Setiap daerah pastilah memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing. Bahkan terkadang, dari kekhasan inilah, daerah tersebut menjadi terkenal ke daerah lain. Keunikan ini biasanya terkait dengan budaya masyarakat setempat. Begitu pula dengan negeri Tirai Bambu. Tiongkok terkenal oleh banyak hal, salah satunya adalah variasi makanannya yang diterima baik di berbagai negara. Pada artikel ini, kita akan membahas satu makanan asal Tiongkok yang memiliki kekhasan adalah Bacang atau Bakcang. Bacang pun tak hanya sekadar hidangan. Namun, mengandung nilai budaya dari masyarakat lokal Tiongkok sebagai pembuat awal makanan ini.

Sejarah Bacang

Dalam bahasa Mandarin, nama lain dari Bacang ini adalah zòngzi (粽子). Dikenal sebagai makanan tradisional Tiongkok dengan makna yang mendalam sebagai cerminan dari sejarah dan budaya masyarakat Tiongkok.

Hidangan ini sudah berkembang selama berabad-abad. Masyarakatnya telah melestarikan Bacang untuk tak hanya menjadi sekadar makanan. Selama berabad-abad lamanya, Bacang memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat Tiongkok.

Bakcang terbuat dari beras ketan yang dimasak. Kemudian, di dalamnya ada isian beberapa bahan seperti daging babi, jamur, kacang merah, atau juga teratai. Hidangan ini menjadi khas karena bahan pembungkus luarnya adalah daun bambu.

Festival Perahu Naga

dragon boat festival atau perahu naga

Tradisi yang melekat pada Bacang adalah Festival Perahu Naga atau Dragon Boat. Festival ini adalah peringatan tahunan yang ada pada hari kelima di bulan kelima dalam kalender lunar Tiongkok.

Festival bertujuan untuk mengenang satu tokoh penyair sekaligus pejabat yang ada di periode negara-negara Berperang. Tokoh tersebut adalah Qu Yuan. Dia menjadi sosok yang aktif dengan kecintaannya pada negara dan usaha melawan korupsi.

Hanya saja, setelah sekian lama perjuangannya melawan kezaliman di negerinya, akhirnya ia pun diasingkan dari istana. Tak hanya itu, ia pun harus rela melihat negerinya jatuh ke tangan musuh. Hal ini tentu membuat dirinya sangat bersedih. Kesedihan itu membawanya pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Ia pun melompat ke Sungai Miluo.

Melihat hal tersebut, rakyat setempat yang memiliki rasa hormat dan sayang pada Qu Yuan, berusaha untuk menyelamatkannya. Mereka pun mendayung perahu-perahu untuk mencari jasadnya. Hal ini pula yang menjadi asal mula adanya lomba perahu naga.

Tak hanya itu, mereka tetap berusaha mencari jasad Qu Yuan. Mereka kemudian melemparkan nasi yang dibungkus dengan daun ke sungai. Hal ini bertujuan agar ikan-ikan yang ada di sungai tak memakan jasad Qu Yuan.

Pelemparan nasi yang dibungkus daun ke dalam sungai inilah yang menjadi cikal bakal adanya Bacang di kehidupan masyarakat Tiongkok saat itu. Bacang menjadi simbol penghormatan dan persembahan masyarakat setempat kepada Qu Yuan yang mereka hormati dan sayangi.

Bacang dan Sebutan “Kue”

Mungkin Anda pernah bertanya-tanya, mengapa ada banyak orang yang menyebutnya kue bacang. Padahal kan bukan seperti kue adonan tepung pada umumnya. Meskipun Bacang sebenarnya adalah hidangan berbasis beras ketan, di Indonesia sering kali makanan ini disebut “kue.” Hal ini karena bentuk Bacang yang dibungkus daun bambu dan proses pembuatannya yang mirip dengan makanan tradisional lainnya seperti lemper atau arem-arem. Sebutan “kue” juga mencerminkan adaptasi bahasa yang digunakan untuk menjelaskan hidangan tradisional ini. Namun, secara kuliner, Bacang lebih tepat dikategorikan sebagai makanan berbasis nasi ketan.

Makna Filosofis Bacang

Bakcang juga memiliki makna dari setiap simbol yang melekat padanya. Misalnya seperti pada bentuk Bakcang yang berbentuk segitiga. Masyarakat Tiongkok kerap menerjemahkan bentuk segitiga ini sebagai lambang gunung. Gunung menjadi lambang akan harapan untuk mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan.

Isian Bacang juga mencerminkan makna keberagaman. Isian bisa dari beberapa jenis bahan makanan. Sebut saja dari daging babi, jamur, kacang merah, dan juga teratai melambangkan tentang ragam kekayaan budaya masyarakat Tiongkok sendiri.

Beberapa keluarga dari masyarakat Tiongkok menjadikan resep Bacang ini sebagai resep rahasia keluarga. Mereka mewariskannya secara turun-temurun kepada generasi mereka. Kegiatan membuat hidangan ini juga menjadi satu agenda keluarga yang bisa bermakna untuk merekatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan.

Hidangan ini di beberapa daerah yang ada di Tiongkok menjadi sajian spesial untuk penghormatan kepada leluhur. Karena mereka menganggap Bacang sebagai cara untuk menjaga hubungan dan keeratan dengan masa lalu dan tradisi nenek moyang mereka.

Anggapan Bakcang sebagai makanan tradisional juga memunculkan rasa melestarikan budaya sendiri bagi masyarakat Tiongkok saat membuat atau pun menyantapnya. Hidangan tradisional yang tak hanya bermakna makanan saja, namun juga sebagai cara melestarikan budaya yang ada di masa lalu agar tetap bisa dinikmati oleh generasi saat ini.

Variasi Bacang di Berbagai Wilayah

Bacang memang berawal dari Tiongkok. Hanya saja, saat ini, makanan ini sudah berkembang dan bisa dinikmati oleh banyak masyarakat di berbagai negara. Bahkan, terdapat komunitas Tionghoa di beberapa negara yang memiliki penghormatan untuk makanan tradisional yang satu ini. Sebut saja komunitas yang ada di negara Indonesia, Malaysia, atau Singapura.

Hidangan tradisional Tiongkok ini saat berada di negara lain mulai untuk berkembang dengan kekhasan preferensi lokal. Demikianlah yang terjadi yang membuat Bacang memiliki variasi rasa dan isi yang berbeda sesuai dengan daerah ia berkembang.

Perkembangan Bakcang berkaitan dengan isian dari makanan itu sendiri. Karena memang isian yang beragam. Setiap ragam isian memunculkan makna kekhasan dari daerahnya masing-masing. Sedangkan untuk bahan dasar masih terbuat dari bahan yang sama yaitu ketan.

Sebut saja Bakcang yang berkembang di wilayah utara Tiongkok. Di daerah ini, isian yang banyak berkembang adalah isian dengan rasa manis yang didominasi oleh bahan seperti kacang merah atau kurma. Hal ini terkait dengan kekhasan di daerah ini yaitu dua jenis makanan ini.

Sedangkan di wilayah selatan Tiongkok memiliki perbedaan dengan wilayah utara ini. Bacang di daerah selatan Tiongkok lebih sering menggunakan isian dengan bahan seperti daging babi, kuning telur asin, dan jamur.

Tak hanya di daerah asalnya, Bacang juga berkembang di dalam negeri, yaitu di Indonesia. Makanan ini pun berkembang dengan penyesuaian cita rasa khas masyarakat lokal. Jika pernah mencoba Bacang dari Tiongkok dengan Bacang di Indonesia, pasti ada perbedaan rasa. Di Indonesia, memiliki rasa yang lebih gurih manis karena tambahan kecap manis. Dan juga ada banyak yang disisipkan cabai agar menjadi pedas. Selain itu, di Indonesia kita bisa banyak menemukan bacang dengan isian daging ayam atau sapi cincang. Dengan penggunaan beberapa bahan ini, Bacang memiliki rasa khas Nusantara tanpa meninggalkan kekhasan aslinya.

Kesimpulan

Inilah Bacang yang menjadi salah satu makanan lezat dari daratan Tiongkok. Tak hanya berperan sebagai sebatas makanan saja, Bacang juga memiliki makna filosofis mendalam. Hidangan ini memiliki hubungan erat dengan budaya masyarakat Tiongkok yang berusaha untuk dilestarikan saat ini. Pelestariannya juga untuk menjaga rasa kebersamaan dan kekeluargaan.