Berada di daerah pesisir, secara yuridiksi Kota Yancheng memiliki wilayah terbesar di provinsi Jiangsu, Tiongkok. Berdasarkan estimasi tahun 2018, jumlah populasinya mencapai 7,2 juta jiwa dan sebagian besar adalah penduduk tetap. Sekitar 1.700.000 di antaranya tinggal di metro atau pusat kota yang terdiri dari dua distrik, Yandu dan Tinghu.
Kata ‘Yancheng’ mengandung makna sebagai ‘kota garam’, sesuai dengan banyaknya tambak garam di kota ini. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada, produksi garam di Yancheng telah ada sejak tahun 119 sebelum masehi atau era kekuasaan dinasti Han Barat. Hal ini merupakan kewajaran karena di bagian utara punya batasan langsung dengan Laut Kuning.
Contents
Yancheng Ikut Berperan Aktif Menjaga Lingkungan Hidup
Lahan Basah Terbesar di Samudera Pasifik
Yancheng adalah suatu kawasan dengan lahan basah pesisir paling besar di samudera Pasifik, terutama di seputaran pantai barat. Bahkan ada yang menyebut sebagai yang terluas di tepian benua Asia. Selain itu juga masih ada lahan basah lain dengan ukuran yang tak kalah luas dalam bentuk danau.
Dengan adanya kondisi tersebut, Kota Yancheng kerap mendapatkan dua julukan sebagai ‘Kota Lahan Basah’ dan ‘Warisan Alam Dunia’. Julukan ‘Kota Lahan Basah’ baru diakui UNESCO tahun 2019, bagian lahan basah pesisir di Yancheng. Untuk bagian Atas dasar alasan ini pula pemerintah turut berperan menerapkan sistem air jernih dan gunung hijau sebagai aset tak ternilai. Selain itu aktif menggunakan konsep ekologi kuat agar tercipta harmonisasi antara manusia dan alam.
Penerapan Konservasi Global
Penerapan metode tersebut bisa menjadi contoh terbaik untuk memberi perlindungan sekaligus restorasi terhadap ekologi pesisir di tingkat global. Ketika upaya pelestarian berkelanjutan bagi tumbuhan liar dan binatang langka berlangsung di sejumlah daerah lain, Kota Yancheng justru telah menuai hasilnya. Termasuk dalam urusan restorasi habitat bagi makhluk hidup tersebut.
Misalnya saat ini sudah mulai terlihat hasil dari program reproduksi alam burung bangau jenis mahkota liar selama sekitar tujuh tahun. Demikian pula dengan rusa milu yang terletak di area perlindungan, populasinya telah meningkat tajam. Bahkan banyak telah berhasil kembali hidup bebas di alam liar.
Peran Ekologi Internasional Yancheng
Yancheng juga aktif berpartisipasi dalam kerja sama di bidang tata kelola ilmu lingkungan atau ekologi. Termasuk ajakan membangun jaringan ekonomi ekologi hingga perlindungan burung migran. Kerja sama seperti ini sangat bagus untuk menciptakan lingkungan ekologi yang lebih baik sekaligus bikin kebijakan global secara konsisten dan permanen.
Yancheng memiliki garis pantai sejauh ratusan kilometer dengan lahan basah sebanyak ratusan hektar. Maka dari itu sering menjadi titik singgah utama bagi jutaan burung liar saat bermigrasi dalam rute terbang Asia Timur – Australia. Sehingga punya peran besar melindungi kelestarian ekosistem.
Pengakuan UNESCO dan Dukungan Global
Tak mengherankan jika UNESCO pada tahun 2019 memasukan kota ini dalam daftar Warisan Dunia pada kategori situs alam. Selain itu melalui World Culture Forum (WCF), Kota Yancheng selalu siap memberikan dukungan terhadap pengelolaan konservasi dunia. Tujuan dari tindakan ini yakni untuk memberi manfaat besar bagi manusia dan keanekaragaman hayati.
Pengakuan ini juga memperkuat status Yancheng sebagai model konservasi yang diakui dunia. Salah satu fokus utama pelestarian adalah Yancheng National Rare Birds Nature Reserve dan Dafeng Milu Nature Reserve, yang memainkan peran penting dalam upaya konservasi global.
Yancheng National Rare Birds Nature Reserve
Masih terkait dengan usaha untuk menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan, di Yancheng terdapat dua cagar alam. Kawasan suaka alam pertama adalah Yancheng National Rare Birds Nature Reserve (Suaka Alam Burung Langka Nasional Yancheng) yang jadi area perlindungan dan pengembangbiakan burung bangau mahkota merah. Selain itu juga berfungsi sebagai tempat tinggal bagi ikan, burung air, dan spesies langka lain.
Upaya Pelestarian Burung Bangau Mahkota Merah
Sejak berdiri pertama kali tahun 1983, Yancheng NNR ini telah berhasil meningkatkan populasi burung bangau mahkota merah atau grus japonensis. Hewan ini merupakan salah satu spesies bangau paling langka di dunia. Sehingga banyak pihak yang giat berusaha memberikan perlindungan dan salah satunya adalah Yancheng NNR.
Di Tiongkok, banyak yang memandang burung ini sebagai Dewa Rawa (Deity of Wetlands). Selain itu tidak sedikit yang menjadikannya sebagai simbol kesejahteraan dan umur panjang. Bangau mahkota merah memang dapat hidup dalam kurun waktu yang lumayan lama hingga 30 tahun. Bahkan di penangkaran, usianya bisa lebih panjang lagi mencapai 50 tahun.
Sebagian besar masyarakat Tiongkok juga memiliki keyakinan bahwa bangau mahkota merah adalah lambang kesetiaan. Burung ini selalu menjalankan konsep monogami. Usai kawin dan menghasilkan telur, si betina dan jantan selalu bekerja sama membesarkan anak, termasuk urusan pembuatan sarang.
Cagar Alam Milu Dafeng
Cagar alam kedua di Kota Yancheng bernama Milu Dafeng dan selaras sesuai dengan namanya, fokus pada upaya pelestarian rusa langka jenis milu. Pada awal abad ke-20, banyak ahli fauna yang menyebut jika spesies endemik Tiongkok ini telah punah. Tapi sejatinya ada seorang misionaris asal Perancis, Armand David yang berhasil membawa beberapa ekor ke Eropa.
Selanjutnya hewan tersebut terkumpul di Inggris dan setelah bisa berkembang biak, pemerintah negara tersebut mengembalikan ke Tiongkok pada tahun 1980. Sesudah itu pada 1986 berdiri cagar alam Milu Dafeng sebagai tempat perlindungan sekaligus pengembangbiakan kembali rusa milu. Dari sinilah ancaman kepunahan hewan sangat langka tersebut dapat tertanggulangi.
Populasi dan Perkembangan Rusa Milu
Di cagar alam tersebut, populasinya terus meningkat, bahkan saat ini telah mencapai lebih dari 8.200 ekor. Satu hal yang bikin hati jadi semakin lega, pada tahun 2024 lalu ada kelahiran bayi rusa milu sebanyak 825 ekor. Sedangkan di seluruh wilayah Tiongkok daratan, jumlah seluruhnya mencapai sekitar 12.000 ekor.
Peran Cagar Alam dalam Pariwisata
Baik Yancheng NNR maupun cagar alam Milu Dafeng, keduanya tidak hanya punya peran melindungi bangau mahkota merah dan rusa milu saja. Keduanya jadi objek wisata paling menarik di Kota Yancheng dan hampir setiap hari penuh dengan kunjungan pelancong. Apalagi kota ini sangat terkenal dengan keindahan alamnya.
Selain kontribusinya terhadap pelestarian alam, kedua cagar alam ini juga memiliki dampak positif bagi ekonomi lokal. Keberadaan wisata alam ini meningkatkan sektor pariwisata, dan sekaligus mendatangkan pendapatan dari akomodasi, restoran, dan aktivitas lainnya. Hal ini tentu menciptakan peluang kerja bagi masyarakat setempat dan mengedukasi pengunjung tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Dengan demikian, cagar alam di Yancheng menjadi inspirasi suksesnya pengelolaan alam yang memadukan konservasi dengan pariwisata berkelanjutan.
