasik dari dinasti Ming antara lain Romance of the Three Kingdoms, Journey to the West, Water Margin, dan The Plum in Golden Vase. Sementara itu dari dinasti Qing ada novel Dream of the Red Chamber dan The Scholar.

Pakaian Tradisional dari China

Pakaian tradisional sebelum dinasti Qing adalah Hanfu. Pada pakaian tersebut banyak mengandung simbol burung phoenix. Berdasar hukum dinasti tahun 1636, semua warga Han harus menggunakan gaya rambut pria Manchu. Seiring perkembangan zaman, banyak pria sipil Han yang menggunakan pakaian Manchu, sementara wanita mengenakan pakaian Han.

Budaya di China bisa terlihat dari pakaian tradisionalnya. Secara umum ada 4 pakaian tradisional China yang paling populer, antara lain:

Hanfu

Merupakan pakaian tradisional China paling tua. Saat ini pakaian Hanfu lebih banyak untuk acara spesial seperti festival dan pernikahan. Hanfu terdiri dari beberapa bagian yaitu yi, pao, ru, shan, qun/chang, dan ku.

Baju hanfu tradisional China

Qipao (Cheongsam)

Sebutan lainnya cheongsam merupakan pakaian tradisional yang paling populer. Berasal dari dinasti Qing, pakaian ini berkembang menjadi gaya Beijing, gaya Shanghai, dan gaya Hongkong. Cheongsam Beijing memiliki model yang lebih konservatif dengan warna cerah dan dekorasi yang lebih rumit dari yang lainnya.

baju Cheongsam

Tangzhuang

Tang merupakan pakaian tradisional China yang seperti jaket. Modelnya berupa jaket dengan kancing dan kerah Mandarin. Kancing dalam pakaian ini memiliki model frog button. Asal dari setelan Tang ini dari era dinasti Qing. Pakaian ini berkembang ke tipe pakaian Manchurian. Di era sekarang, pakaian jenis ini banyak untuk acara spesial seperti Tahun Baru China, pernikahan, dan acara penting lainnya.

Tangzhuang

Zhongsan

Setelan Zhongsan atau Mao merupakan jenis jaket pria yang mengkombinasikan gaya barat dan China. Zhongsan memiliki 4 saku besar di depan, dua atas dan dua bawah. Pakaian ini juga pada umumnya memiliki 4 atau 5 kancing tengah di depan dan 3 kancing kecil di tiap lengan. Warna jas ini biasanya polos, misalnya warna hitam, putih, abu-abu, atau biru.

Zhongsan Mao Baju

Kesimpulan

Budaya di China sampai sekarang masih di lestarikan dengan baik. Namun seiring perkembangan zaman dan modernisasi, banyak yang kemudian berubah. Pakaian tradisional misalnya hanya terpakai di waktu-waktu khusus saja. Mempelajari budaya China sendiri bisa untuk siapa saja. Selain menambah wawasan, kita dapat mempelajari banyak hal dari budaya tersebut. Mau mempelajari budaya China atau Tiongkok lebih jauh? Simak artikel-artikel terbaru kami ya.