Jika hidup pada masa sekarang, mungkin Zhuge Liang (181-234 M) adalah sosok pemimpin sempurna. Ia bisa berperan sebagai jenderal perang ahli strategi. Namun jug handal sebagai ekonom jenius saat mengelola keuangan. Ia pun seorang negarawan yang bijak dalam mengurus urusan negara.
Luo Guanzhong, pengarang novel klasik Samkok atau Tiga Kerajaan, bahkan menyebutnya sebagai Naga yang Tersembunyi. Menyiratkan potensi luar biasa dari seseorang dalam hal kekuatan, kebijaksanaan, dan spiritualitas (simbol naga dalam budaya Tiongkok).
Walau dalam novel tersebut (Tiga Kerajaan) ada banyak cerita hidupnya yang terpengaruh oleh legenda dan mitos, Zhuge Liang adalah tokoh nyata yang hidup pada masa akhir Dinasti Han Timur dan periode Tiga Kerajaan (Wei, Wu, dan Shu). Kontribusinya sangat nyata dan meninggalkan warisan begitu berharga bagi masyarakat Tiongkok hingga sekarang.
Jenderal dan Ahli Strategi
Hidup pada masa penuh kekacauan, perang dan pertumpahan darah adalah pemandangan sehari-hari baginya. Beruntung, Zhuge memiliki pikiran cemerlang dan taktis sehingga ia mendapat kepercayaan Liu Bei (pendiri Kerajaan Shu) sebagai penasihat utama. Memegang jabatan jenderal dan memimpin pasukan dalam berbagai perang yang ia menangkan karena kemampuan sebagai ahli strategi nomor wahid.
Salah satu perang fenomenal yang ia menangkan adalah Pertempuran Chibi (Red Cliff) pada tahun 208 M. Zhuge mampu membendung invasi dari Kerajaan Wei di bawah pimpinan Cao Cao yang hendak menguasai seluruh Tiongkok. Memaksa Liu Bei dan Sun Quan (raja dari Kerajaan Wu) untuk membentuk aliansi. Zhuge Liang mendapat kepercayaan sebagai jenderal dari Kerajaan Shu, sedangkan Zhou Yu memimpin pasukan militer dari pihak Wu.
Pasukan Cao Cao ketika itu berjumlah sekitar 200.000 tentara. Adapun pasukan Zhuge dan Zhou Yu hanya seperempatnya, yakni sekitar 50.000 tentara. Dapat terbayang begitu tidak seimbang kekuatan militer di antara kedua pihak yang bertikai.
Kekalahan bagi pasukan koalisi (Shu dan Wu) sudah di depan mata. Namun kenyataan berkata lain: pasukan Wei yang begitu perkasa dari sisi jumlah dan perlengkapan militer justru harus mundur karena mengalami kekalahan perang.
Penyebab kekalahan memalukan ini karena strategi perang yang Zhuge terapkan. Ia memanfaatkan angin yang berembus kencang sehingga menyebabkan kehancuran kamp militer pasukan Wei. Strategi tersebut tidak mungkin ia lakukan jika tak memiliki kemampuan “membaca” pertanda alam kemudian menggunakannya pada waktu yang tepat.
Zhuge juga terkenal karena keahlian memanipulasi psikologis lawan. Dengan mengetahui kelemahan pihak musuh dan menimbulkan psywar (perang psikologis), ia dapat memenangkan pertempuran tanpa pertumpahan darah. Taktik benteng kosong (kong cheng ji) adalah salah satu contohnya.
Kecerdasan strategis Zhuge yang ia tunjukkan dalam berbagai medan pertempuran membuatnya menjadi jenderal paling ikonik. Tak hanya itu, Zhuge pun dikenal sebagai penemu dan pengembang senjata yang belum pernah ada pada zamannya, seperti busur api dan katapult untuk menghancurkan benteng lawan.
Negarawan Berdedikasi
Karier Zhuge sebagai negarawan bermula saat kematian Liu Bei pada tahun 223 M. Ia mendapat kepercayaan sebagai Perdana Menteri Kerajaan Shu, mendampingi Liu Shan, putra Liu Bei yang kini menjadi raja.
Zhuge Liang memegang jabatan Perdana Menteri selama sekitar satu dekade. Selama masa tersebut, ia menggunakan segenap kecerdasan dan kebijaksanaan untuk mengelola pemerintahan, ekonomi, kebijakan luar negeri, dan memimpin pasukan Shu dalam pertempuran.
Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Shu tumbuh semakin kuat. Tidak hanya mampu bertahan dari serangan Wei dan Wu, Zhuge juga berhasil melancarkan serangan balasan untuk memperluas wilayah Shu.
Pada tahun 234 M, Zhuge memutuskan untuk memimpin ekspedisi utara kelima. Ini adalah agresi militer ke wilayah Kerajaan Wei. Namun, malang tak dapat tertolak, untung tak dapat diraih, dedikasi tanpa batas dari Zhuge harus berakhir. Ajal menjemput sebelum ia menuntaskan tugas negara.
Akhir Hidup yang Heroik
Zhuge Liang meninggal pada usia yang belum terlalu tua, yakni 53 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di kamp militer di Wuzhangyuan, Provinsi Shaanxi, karena sakit. Beberapa cerita menyebutkan bahwa Zhuge telah sakit sebelum melakukan ekspedisi ke Kerajaan Wei, namun ia memaksakan diri untuk tetap turut serta dalam serangan militer tersebut.
Mendengar kematian Zhuge, Liu Shan memerintahkan untuk membawa jenazahnya ke Chengdu, Ibu Kota Kerajaan Shu. Liu Shan kemudian memakamkannya di Gunung Huiwu dan menganugerahi gelar Marquis Zhongwu (Loyal dan Militer). Gelar anumerta ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Zhuge atas dedikasi dan pengorbanan luar biasa sang jenderal.
Kematian Zhuge mengguncang banyak pihak. Walau akhir hidupnya begitu heroik, kepergian Zhuge membawa kerugian sangat besar bagi Kerajaan Shu. Seorang jenderal besar, negarawan berdedikasi, dan pemikir paling brilian dalam sejarah Tiongkok telah pergi. Sosok yang memberikan pengabdian luar biasa demi eksistensi Kerajaan Shu.
Setelah kematiannya, Kerajaan Shu mengalami kemunduran. Tidak ada pengganti yang setara dengan Zhuge dalam hal kepemimpinan dan kebijaksanaan, menjadi salah satu penyebab kemunduran tersebut. Hingga akhirnya pada tahun 263 M, Kerajaan Shu berakhir setelah mendapat serangan besar-besaran dari Kerajaan Wei.
Menjadi Dewa
Sebagian masyarakat tradisional Tiongkok meyakini keberadaan dewa-dewa (Shen). Sosok supranatural yang memiliki kekuatan di luar nalar manusia, seperti dewa langit, dewa bumi, dewa api, dewa air, dan dewa-dewa lainnya. Pemujaan terhadap dewa-dewa ini dilakukan untuk memperoleh perlindungan, bantuan, atau keberkahan dalam hidup.
Meski dewa dan manusia adalah dua entitas berbeda, ada kalanya manusia yang terlahir fana dapat menjadi dewa. Inilah yang terjadi pada Zhuge Liang. Setelah kematiannya, banyak orang menganggap sosok Zhuge Liangsebagai dewa karena kebijaksanaan, kepemimpinan, dan keberanian luar biasa.
Bagi sebagian penganut kepercayaan rakyat Tiongkok, Zhuge Liang dihormati di berbagai kuil dan dipandang sebagai dewa pelindung kebijaksanaan serta strategi. Di beberapa tempat, masyarakat melakukan ritual pembakaran dupa dan persembahan dengan menawarkan makanan di kuil-kuil, seperti di Kuil Wuhou di Chengdu, yang memang didirikan untuk menghormati jasa-jasa Zhuge Liang.