Toleransi mungkin sudah menjadi hal lazim pada masa kini. Namun, di masa lampau, khususnya abad ke-13, sikap menghormati perbedaan keyakinan atau agama lain sangat jarang ditemukan, terlebih dalam diri seorang penguasa. Nama Kubilai Khan (1215–1294), cucu dari Genghis Khan, menjadi pengecualian yang menarik.

Sebagai pemimpin bangsa Mongol, Kubilai Khan memerintah wilayah yang sangat luas. Dari Tiongkok hingga Eropa Timur pada masa kejayaan kakeknya, Kekaisaran Mongol diakui sebagai salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Nyaris 16% dari total daratan bumi kala itu berada dalam kekuasaan Khan Agung.

Namun demikian, ia memilih berpikiran terbuka terhadap keberagaman. Kubilai Khan tidak menganggap agama lain sebagai ancaman dan memberikan kebebasan bagi rakyatnya untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing.

Berbagai agama seperti Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, Islam, dan Kristen, seluruh pemeluknya bebas menjalankan ibadah tanpa rasa takut akan intimidasi. Kubilai Khan bahkan membina hubungan baik dengan para pemuka agama dan memberikan dukungan bagi mereka.

Toleran terhadap Keberagaman Agama

Lahir dan besar dalam tradisi Mongol yang militeristik, Setsemba — nama kecil Kubilai Khan — mendapatkan pendidikan yang membentuknya menjadi pemimpin militer tangguh. Kekerasan, penindasan, dan pemaksaan kehendak atas kelompok lain adalah hal yang biasa terjadi.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Setsemba. Ketika ia menerima tampuk kepemimpinan sebagai Khan pada tahun 1260 dan kemudian menaklukkan Tiongkok pada 1279, ia memilih jalan damai dalam kebijakan pemerintahannya. Salah satu langkahnya adalah menerapkan nilai-nilai toleransi.

Ada beberapa faktor yang membentuk sikap tersebut. Pertama, Setsemba adalah seorang penganut Buddhisme yang taat. Ia memiliki guru spiritual bernama Drogon Chogyal Phagpa, seorang tokoh Buddhis dari Tibet yang mengajarkan pentingnya toleransi dan harmoni dalam kehidupan.

Kedua, faktor politik praktis. Setsemba memahami bahwa toleransi beragama akan membantunya menciptakan pemerintahan yang kuat dan stabil. Sikap ini bisa meminimalkan konflik dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga kekaisaran yang ia bangun bertahan lebih lama.

Ketiga, pengaruh dari sang istri, Chabi. Perempuan cerdas dari suku Khongirad ini dikenal toleran dan berpikiran terbuka. Bagi Setsemba, Chabi bukan sekadar pendamping hidup yang ia cintai sepenuh hati, tetapi juga penasihat bijak dalam urusan negara dan agama.

Ketiga hal inilah yang menjadikan Setsemba berbeda dari penguasa lain. Ia menjadi penakluk yang visioner, melampaui zamannya.

Penakluk Tiongkok dan Pendiri Dinasti Yuan

Sebelum Setsemba memimpin, Kekaisaran Mongol telah menjadi kekuatan besar. Namun, daratan Tiongkok belum sepenuhnya berada di bawah kendali Mongol. Dinasti Song (960–1279) masih berkuasa di wilayah Tiongkok selatan.

Pada masa Setsemba, barulah Dinasti Song berhasil ditaklukkan setelah rangkaian pertempuran panjang, yang berpuncak pada pengepungan Lin’an (sekarang Hangzhou), ibu kota Dinasti Song, pada tahun 1276. Tiga tahun kemudian, Dinasti Song resmi berakhir.

Sejatinya, Setsemba sudah memproklamasikan pendirian Dinasti Yuan sejak tahun 1271, dengan ibu kota di Khanbaliq atau Dadu (sekarang Beijing). Dengan runtuhnya Dinasti Song, Setsemba menjadi penguasa tunggal Tiongkok. Ia bukan lagi sekadar Khan bangsa Mongol, tetapi juga Kaisar Tiongkok. Sebuah prestasi luar biasa yang belum pernah diraih oleh Khan manapun sebelumnya.

Sebagai kaisar pertama Dinasti Yuan, Setsemba memimpin dinasti ini selama hampir satu abad (97 tahun), sebelum akhirnya runtuh pada masa pemerintahan Toghon Temur Khan, kaisar ke-11 Dinasti Yuan, pada tahun 1368. Setelah itu, Zhu Yuanzhang atau Kaisar Hongwu dari suku Han mendirikan Dinasti Ming (1368–1644).

Kalah Pamor dari Sang Kakek

Meski dikenal karena kebijaksanaannya dalam memimpin dan membangun pemerintahan, nama besar Setsemba masih belum mampu menyaingi pamor kakeknya, Genghis Khan (1162–1227), sang pendiri Kekaisaran Mongol. Genghis Khan tetap menjadi sosok pemimpin terbesar yang belum tertandingi oleh keturunannya.

Ada beberapa alasan. Salah satunya, wilayah kekuasaan pada masa Genghis Khan jauh lebih luas, mencakup Tiongkok, Asia Tengah, dan Eropa Timur. Sementara Setsemba lebih fokus menguasai wilayah Tiongkok dan sebagian Asia Tenggara.

Alasan lainnya, kekuatan militer pada era Genghis Khan sangat luar biasa. Tidak hanya kuat, tetapi juga efektif dengan penggunaan kavaleri ringan dan busur komposit khas Mongol. Hampir tidak ada pasukan yang mampu menandingi kekuatan militer Mongol kala itu. Sedangkan pada masa Setsemba, kekuatan pasukannya memang masih tangguh, tetapi tidak sekuat era pendahulunya.

Faktor lain yang membuat Genghis Khan lebih unggul adalah kharismanya. Ia berhasil mempersatukan bangsa Mongol dan menaklukkan peradaban besar di Asia dan Eropa. Warisan yang ia tinggalkan adalah salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia.

Sebaliknya, meskipun Kubilai Khan berhasil mendirikan Dinasti Yuan, ia dianggap hanya mewariskan salah satu dinasti terakhir dalam sejarah Tiongkok.

Meski begitu, nama besar Kubilai Khan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia tetap merupakan salah satu khan terbesar dalam sejarah bangsa Mongol. Ketokohannya hanya berada satu tingkat di bawah sang kakek. Sebagai pemimpin yang kharismatik dan bijaksana, ia berhasil menyatukan Tiongkok sekaligus memberi “rumah kedua” bagi bangsa Mongol, sehingga terakui sebagai bangsa yang terhormat.