Tradisi barongsai sudah tidak asing lagi di mata masyarakat dunia. Warisan seni budaya Tionghoa ini lestari berkat orang-orang Tionghoa yang merantau dari negara asalnya. Di negara perantauan, mereka membentuk klub-klub tarian singa untuk dapat tampil di acara-acara besar.
7 Hal Menarik dari Tradisi Barongsai
Barongsai sendiri pada dasarnya merupakan sebuah pertunjukan tari. Namun uniknya, si penari bersembunyi di balik kostum singa. Bergerak-gerak seumpama seekor singa. Dalam mitologi Tiongkok, singa memang simbol penting. Singa melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Itu mengapa orang Tionghoa percaya pertunjukan barongsai dapat mengundang rezeki baik dan menjauhkan kesialan.
Atraksi ini kian meriah dengan adanya musik pengiring berupa simbal dan gong. Ritme musik yang cepat membangkitkan semangat penari serta para penonton.
Dari hal-hal umum yang tertangkap secara visual tentang tarian singa ini, sesungguhnya ada beberapa hal menarik yang jarang diketahui orang menyangkut tradisi seni Tionghoa yang mendunia. Berikut bocorannya:
1. Barongsai hanya Sebutan di Indonesia
Di negara asalnya, tarian singa ini terkenal dengan nama “Wu Shi”. Sedangkan secara global sering disebut Lion Dance.
Atraksi seni ini memang punya banyak nama. Namun, nama Barongsai murni pemberian orang Indonesia. Di negara-negara lain, kemungkinan besar orang tidak tahu apa itu barongsai karena tiap negara punya sebutan yang berbeda-beda.
Kata “barong” diambil dari salah satu kesenian tari boneka Bali, sedangkan “sai” berasal dari bahasa Hokkian yang artinya singa. Dari situlah istilah Barongsai terbentuk di Indonesia, yang lebih kurang artinya “tari boneka”.
2. Singa Tidak Ada di Cina
Tak kalah menarik, walaupun tarian singa ini identik dengan sosok singa, ternyata dahulu singa tidak pernah ada di dataran Cina. Di masa Dinasti Han (sekitar 206 SM–220 M), utusan dari negara-negara Persia dan Asia Tengah-lah yang membawa hewan tersebut ke dataran Cina untuk pertama kalinya sebagai persembahan kepada Kaisar Tiongkok.
Sejak saat itu, singa menjadi hewan populer di sana dan punya peranan penting dalam mitologi Buddha.
3. Gabungan dari Beberapa Unsur Hewan
Secara simbolik, tarian singa ini memang merepresentasikan singa, namun ternyata kostumnya merupakan hasil dari gabungan beberapa unsur hewan. Perhatikan saja secara saksama, kostum ini tidak tampak seperti fisik singa asli, bukan?
Uniknya lagi, tiap bagian tubuhnya memuat makna filosofis, yaitu:
- Pucuk kepala atau jambul: Mewakili hewan burung. Menjadi simbol kehidupan yang dinamis, generasi berikutnya, sekaligus simbolik perempuan.
- Tulang belakang kostum: Bagian tubuhnya panjang, sehingga dimainkan oleh 2-3 orang sekaligus dalam satu kostum. Tulang belakang tersebut mewakili unsur ular, mengandung makna kekayaan dan pesona luar biasa.
- Punuk pada belakang kepala: Mewakili unsur kura-kura yang mengandung makna panjang umur.
- Jenggot: Rumbai-rumbai pada dagu merepresentasikan unsur naga, melambangkan kekuatan dan kepemimpinan.
- Telinga dan ekor: Bagian ini ditetapkan sebagai makhluk mistis, mengandung filosofi keberuntungan dan kebijaksanaan.
Jadi, kostum singa ini tercipta bukan sekadar untuk hiburan, tapi juga semacam sarana penyampaian pesan-pesan tersirat.
4. Penari Barongsai harus Menguasai Wu Shu
Di negara asalnya, untuk menjadi penari barongsai harus mengikuti seleksi ketat terlebih dahulu. Salah satu syarat untuk dapat terpilih ialah menguasai seni bela diri wu shu.
Syarat tersebut bertujuan mendapatkan penari dengan fisik kuat dan sehat. Sebab, kostum full set barongsai cukup berat, terutama pada bagian kepala yang bobotnya bisa mencapai belasan kilogram (tergantung jenis dan ukurannya)! Dengan beban kepala seberat itu, penari harus tetap bergerak lincah mengikuti irama musik pengiring.
Seiring waktu, persyaratan tersebut sudah mulai sedikit longgar. Di luar negara asalnya, penari barongsai bisa saja tidak menguasai wu shu. Namun, dari segi fisik harus kuat dan terlatih secara profesional.
5. Ikhtiar Mengusir Roh Jahat
Siapa sangka bahwa pertunjukan barongsai yang semarak itu pada mulanya ditujukan untuk mengusir roh jahat. Di masa lampau, ada sebuah keyakinan mistis yang berkembang di kalangan masyarakat Tiongkok.
Setiap memasuki musim semi atau bertepatan saat Tahun Baru Imlek, akan muncul makhluk halus “Nian” yang mengerikan. Kedatangannya tak lain untuk mengganggu, menakut-nakuti manusia, dan membawa kesialan.
Untuk mengusir makhluk halus tersebut, masyarakat Tiongkok menyalakan petasan, kembang api, memakai warna-warna mencolok, hingga menampilkan tarian singa. Dengan adanya keriuhan, mereka yakin makhluk halus itu akan pergi ketakutan.
6. Tradisi Budaya Berusia Lebih dari 1.000 Tahun
Barongsai termasuk salah satu warisan budaya Tionghoa tertua yang masih populer hingga sekarang. Seolah tidak tergerus oleh zaman maupun seni-seni modern lainnya.
Perkiraannya, tradisi ini sudah berusia lebih dari 1.000 tahun. Dahulu dimainkan dalam perayaan Buddha dan pesta istana, tapi kini juga sering ditampilkan dalam berbagai acara non-keagamaan seperti festival lampion, peresmian gedung baru, HUT perusahaan, dan lain sebagainya.
7. Pembatasan Ketat di Hong Kong
Pertunjukan barongsai pernah mengalami pembatasan ketat di Hong Kong. Hal ini terjadi karena sindikat kejahatan terorganisasi yang memanfaatkan kostum tersebut untuk melakukan penyerangan. Beberapa oknum bersembunyi di balik kostum, lalu menyerang target tertentu.
Sebagai langkah preventif atas kasus kriminalitas tersebut, pemerintah setempat pun memperketat izin pertunjukan. Konon, dalam kurun waktu tertentu, pertunjukan ini menjadi sangat jarang digelar di sana.
Akhir Kata
Itu dia 7 hal menarik seputar barongsai yang telah mendunia. Semoga jadi tambahan informasi buat Anda yang belum tahu sebelumnya!