Tiongkok telah melahirkan banyak pemikir dan ilmuwan unggul yang tidak hanya mengubah wajah Negeri Tirai Bambu, tetapi juga memberi dampak global. Tokoh-tokoh ini menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi, inovasi, dan budaya riset Tiongkok berkembang pesat serta berpengaruh luas. Oleh karena itu, memahami kontribusi mereka menjadi cara efektif untuk melihat arah perkembangan sains modern Tiongkok.

Tu Youyou: Penyelamat Jutaan Nyawa dari Malaria

Salah satu figur paling berpengaruh di bidang kesehatan adalah Tu Youyou. Ia merupakan ilmuwan perempuan pertama dari Tiongkok daratan yang menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 2015. Pencapaian tersebut menjadikannya simbol kegigihan riset yang mampu mengintegrasikan pengobatan tradisional dengan metode ilmiah modern. Dengan demikian, karyanya menunjukkan bahwa inovasi masa depan dapat berakar dari pengetahuan masa lalu.

Dalam proses pencarian terapi malaria, Tu Youyou meneliti lebih dari 2.000 resep herbal kuno. Penelusuran tersebut membawanya pada catatan abad ke-4 mengenai Artemisia annua (sweet wormwood). Selanjutnya, melalui metode ekstraksi bersuhu rendah menggunakan eter, ia berhasil mengisolasi artemisinin yang efektif melawan parasit malaria. Penelitian panjang dalam Proyek 523 ini kemudian menjadi dasar terapi malaria global yang direkomendasikan WHO. Oleh sebab itu, temuannya menegaskan bahwa kearifan tradisional dapat berkembang menjadi solusi kesehatan berskala dunia.

Yuan Longping: Bapak Padi Hibrida

Dikenal sebagai tokoh yang berjasa besar dalam mengurangi kelaparan, Yuan Longping merupakan ilmuwan paling dihormati di Tiongkok. Kontribusinya dalam pengembangan teknologi padi hibrida berperan penting meningkatkan ketahanan pangan nasional dan global. Sebelum penelitiannya, banyak ilmuwan beranggapan penerapan keunggulan hibrida pada tanaman penyerbuk sendiri seperti padi sulit dilakukan. Pandangan tersebut berhasil dipatahkan pada 1970-an ketika Yuan mengembangkan varietas padi hibrida dengan hasil panen lebih tinggi. Varietas tersebut menghasilkan panen sekitar 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan padi konvensional. Penemuan galur padi liar jantan mandul di Hainan menjadi fondasi penting pengembangan sistem tersebut.

Teknologi padi hibrida yang dikembangkan Yuan kemudian diadopsi secara luas di berbagai negara. Ia juga melatih ribuan ilmuwan dari Asia hingga Afrika dalam pengembangan teknologi tersebut. Implementasi inovasi ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi pangan serta pengurangan kerawanan pangan global. Hingga akhir hayatnya, Yuan tetap aktif meneliti pengembangan padi toleran salinitas bernama Sea Rice. Varietas ini mampu tumbuh di lahan berkadar garam tinggi. Pengembangan Sea Rice membuka peluang pemanfaatan lahan marjinal di berbagai wilayah dunia.

Qian Xuesen: Bapak Dirgantara dan Program Luar Angkasa

Qian Xuesen merupakan tokoh kunci di balik lompatan teknologi pertahanan dan eksplorasi luar angkasa Tiongkok. Perannya menjadikan negara tersebut semakin disegani di tingkat global. Sebelum kembali ke Tiongkok, Qian berkarier sebagai profesor muda di Caltech. Ia juga menjadi salah satu pendiri Jet Propulsion Laboratory (JPL). Keahliannya dalam aerodinamika dan propulsi roket menjadikannya ilmuwan paling berpengaruh pada masanya.

Sebagai arsitek ilmiah utama, Qian berperan penting dalam pengembangan program strategis “Dua Bom, Satu Satelit”. Program tersebut mencakup keberhasilan uji coba bom atom dan bom hidrogen. Program itu juga meliputi peluncuran satelit pertama Tiongkok, Dong Fang Hong I. Seluruh pencapaian tersebut diraih dalam kondisi keterbatasan fasilitas dan teknologi. Qian mengembangkan teori. Engineering Cybernetics sebagai pendekatan sistemik untuk mengoordinasikan elemen proyek kompleks. Metodologi ini masih digunakan dalam pengelolaan proyek infrastruktur raksasa dan misi luar angkasa Tiongkok. Salah satu penerapannya terlihat pada misi luar angkasa berawak melalui program Shenzhou.

Inovator Era Digital dan Teknologi Masa Depan

Memasuki abad ke-21, Tiongkok terus melahirkan ilmuwan yang memimpin persaingan teknologi tinggi global. Tokoh-tokoh berikut menunjukkan bagaimana inovasi Tiongkok bergerak menuju era digital, kuantum, dan kecerdasan buatan.

Pan Jianwei: Pelopor Komunikasi Kuantum

Pan Jianwei dikenal sebagai fisikawan yang membawa teori kuantum dari laboratorium ke ruang angkasa. Kontribusinya menempatkan Tiongkok sebagai salah satu pemimpin global dalam keamanan komunikasi berbasis kuantum.

Pada 2016, timnya meluncurkan satelit kuantum pertama di dunia, Micius. Melalui satelit ini, mereka mendemonstrasikan Quantum Key Distribution jarak jauh yang menawarkan keamanan berbasis prinsip mekanika kuantum. Selain itu, Pan juga berhasil mentransmisikan informasi kuantum dari Bumi ke satelit pada ketinggian sekitar 1.400 kilometer. Temuan ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan Internet Kuantum masa depan. Di bawah bimbingannya pula, Tiongkok mengembangkan komputer kuantum Jiuzhang yang mampu menyelesaikan perhitungan spesifik dalam waktu sangat singkat.

Fei-Fei Li: Pionir Kecerdasan Buatan (AI)

Berbeda dengan Pan Jianwei, Fei-Fei Li berkontribusi besar pada revolusi kecerdasan buatan global. Meskipun berkarier lintas negara, karyanya menjadi fondasi penting bagi perkembangan AI modern. Ia menggagas ImageNet, basis data berisi lebih dari 14 juta gambar terkurasi yang mendorong percepatan deep learning. Dataset ini kini menjadi dasar berbagai teknologi, mulai dari pengenalan wajah hingga kendaraan otonom. Selanjutnya, sebagai Direktur Stanford Institute for Human-Centered AI, Fei-Fei Li menekankan pentingnya AI yang berorientasi pada manusia. Pendekatan tersebut mendorong pengembangan teknologi yang etis, transparan, dan inklusif. Oleh sebab itu, karyanya terus menjadi referensi bagi perusahaan teknologi global.

Zhong Nanshan: Benteng Pertahanan Penyakit Menular

Tokoh berikutnya menunjukkan peran ilmuwan dalam situasi krisis kesehatan publik. Zhong Nanshan merupakan ahli pulmonologi yang menjadi simbol integritas sains di Tiongkok. Saat wabah SARS 2003 muncul, Zhong berani menyampaikan pandangan berbeda dari pernyataan resmi pemerintah. Ia menegaskan bahwa SARS disebabkan virus corona baru dan mendorong penerapan protokol isolasi ketat. Keputusan tersebut membantu menekan angka kematian dan penyebaran wabah. Bertahun-tahun kemudian, pada usia 84 tahun, ia kembali turun ke garis depan saat pandemi COVID-19 melanda Wuhan. Pernyataannya mengenai penularan antarmanusia memicu respons kebijakan kesehatan publik yang lebih luas. Melalui diplomasi medis dan publikasi ilmiah, Zhong juga berbagi data klinis dengan komunitas internasional sehingga pemahaman global terhadap virus berkembang lebih cepat.

Sains, Budaya, dan Pendidikan Tiongkok dalam Perspektif Global melalui BRCC Indonesia

Secara keseluruhan, kontribusi para ilmuwan Tiongkok di berbagai bidang menunjukkan bahwa kemajuan sains tidak terjadi secara instan. Sebaliknya, perkembangan tersebut berakar pada budaya keilmuan yang kuat, etos pendidikan tinggi, serta dukungan sistem akademik jangka panjang. Integrasi antara pengetahuan klasik dan sains modern turut memperkuat posisi Tiongkok sebagai pusat inovasi global.

Dalam konteks tersebut, pemahaman bahasa dan budaya Tiongkok menjadi faktor penting bagi mahasiswa serta profesional Indonesia yang ingin terlibat langsung dalam ekosistem tersebut. Oleh karena itu, BRCC Indonesia hadir sebagai pusat pembelajaran bahasa dan budaya Tiongkok yang menjembatani kebutuhan tersebut. Layanan yang tersedia tidak hanya mencakup kursus Mandarin, tetapi juga konsultasi kuliah di Tiongkok, termasuk program S1 dan S2 bersubsidi dengan pengantar Mandarin maupun Inggris. Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan bahasa, budaya, dan perencanaan akademik, BRCC Indonesia membantu generasi muda Indonesia mempersiapkan diri untuk beradaptasi serta berprestasi dalam lingkungan pendidikan tinggi Tiongkok yang kompetitif.