
Kota Qingdao, yang terletak di pesisir timur Provinsi Shandong, Tiongkok, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata dan pusat pendidikan unggulan. Kota ini mulai dikembangkan sebagai pangkalan militer oleh Dinasti Qing pada tahun 1891 untuk memperkuat pertahanan maritimnya. Sejak saat itu, Qingdao terus berkembang dan menyimpan kisah sejarah panjang yang membentuk identitas kotanya saat ini.
Contents
Sejarah Kota Qingdao
Permukiman di wilayah Qingdao telah ada sejak 5.000–6.000 tahun yang lalu, ketika suku Dongyi tinggal di daerah tersebut. Tahun 1891 menandai penetapan Qingdao sebagai pangkalan militer. Kota modern mulai berkembang setelah Jerman menduduki wilayah ini pada 1897. Dahulu, Qingdao dikenal dengan sebutan Jiao’ao atau Jiaozhou, yang berfungsi sebagai pusat pertahanan angkatan laut di wilayah teluk.
Insiden Juye terjadi pada tahun 1897, di mana dua misionaris Katolik Jerman dibunuh di Provinsi Shandong. Peristiwa ini menyebabkan benteng pertahanan di Teluk Jiaozhou jatuh ke tangan Jerman pada masa Kekaisaran Qing. Sebagai hasilnya, pemerintah Qing terpaksa menyewakan wilayah Teluk Jiaozhou kepada Jerman pada tahun 1898, yang dikenal sebagai Konsesi Teluk Kiautschou.
Konsesi tersebut membawa pengaruh Jerman yang menjadikan Qingdao berkembang lebih maju. Masa pendudukan tersebut membuat wajah kota menjadi berubah karena Jerman banyak membangun jalan-jalan besar serta beberapa infrastruktur kota lainnya.
Pendudukan Jerman kemudian berakhir dengan masuknya Jepang ke wilayah Qingdao. Jepang, sebagai bagian dari Sekutu, menyerang dan menduduki Qingdao pada tahun 1914 selama Perang Dunia Pertama. Kekaisaran Jepang yang bersekutu dengan Inggris, membuat pasukan Jerman hengkang dari daratan Tiongkok tersebut. Berbeda dengan pendudukan Jerman yang banyak meninggalkan jejak pembangunan di Kota Qingdao, pendudukan Jepang juga membawa perkembangan industri, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.
Lanskap dan Struktur Kota

Perkembangan Kota Qingdao berlangsung secara bertahap dari waktu ke waktu. Catatan sejarah akan menghitung titik awal perkembangan kota dari tahun 1898 hingga fase di tahun 1938-1945.
Perkembangan tahun 1898–1914
Catatan sejarah pembangunan kota bermula pada tahun 1898, ketika Qingdao masih merupakan pelabuhan biasa, kemudian mengalami pembangunan besar-besaran, termasuk relokasi masyarakat Tionghoa dari sepanjang pantai. Jerman sempat memperbarui dan menyusun ulang struktur kota untuk yang kedua kalinya di tahun 1910.
Banyak proyek pembangunan berjalan dengan bantuan Jerman yang menduduki pelabuhan pada awalnya. Sarana-sarana seperti jalur kereta api Tsingtau-Jinan, dermaga teluk Jiaozhou, serta Stasiun Kereta Api Tsingtao. Akhirnya sebuah kota kecil terbentuk dengan seksama berkat pembangunan Jerman yang menduduki wilayah teluk dan pesisir.
Perkembangan Tahun 1914–1922
Wajah kota Tsingtao (Tsingtao adalah ejaan lama dari Qingdao yang digunakan saat masa pendudukan Jerman) sedikit berubah ketika Jepang menduduki wilayah dan masuk ke Tiongkok tahun 1914. Jepang bahkan mengambil alih kota Tsingtao, dan mengeksploitasi sumber daya alam Shandong dan Tiongkok Utara. Akibatnya, kota ini perlahan berkembang menjadi pusat industri dan perdagangan. Bahkan Jepang membentuk “Distrik Kota Baru” yang mengupayakan kota baru tersebut sebagai tempat tinggal untuk para pasukan penjajah Jepang.
Pemandangan kontras antara perumahan penduduk asli dan perumahan penjajah Jepang pun semakin sering dijumpai. Bahkan masyarakat Tiongkok terjebak dalam zona Tiongkok yang kumuh. Beberapa pembangunan oleh Jepang seperti rumah sakit, bangunan publik dan jalan-jalan perkotaan mereka bangun untuk membantu pendudukannya di Tiongkok.
Perkembangan Tahun 1922–1938
Fase ini menunjukkan perubahan besar pada tata ruang kota Tsingtao periode pemerintahan Republik Tiongkok (1922–1938). Pemerintah aktif terlibat dalam pembangunan besar-besaran, termasuk membangun distrik vila di kawasan pesisir.
Beberapa fasilitas hiburan dan olahraga pun terbangun pesat, terdukung oleh kekuatan kelompok bank pada wilayah CBD Tiongkok. Kota Qingdao semakin bersolek dan menjadi kota yang cantik yang terpusat di pusat Kota Qingdao. Hal ini terimbangi oleh pertumbuhan penduduk kota yang mencapai 385.000 jiwa.
Perkembangan Tahun 1938–1945
Agaknya Jepang masih ingin bercokol di Kota Qingdao atau Tsingtao dalam periode kedua pendudukannya tahun 1938-1945. Meskipun pemerintahan daerah sudah menyatakan tidak ingin tunduk kembali, namun pada akhirnya Jepang tetap menduduki Tiongkok, kemudian membangun Tsingtao Raya, dengan cara melakukan perencanaan ulang kota induk Tsingtao.
Ketika Jepang akhirnya benar-benar meninggalkan kota pesisir dekat teluk Kuning Tiongkok tersebut, maka Kota Qingdao benar-benar telah berdiri menjadi sebuah kota yang cantik.
Kota yang Menjadi Daerah Wisata

Kota dengan luas wilayah sekitar 552 km2 atau sekitar 136.000 hektar ini berdiri di Provinsi Kekaisaran Shandong. Letaknya berada di pantai selatan Semenanjung Shandong, wilayah Tiongkok utara. Jiaozhou atau yang juga kita kenal sebagai Kiao-Chau (pelafalan Inggris) atau Kiaochow, dan Kiautschou (pelafalan bahasa Jerman); maka Qingdao adalah pusat administratifnya.
Masih terdapat Marktstrasse atau Jalan Pasar yang merupakan jalan utama desa Tiongkok Qingdao, dengan beberapa bangunan berjajar sepanjang jalan bekas rumah petani dan nelayan. Qingdao kemudian berkembang menjadi sebuah kota wisata yang menarik banyak wisatawan asing. Keindahan alam, sejarah, budaya, dan hiburan lokal menjadi daya tarik utama wisatawan.
Keindahan Qingdao terlihat jelas dari letaknya di pesisir di wilayah Provinsi Shandong – Tiongkok ini, memiliki panorama yang memikat mata. Sajian menu lautnya sangat memukau lidah, arsitektur bangunan pengaruh Jerman mendominasi kota. Belum lagi pemandangan tepian laut yang menghadirkan cakrawala kota sangat membius pandangan mata. Banyak wisatawan dari berbagai negara dan juga domestik yang sering datang berkunjung.
Selain itu, Qingdao juga dikenal sebagai tempat sebagai tempat spektakuler kelahiran Bir Tsingtao. Ada sejarah panjang yang melatarbelakangi sehingga mendapat julukan ini. Sehingga kemudian berdiri sebuah tempat yang menjadi favorit para fotografer dunia, yakni Qingdao Beer Museum.
Selain itu, terdapat keunikan karakter budaya lokal yang merupakan perpaduan antara budaya Barat dan Tiongkok, seperti kawasan Jalan Silverfish yang ikonik di Distrik Shinan. Jalan ini adalah pusat perbelanjaan yang berada di Distrik Shinan. Banyak bangunan bergaya Liyuan yang masih terjaga keberadaannya di kawasan ini.
Di Silverfish Lane banyak fitur-fitur sejarah yang sengaja mendapat sentuhan pelestarian oleh pemerintah setempat. Sebagai saksi sejarah atas bergulirnya waktu yang berlalu tentang perjalanan panjang sebuah pelabuhan.
Kampus Qingdao University

Dunia pendidikan di Qingdao mengalami perkembangan pesat, terutama sejak masa pendudukan Jerman yang mendirikan berbagai institusi pendidikan, termasuk sekolah dan pusat-pusat pelatihan. Di sini terdapat Universitas Qingdao yang menjadi ikon pusat pendidikan tinggi Tiongkok. Universitas Qingdao memiliki 25 fakultas dan departemen, menawarkan berbagai program sarjana, magister, dan doktoral di berbagai disiplin ilmu.
Ketika kita memutuskan untuk berkuliah di sini, maka banyak pilihan yang dapat kita ambil. Terdapat sebelas disiplin akademis yang utama, seperti ilmu Filsafat, Hukum, Ekonomi, Sastra, Ilmu Pengetahuan Alam, Sejarah, Manajemen, Teknik, Kedokteran, Ilmu Militer dan Ilmu Pendidikan.
Sekitar 104 program gelar sarjana tersedia, sejumlah program magister, gelar doktor, serta 15 disiplin bergelar pascadoktoral. Ini masih ditambah dengan 7 program gelar magister profesional untuk beberapa bidang ilmu, antara lain yang menjadi favorit adalah Kedokteran Klinis dan Kedokteran Gigi.
Qingdao: Kota Sejarah, Pendidikan, dan Peluang Global yang Siap Dijelajahi
Qingdao bukan hanya kota pelabuhan yang kaya akan sejarah dan peninggalan arsitektur kolonial, tetapi juga telah menjelma menjadi pusat pendidikan dan wisata kelas dunia di pesisir timur Tiongkok. Dari peninggalan era Jerman dan Jepang hingga keindahan pantai serta kuliner lautnya yang khas, kota ini menjadi tempat bertemunya budaya Timur dan Barat. Dengan hadirnya Qingdao University sebagai pusat akademik unggulan, Qingdao membuka peluang besar bagi siapa pun yang ingin menempuh pendidikan tinggi, mengejar karier global, atau memahami lebih dalam budaya Tiongkok. Untuk mempermudah langkah ke sana, BRCC Indonesia hadir sebagai platform terpercaya yang mendampingi persiapan belajar bahasa Mandarin, kuliah, magang, maupun bekerja di Tiongkok. Melalui BRCC Indonesia, perjalanan Anda menuju Qingdao atau kota-kota strategis lainnya di Tiongkok dimulai dengan bimbingan yang tepat, terstruktur, dan profesional.
