Apa itu Konghucu? Kong Hu Cu adalah nama seorang tokoh cendekiawan yang sangat popular di China. Nama lahir Beliau adalah Kong Qiu, yang kerap dikenal dengan guru Kong. Guru Kong ini semasa hidupnya telah membagikan kebijaksanaannya dalam ajaran yang bernama Konfusianismes. Ajarannya pun bukan agama. Tapi popularitas Konghucu (551-479 SM) sangatlah besar di China, hingga di Indonesia pun telah dijadikan sebagai agama ke 6. Walaupun ajarannya sudah lebih dari 2000 tahun lamanya, bahkan Konfusianisme (nama ajarannya) tetap relevan dan mendapat tempat di hati banyak orang, terutama di Tiongkok dan wilayah Asia Timur serta Tenggara.

Uniknya, para penganut Konfusianisme pada saat bersamaan boleh memeluk agama lain. Ini karena Guru Kong tidak mempermasalahkan dan mengakui keberadaan agama-agama tersebut. Ajarannya lebih mempersoalkan pada etika, moralitas, dan kebijaksanaan. Bukan pada doktrin agama yang spesifik dan meniadakan eksistensi ajaran lain.

Jadi, sah-sah saja jika ada seseorang yang beragama Kristen, Buddha, atau Taoisme, tapi pada saat bersamaan juga meyakini ajaran dari Konfusianisme. Sepanjang orang tersebut merasakan kedamaian dan harmoni, maka Konfusianisme bisa menjadi falsafah hidup tanpa membenturkan dengan keyakinan dari agama yang ia anut.

Konfusianisme

Mengapa ajaran Guru Kong ini tidak tergolong sebagai agama? Jawabnya karena Konfusianisme tidak memiliki unsur-unsur dari suatu agama (doktrin). Mulai dari konsep Tuhan, Konfusianisme tidak punya doktrin tersebut. Guru Kong tidak pernah secara gamblang menyebutkan sosok ilahi atau divine yang punya kuasa atas segala. Dalam ajarannya, ia lebih mengulas pengembangan diri (kebijaksanaan) dan perbaikan moral daripada pemujaan atau penyembahan dalam bentuk ritual keagamaan.

Meskipun Konfusianisme mengajarkan tentang “Tian” (Langit atau Surga), tapi konsep ini tidak merujuk kepada sosok Tuhan sebagai persona. Tian hanya mengacu pada suatu kekuatan yang lebih tinggi dan tidak terjangkau oleh akal manusia. Berbeda dengan doktrin dari agama yang menempatkan Tuhan sebagai sosok aktif dan keberadaannya menjadi dasar keimanan.

Karena tidak adanya konsep Tuhan, maka Konfusianisme tidak membicarakan konsep kehidupan setelah kematian (doktrin surga-neraka). Ajaran Guru Kong lebih menitikberatkan pada kehidupan duniawi. Bagaimana menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya sehingga ketika kematian datang menjemput, seseorang dapat menerima kematian dengan tenang dan damai. Kematian hanyalah sebuah siklus kehidupan. Bukan awal dari kehidupan lain yang menjadi tempat bertemunya jiwa-jiwa setelah kematian (konsep akhirat).

Memang dalam Konfusianisme ada istilah “Ling” (Roh atau Jiwa). Tapi konsep tersebut mengacu pada gambaran aspek spiritual pada manusia di kehidupan ini. Perantara antara manusia dan Tian sehingga menjadi sumber kebijaksanaan dan keadilan moral. Jadi, pengertiannya tidak sama seperti roh atau jiwa dalam doktrin agama.

Lalu, Konfusianisme tidak mengenal konsep dosa atau penebusan (bertobat kepada Tuhan). Jika seseorang berdosa, maka menurut Guru Kong dapat ia perbaiki dengan pendidikan dan refleksi diri untuk kemudian berubah menjadi lebih baik.

Adapun terkait dosa, ajaran Konghucu mengajarkan tentang konsep “Xing”. Pandangan yang meyakini manusia itu dasarnya punya sifat baik. Tapi karena pengaruh lingkungan dan pendidikan yang tidak baik, Xing menjadi tercemar sehingga muncul perangai atau sifat tercela.

Konfusianisme sebagai Agama

Walau Konfusianisme tidak terkategorikan sebagai agama pada umumnya, namun khusus bagi sebagian masyarakat Tionghoa, ajaran ini memiliki makna yang lebih mendalam dari sekadar filosofi hidup. Keyakinan terhadap Konfusianisme setara dengan agama karena memiliki nilai spiritual dan religiusitas meski bersifat inklusif (terbuka).

Kelenteng sebagai tempat ibadah untuk menghormati Konghucu yang dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa adalah dewa. Ia memiliki beberapa gelar dewa yakni Dewa Kebijaksanaan (Wen Shen), Dewa Moralitas (Dao Shen), dan Dewa Kepemimpinan (Lǐ Shen).

Adapun bentuk ibadahnya berupa ritual pembakaran dupa, menyajikan persembahan, dan berdoa. Termasuk mengadakan perayaan kelahiran Guru Kong dan perayaan lain. Kelenteng Konghucu di Suzhou, Qufu, Shandong, dan Kelenteng Konghucu di Beijing adalah contoh kuil untuk melakukan perayaan dan tempat berdoanya.

Confucian temple atau kelenteng konghucu di suz

Confucian Temple atau Kelenteng di Suzhou

Ajaran Kebajikan

Terlepas Konfusianisme terkategorikan sebagai agama atau filosofi hidup, ajaran dari Guru Kong ini menekankan pentingnya moralitas dan etika dalam kehidupan, kesadaran diri untuk mencapai kebijaksanaan dan kesempurnaan, dan menjalani hidup dalam kesederhanaan (tidak terlalu terikat pada kesenangan duniawi). Semua prinsip itu adalah ajaran mengenai kebajikan (de) yang menjadi dasar bagi kehidupan harmoni.

Setiap manusia yang memiliki kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan dalam hidup. Adapun cara memperoleh kebajikan dengan mengenal dan mendalami ajaran dari Guru Kong. Kemudian mengembangkan kualitas pribadi berupa kasih sayang (ren), keadilan (yi), etika (li), dan kebijaksanaan (zhi).

Lalu, tidak mengabaikan berbagai ritual dan etika/norma sosial. Hal ini penting untuk menghindari konflik dan menjalin keharmonisan dengan orang lain atau masyarakat. Termasuk apresiasi yang tinggi terhadap nilai-nilai keluarga dan tradisi. Keluarga adalah unit dasar dari suatu masyarakat dan hubungan antaranggota keluarga harus berlandaskan pada rasa cinta, hormat, dan kesetiaan. Begitu pun penjagaan dan pelestarian tradisi yang merupakan warisan kebijaksanaan dari nenek moyang serta simbol identitas suatu masyarakat.

Manusia yang meniti jalan kebajikan juga harus mengembangkan karakter sabar dan tabah saat menemui kesulitan. Kedua karakter ini semakin lengkap dengan mengasah kemampuan berpikir kritis sehingga dapat menemukan solusi dari setiap permasalahan hidup.

Jika kebajikan telah menjadi denyut nadi setiap manusia, maka berbagai masalah pribadi dan sosial dapat teratasi. Kebajikan adalah sumber dari kebahagiaan hakiki sekaligus tujuan hidup yang mesti manusia perjuangkan untuk ia miliki.

Kebajikan sebagai intisari ajaran dari Konghucu, mampu bertahan hingga ribuan tahun karena nilai universal yang terkandung di dalamnya. Berkembang dan bersemayam menjadi pegangan hidup jutaan manusia. Menginspirasi masyarakat Tiongkok klasik untuk membangun peradaban mereka yang gemilang.