
Contents
Go/Weiqi (围棋)

Asal-usul & Konsep
Go/Weiqi merupakan salah satu permainan papan tertua di dunia yang berasal dari Tiongkok. Permainan ini diperkirakan telah ada lebih dari 2.500 tahun lalu yaitu sekitar abad ke-5 hingga ke-4 SM. Dalam bahasa Mandarin, permainan ini disebut 围棋 (wéiqí), yang secara harfiah berarti “catur pengepungan” atau “papan pengepungan”. Permainan ini dimainkan oleh dua pemain dengan batu hitam dan putih di atas papan berukuran 19 × 19 garis (ukuran standar), atau versi 9 × 9 dan 13 × 13 untuk pemula.
Tujuan utamanya adalah menguasai wilayah terbesar di papan dengan cara menempatkan batu dengan strategis, mengepung batu lawan, dan melindungi kelompok batu sendiri agar tidak tertangkap. Permainan berakhir ketika kedua pemain setuju bahwa tidak ada langkah menguntungkan tersisa, lalu skor wilayahnya dihitung.
Nilai Edukatif untuk Belajar Bahasa Mandarin
Bermain Weiqi dapat menjadi sarana yang efektif untuk belajar kosakata Mandarin secara alami. Beberapa kosakata yang umum digunakan antara lain:
- 上 (shàng) – atas
- 下 (xià) – bawah
- 左 (zuǒ) – kiri
- 右 (yòu) – kanan
- 手 (shǒu) – langkah
- 劫 (jié) – posisi “ko” (situasi pengulangan)
- 围 (wéi) – mengepung
Selain menambah kosakata, permainan ini juga melatih kemampuan berpikir logis, strategi jangka panjang, dan kesabaran—nilai-nilai penting dalam budaya belajar Tiongkok.
Budaya & Etika

Permainan ini tidak hanya dipandang sebagai suatu mainan yang menyenangkan, tetapi juga seni berpikir. Dalam tradisi klasik Tiongkok, permainan Weiqi sering diasosiasikan dengan kecerdasan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri, nilai-nilai yang juga ditekankan dalam budaya Tiongkok yang dipengaruhi ajaran Konfusius.
Etika saat bermain pun penting, seperti membungkuk sedikit sebelum dan sesudah pertandingan, tidak mengganggu konsentrasi lawan, dan menjaga sikap tenang selama permainan. Sikap ini mencerminkan nilai kesopanan dan rasa hormat yang dijunjung tinggi dalam budaya Tiongkok.
Mahjong (麻将)

Asal-usul & Konsep
Berbeda dengan Weiqi, Mahjong merupakan permainan meja tradisional yang muncul pada pertengahan abad ke-19 di wilayah Shanghai dan Ningbo sebelum menyebar ke seluruh Tiongkok. Permainan ini menggunakan 144 keping ubin (tile) dengan berbagai simbol dan angka, yang dimainkan oleh empat orang.
Tujuan permainan ini adalah membentuk kombinasi ubin tertentu, mirip dengan kartu remi, hingga salah satu pemain berhasil menyelesaikan tangannya terlebih dahulu dan meneriakkan “Mahjong” sebagai tanda kemenangan.
Dengan kata lain, Mahjong lebih menekankan kecepatan berpikir, keberuntungan, dan keterampilan membaca pola lawan dibandingkan penguasaan wilayah seperti dalam Weiqi.
Nilai Edukatif untuk Belajar Bahasa Mandarin
Memainkan ini dapat menjadi salah satu media belajar bahasa yang menyenangkan, karena pemain sering menyebutkan ubin mereka dengan lantang. Hal ini membantu pengenalan:
- Angka dasar Mandarin: 一 (yī) satu, 二 (èr) dua, 三 (sān) tiga, dst.
- Arah mata angin: 东 (dōng, timur), 南 (nán, selatan), 西 (xī, barat), 北 (běi, utara)
- Simbol khusus: 中 (zhōng, pusat/naga merah), 发 (fā, keberuntungan/naga hijau), 白 (bái, putih/naga putih)
Selain menambah kosakata, suasana santai saat bermain dengan penutur asli memberi kesempatan pelajar untuk melatih keterampilan berbicara dan mendengar secara alami.
Budaya & Etika
Lebih dari sekadar hiburan, permainan ini juga dianggap sebagai seni berpikir. Dalam tradisi klasik Tiongkok, Weiqi sering diasosiasikan dengan kecerdasan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri—nilai-nilai yang turut ditekankan dalam budaya Tiongkok yang dipengaruhi oleh ajaran Konfusius.
Tidak kalah penting, etika saat bermain pun sangat dijunjung tinggi. Contohnya, pemain biasanya membungkuk sedikit sebelum dan sesudah pertandingan, tidak mengganggu konsentrasi lawan, serta menjaga sikap tenang selama permainan. Semua ini mencerminkan nilai kesopanan dan rasa hormat yang menjadi bagian penting dari budaya Tiongkok.
Kartu Tradisional Dou Di Zhu (斗地主) & Guan Dan (掼蛋) Asal-usul & Konsep
Dou Di Zhu (斗地主)

Dou Di Zhu (斗地主) dan Guan Dan (掼蛋) adalah permainan kartu tradisional khas Tiongkok. Keduanya mencerminkan sisi sosial kehidupan sehari-hari masyarakat Tiongkok. Permainan ini memakai kartu remi standar, tetapi memiliki aturan yang berbeda dari permainan kartu Barat. Dou Di Zhu berarti “Mengalahkan Tuan Tanah”. Permainan ini muncul pada awal abad ke-20 dan cepat menyebar ke seluruh negeri. Tiga orang bermain dalam satu putaran.
Satu pemain menjadi “tuan tanah”, sedangkan dua pemain lain menjadi “petani” yang bekerja sama mengalahkannya. Permainan berlangsung cepat dan menegangkan. Setiap pemain harus memilih kombinasi kartu terbaik agar bisa menang. Mereka bisa menyusun pasangan, urutan, atau kombinasi kuat seperti “bom”. Pemain yang menghabiskan kartu terlebih dahulu menjadi pemenangnya.
Sementara itu, Guan Dan populer di provinsi timur seperti Jiangsu dan Anhui. Empat pemain ikut serta dan terbagi dalam dua pasangan. Guan Dan menuntut kerja sama erat antarpasangan dan strategi jangka panjang. Pemain juga harus menghitung kartu dengan cermat, tidak hanya mengandalkan keberuntungan. Karena itulah, Guan Dan sering dimainkan saat kumpul keluarga atau bersama rekan kerja.
Nilai Edukatif untuk Belajar Mandarin
Bagi pembelajar bahasa Mandarin, kedua permainan ini menawarkan pengalaman belajar kosakata yang hidup dan kontekstual. Saat bermain, pemain terbiasa menyebut angka-angka Mandarin seperti 一 (yī), 二 (èr), 三 (sān), serta istilah permainan seperti 炸弹 (zhàdàn, “bom”), 顺子 (shùnzǐ, “urutan”), dan 对子 (duìzi, “pasangan”). Karena dimainkan secara interaktif, permainan ini melatih kemampuan mendengar dan berbicara dalam suasana santai, membuat pembelajar bisa menyerap bahasa secara alami tanpa tekanan akademis. Di sela permainan, percakapan ringan pun sering terjadi, menambah kosakata sehari-hari sekaligus memperkaya pemahaman budaya.
Budaya & Etika dalam Permainan
Lebih dari sekadar hiburan, Dou Di Zhu dan Guan Dan mencerminkan nilai budaya Tiongkok tentang kebersamaan, kerja sama, dan sportivitas. Mereka kerap dimainkan di taman kota, rumah teh, atau kafe, menjadi sarana interaksi lintas generasi—dari anak muda hingga para lansia. Etika bermain, seperti menghargai lawan, mengendalikan emosi, dan menjaga suasana tetap ramah, menjadi bagian penting dari permainan ini. Melalui aktivitas sederhana ini, pemain tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi dalam budaya Tiongkok.
Guan Dan (掼蛋)
Guan Dan berasal dari provinsi Jiangsu dan Anhui di kawasan timur Tiongkok. Awalnya Guan Dan berkembang di lingkungan komunitas pekerja dan perlahan menjadi bagian dari budaya mengisi waktu luang, terutama di kalangan pegawai kantoran dan pensiunan. Seiring waktu, popularitasnya merambah berbagai kalangan hingga menjadi salah satu permainan kartu paling digemari di wilayah timur Tiongkok. Kini, Guan Dan kerap hadir dalam acara keluarga, pertemuan sahabat, atau bahkan saat istirahat makan siang di kantor.
Konsep Permainan
Permainan ini biasanya dimainkan oleh empat orang dalam dua tim berpasangan, menggunakan dua set kartu remi standar yang digabung menjadi 108 lembar. Setiap tim harus bekerja sama untuk menjadi pihak pertama yang menghabiskan semua kartu mereka. Sistem permainannya terdiri dari ronde berkelanjutan, di mana kemenangan tiap ronde akan menaikkan peringkat tim pemenang. Dalam setiap ronde, pemain harus menyusun strategi untuk memainkan kombinasi kartu kompleks seperti “pesawat” (urutan tiga kartu sejenis yang berurutan), “bom” (empat kartu sejenis), atau “urutan ganda” (beberapa pasangan angka yang berurutan). Setiap giliran menjadi ajang adu strategi, ketepatan perhitungan, dan koordinasi antarpasangan.
Nilai Edukatif & Budaya
Bagi yang sedang mempelajari bahasa Mandarin, Guan Dan menjadi sarana belajar kosakata yang menyenangkan dan kontekstual. Pemain terbiasa menyebut kartu dengan bahasa Mandarin, seperti 三个八 (sān gè bā — tiga kartu angka delapan) atau istilah permainan seperti 炸弹 (zhàdàn — bom), 顺子 (shùnzǐ — urutan), dan 对子 (duìzi — pasangan). Suasana permainan penuh obrolan ringan, candaan, dapat menjadi kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan mendengar dan berbicara secara aktif. Selain itu, Guan Dan juga menanamkan nilai budaya seperti kerja sama, komunikasi, kepercayaan timbal balik, serta sportivitas dalam menerima kekalahan, sehingga mampu menumbuhkan rasa kebersamaan lintas generasi.
Belajar Bahasa Mandarin dan Kuliah di Tiongkok bersama BRCC Indonesia
Bagi Anda yang tertarik mendalami bahasa Mandarin dan juga ingin memahami budaya Tiongkok secara langsung, BRCC Indonesia dapat menjadi pintu awal yang tepat. Lembaga pendidikan ini tidak hanya menyediakan program kursus bahasa Mandarin dari tingkat dasar hingga mahir, tetapi juga membimbing siswa yang ingin melanjutkan kuliah di berbagai universitas ternama di Tiongkok. Dengan pendekatan belajar yang komunikatif dan interaktif, BRCC Indonesia membantu siswa memahami kosakata, tata bahasa, serta ekspresi budaya Tiongkok—termasuk melalui kegiatan yang menyenangkan seperti permainan tradisional Go atau Mahjong. Selain memperkuat kemampuan bahasa, siswa juga mendapatkan wawasan budaya yang akan sangat berguna saat menempuh studi di luar negeri. Dengan dukungan pengajar berpengalaman dan jaringan mitra kampus di Tiongkok, BRCC Indonesia membuka kesempatan luas bagi generasi muda Indonesia untuk meraih masa depan global yang lebih cerah.